KNKT: Piper tidak Harus Memiliki Black Box

Senin, 27 Agustus 2012 | 15:46 WIB
AN
B
Penulis: Antara/ Ratna Nuraini | Editor: B1
Pesawat tipe PA31 Piper Navajo Chieftain yang hilang di pedalaman Kalimantan Timur. (flightglobal.com)
Pesawat tipe PA31 Piper Navajo Chieftain yang hilang di pedalaman Kalimantan Timur. (flightglobal.com)
KNKT menyatakan, pihaknya mulai melakukan penyelidikan jatuhnya pesawat itu.

Pihak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan bahwa untuk pesawat sejenis Piper PA-31 Piper Navajo Chief Tain milik PT Intan Angkasa tidak ada keharusan untuk memiliki black box.

Hal itu disampaikan Investigator KNKT Kapten Khairuddin di Posko Penanggulangan Pencarian Korban Pesawat Jatuh di Bandara Temindung Samarinda, hari ini.

"Pesawat berpenumpang di bawah 19 orang tidak termasuk yang direkomendasikan harus memiliki 'black box'. Tapi, kami belum tahu sebab pesawat berpenumpang di bawah 19 orang bukan mandatari," tuturnya.

Pihak KNKT juga, menurut Kapten Khairuddin, belum mengetahui bagaimana kondisi ELT (emergency locator transmitter) pesawat yang jatuh tersebut.  "Kami belum mengetahui bagaimana kondisi ELT pesawat itu. Apakah sudah hancur atau tidak. Salah satu alat yang sempat dibawa tim SAR dari lokasi jatuhnya pesawat itu adalah altimeter atau alat pengukur ketinggian. Tapi, kondisinya terbakar sehingga tidak bisa dibaca," kata Kapten Khairuddin.

Pesawat milik PT Intan Angkasa jenis PA31 Piper Navajo Chief Tain dengan nomor registrasi PK-IWH yang dicarter Elliot Geophysics International itu sedang melakukan pemetaan di salah satu area perusahaan tambang batu bara di Kota Bontang, dilaporkan telah kehilangan kontak sejak Jumat (24/8) pagi sekitar pukul 08.04 Wita.

Pesawat survei dengan pilot Capt Marshal Basir berpenumpang tiga orang, yakni Peter John Elliott selaku General Manager Elliot Geophysics International, seorang surveyor, Jandri Hendrizal, serta pendamping dari Kementerian Pertahanan RI, Kapten Suyoto, diketahui 'take off' atau lepas landas dari Bandara Temindung Samarinda pada Jumat pagi sekitar pukul 07.51 Wita, dan dipastikan hilang pada Jumat siang sekitar pukul 13.51 Wita.

Pesawat buatan Amerika pada 1978 itu akhirnya ditemukan dalam kondisi hancur dan terbakar di lereng Gunung Mayang, Kabupaten Kutai Timur, pada Minggu (26/8) sekitar pukul 17. 25 Wita.

Tiga penumpang dan pilot pesawat itu tewas dan mayatnya langsung dievakuasi ke RSUD AW Sjahranie Samarinda pada Senin dinihari sekitar pukul 02. 55 untuk proses identifikasi.
 
Mulai penyelidikan


Pada kesempatan itu, KNKT juga menyatakan pihaknya mulai melakukan penyelidikan jatuhnya pesawat Piper PA-31 Piper Navajo Chief Tain milik PT Intan Angkasa.

"Hari ini kami baru ke lokasi, namun saya belum tahu berapa lama waktu ditempuh menuju lokasi," ungkapnya.

Dari pantauan, dua anggota KNKT itu terlihat tiba di Bandara Temindung Samarinda pada Senin siang sekitar pukul 14. 00 Wita. Selanjutnya, sekitar pukul 14. 27 Wita, kedua investigator KNKT, yakni Kapten Khairuddin dan Hendri, meninggalkan Bandara Temindung menuju lokasi jatuhnya pesawat milik PT Intan Perkasa di Gunung Mayang, Kabupaten Kutai Timur menggunakan heli MD 500.

"Kami hanya akan melihat bagaimana kondisi pesawat itu di antaranya, sayapnya bagaimana serta bagaimana mesinnya. Sejauh ini, kami belum memiliki gambaran awal tentang pesawat yang jatuh tersebut. Tujuan kami ke sini hanya untuk mengumpulkan data-data terkait jatuhnya pesawat itu dan hasilnya akan dievaluasi di Jakarta, sehingga hanya itu yang bisa saya sampaikan," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon