Amerika dan Tiongkok Berniat Seret Indonesia dalam Konflik Geopolitik

Kamis, 22 Oktober 2020 | 13:38 WIB
YS
FB
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: FMB
Gambar yang diambil tanggal 13 Mei 2014 dari sebuah kapal penjaga pantai Vietnam menunjukkan kapal penjaga pantai Tiongkok (kanan) berlayar dekat lokasi pengeboran minyak Tiongkok di perairan yang disengketakan di Laut Cina Selatan.
Gambar yang diambil tanggal 13 Mei 2014 dari sebuah kapal penjaga pantai Vietnam menunjukkan kapal penjaga pantai Tiongkok (kanan) berlayar dekat lokasi pengeboran minyak Tiongkok di perairan yang disengketakan di Laut Cina Selatan. (AFP Photo / Hoang Dinh Nam)

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia hingga saat ini terjepit dalam kepentingan dua negara besar yang terus melakukan tekanan dan determinasi. Kedua negara tersebut adalah Amerika dan Tiongkok yang hingga saat ini terus berseteru hingga ke persoalan Laut Cina Selatan.

"Ada dua negara yang punya kepentingan, kemampuan dan niat mengganggu national interest Indonesia. Dua negara itu adalah global leaders, determinasi global leaders. Satu geopolitik Amerika yang menggunakan security approach militer, yang kedua Tiongkok menggunakan security approach determinity," kata Tenaga Profesional Bidang Strategi dan Hubungan Internasional Lemhannas, Laksda TNI (Purn) Robert Mangindaan, dalam seminar nasional Lemhannas "Lanskap Geopolitik di Era Covid-19 : Memikirkan Ulang Konsep Ketahanan Nasional", di Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Dirinya mengingatkan, kedua negara tersebut memiliki kekuatan nyata yang bisa digunakan sewaktu-waktu untuk menarik Indonesia masuk dalam kepentingannya. Jika tidak hati-hati maka Indonesia bisa saja terseret dalam kepentingan dua negara tersebut.

"Pihak sana punya kekuatan nyata, bisa digunakan seefektif mungkin. Indonesia diserang berbagai masalah, mulai dari masalah lingkungan, buruh, dan lain-lain," ujarnya.

Menurutnya, kedua negara tersebut, terutama Tiongkok jauh-jauh hari juga sudah mempersiapkan legal warfare dalam menyeret Indonesia masuk dalam konflik Laut Cina Selatan. Legal warfare tersebut bisa saja menyebabkan Indonesia tidak bisa berbuat apa-apa manakala muncul klaim di Laut Cina Selatan.

"Negara besar (Amerika dan Tiongkok) sudah lama menyiapkan legal warfare (panggung hukum). Geopolitik dua negara itu menggunakan kekuatan nyata yang sudah dipersiapkan. Kekuatan nyata Tiongkok adalah psychocultural dan dijadikan senjata dalam geopolitik," ujarnya.

Menurutnya, Tiongkok menyiapkan diri untuk legal warfare seperti di Laut Cina Selatan dan kawasan-kawasan yang masih berkonflik lainnya. Mengklaim Laut Cina Selatan bisa jalan terus karena memang negara tersebut sudah mempersiapkan itu.

"Kita jangan tersita masalah pandemi, karena kita tidak bisa lupa saat ini tengah berlangsung trade war, tapi juga perang control global supply chain, currency war. Kita khawatir nusantara ini menjadi battle chance kepentingan Amerika dan Tiongkok," ujarnya.

Karena kondisi itu, jangan sampai Indonesia justru masuk ke dalam skenario kedua negara tersebut. Geopolitik Indonesia harus memberikan kenyamanan kepada masyarakat di tengah jepitan geopolitik Amerika dan Tiongkok agar tidak terjadi gejolak sehingga memudahkan menyeret Indonesia masuk dalam konflik.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon