November, DKI Rancang Tanggul Laut Raksasa

Kamis, 30 Agustus 2012 | 17:08 WIB
LH
B
Banjir rob di Jakarta
Banjir rob di Jakarta (Antara)
Pembangunan Giant Sea Wall ini selama 10 tahun, atau tahun 2025 tanggul laut raksasa sudah beroperasi menahan rob laut.

Rencana pembuatan tanggul  laut raksasa (giant sea wall) yang diprakarsai Pemprov DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Rotterdam (Belanda) akan memasuki pembuatan Masterplan Giant Sea Wall.

Saat ini, pihak Pemerintah Kota Rotterdam sedang melakukan tender konsultan pembuatan pekerjaan masterplan Giant Sea Wall di Belanda. Ditargetkan pertengahan November sudah bisa ditentukan pemenang lelang konsultan, sehingga pada akhir November 2012 pengerjaan masterplan sudah bisa dilaksanakan di Indonesia.

Pembangunan Giant Sea Wall ini membutuhkan waktu 10 tahun, atau paling tidak tahun 2025 tanggul laut raksasa sudah beroperasi menahan rob laut.

Asisten Deputi Menteri Urusan Infrastruktur Sumber Daya Air Kementerian Kpordinator bidang Perekonomian Purba Robert M Sianipat menerangkan Belanda telah menyelesaikan pembuatan konsep stratetis perencanaan tanggul laut raksasa. Kemudian langkah pembangunan tanggul laut raksasa ini dilanjutkan dengan proses tender konsultan untuk pembuatan pekerjaan masterplan Giant Sea Wall.

“Karena dananya itu merupakan dana grand (hibah) dari Belanda, maka lelangnya dilakukan di Belanda. Namun tetap, konsultan tersebut tetap harus ada orang Indonesia di dalamnya. Setelah ditentukan pemenang lelangnya, maka pembuatan masterplan dilakukan di Jakarta,” kata Robert di sela-sela acara Indonesia International Infrastrukture Conference and Exhibition 2012 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (30/8).

Diharapkannya, akhir November ini pengerjaan masterplan Giant Sea Wall sudah bisa dilaksanakan. Pengerjaan masterplan diberikan waktu selama dua tahun, sehingga pada tahun 2014 pembuatan masterplan giant sea wall sudah bisa rampung.

“Jadi selama giant sea wall belum dibangun, kita lakukan penguatan tanggul yang eksisting. Seperti tanggul di Pasar Ikan. Kalau itu jebol, maka banjir akan melanda wilayah Jakarta Pusat. Jadi selama dua tahun pengerjaan masterplan, kita lakukan penguatan tanggul eksisting,” paparnya.

Menurutnya, pembangunan giant sea wall merupakan kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi bagi Kota Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia. Sebab penurunan permukaan tanah di DKI Jakarta sudah cukup parah, yaitu antara 10-20 senti meter pertahun.

Bahkan di daerah utara Jakarta sudah terjadi penurunan permukaan tanah sebesar 4,1 meter. Tidak hanya itu, hampir 40 persen daratan di DKI Jakarta sudah berada dibawah permukaan air laut.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan Jakarta memiliki beberapa tantangan penting dan ini termasuk memberikan kehidupan dan lingkungan kerja yang lebih baik, kompetensi teknologi yang lebih tinggi dan infrastruktur yang lebih baik untuk memastikan Jakarta aman terhadap bencana.

Salah satu proyek infrastruktur yang direncanakan adalah pengembangan Teluk Jakarta,.Gagasan inti di Teluk Jakarta adalah untuk membangun tanggul laut raksasa atau Giant Sea Wall dengan dana sekitar 5 miliar dolar Amerika, yang akan menjadi multi fungsi.

“Pemprov DKI telah mengambil kesempatan ini untuk memanfaatkan tanggul besar yang rencananya akan dibangun untuk penggunaan serbaguna publik dan ekonomi. Ini termasuk memanfaatkan daerah di dalam tanggul sebagai daerah bendungan air tawar untuk memproses dan memasok air bersih untuk kebutuhan kota, dan juga akan mencakup sebuah pabrik pengolahan air limbah,” paparnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon