Ketua Apkori Nilai Kemelut Pelatnas Panahan Tidak Perlu Terjadi

Sabtu, 22 Agustus 2020 | 14:38 WIB
HS
CP
Penulis: Hendro Dahlan Situmorang | Editor: PAAT
Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Djoko Pekik Irianto.
Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Djoko Pekik Irianto. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia (Apkori), Djoko Pekik Irianto merasa prihatin dengan kemelut pelatnas panahan Olimpiade. Mantan Deputi IV Kementerian Pemuda dan Olahraga ini mengetahui persis bahwa permasalahan pelatnas ini sering terjadi. Djoko menilai kemelut tersebut semestinya tidak perlu terjadi.

"Terus terang, saya sangat prihatin karena permasalahan pelatnas panahan saat ini muncul kembali. Ini tidak perlu terjadi apalagi persiapan menghadapi Olimpiade Tokyo 2021 dimana persaingan sangat ketat untuk mendapatkan medali. Polemik yang terjadi harus diselesaikan dan ada solusi terbaik," kata Djoko ketika dikonfirmasi Sabtu (22/8/2020).

Seperti diketahui PB Perpani mencoret Riau Ega Agata Salsabila, Diananda Choirunisa dan Asiefa Nur Haensa dengan alasan indisipliner dan memaksakan kehendak mempertahankan Denny Trisjanto sebagai pelatihnya. Riau Ega dan Diananda sejatinya sudah membuktikan kemampuannya.

Tiket ke Olimpiade Tokyo 2021 itu diraih setelah Riau Ega yang akrab dipanggil Sinchan meraih medali perunggu nomor recurve putra dan Diananda Choirunisa yang panggilan akrabnya Anis mendapatkan perak nomor recurve putri.

"Atlet adalah aset bangsa dan negara, apalagi mereka yang terbaik dan berjasa mendapatkan tiket ke Olimpiade Tokyo 2021 Jadi, PB Perpani harus mengutamakan kepentingan negara yang menginginkan prestasi maksimal di Tokyo nanti," tegas Djoko.

Djoko juga menyesalkan sikap Ketua Umum PB Perpani, Illiza Sa'aduddin yang tetap ngotot dengan keputusan mencoret ketiga atet Jawa Timur tersebut dan tidak memenuhi permintaan mereka mempertahankan pelatih Denny Trisjanto.

"Ketum PB Perpani perlu data yang valid dengan mengajak bicara semua pihak termasuk atlet. Pelatih memang harus punya modal utama kompetensi kognitif dan skill, namun jangan dilupakan aspek psikososial (misalnya kecocokan dengan atlet)," ungkap Djoko.

Dalam penyelesaian polemik pelatnas panahan Olimpiade, Djoko meminta KONI Pusat berkoordinasi dengan KONI Jawa Timur dan Denny Trijanto yang juga Ketua Pengprov Perpani Jawa Timur. Sebab KONI Jatim dan Pengprov Jatim telah menjalankan komitmen dengan program pemusatan atlet daerah sejak SEA Games Manila 2019 dalam upaya mempertahankan performance ketiga atlet andalannya yang bakal diterjunkan pada PON Papua 2021.

"Jangan biarkan kemelut ini berkepanjangan. KONI Pusat harus koordinasi dengan KONI Jatim dan Denny untuk menyelsaikan sehingga pelatnas panahan Olimpiade bisa berjalan dengan kondusif dan keinginan mencapai prestasi di Tokyo nanti bisa terwujud. Soal pelaksanaan pelatnas dilakukan dengan sentralisasi atau desetralisasi tinggal dipilih saja mana yang terbaik di tengah pandemi Covid 19 ini," imbuh Djoko.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon