Dana FLPP Rentan Penyimpangan
Jumat, 31 Agustus 2012 | 22:51 WIB
Dengan terhambatnya penyerapan FLPP, pendapatan bunga sebesar Rp 90 miliar, menjadi tidak jelas pengaturannya.
Dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang masih terparkir di bank-bank pelaksana rentan penyimpangan.
Hingga akhir 2012, penyerapan dana subsidi untuk rumah murah itu diprediksi hanya mencapai 20% dari target untuk 130 ribu rumah.
Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda Ali mengatakan, dengan minimnya penyerapan FLPP, terdapat sisa dana penempatan FLPP yang cukup besar yang kini berada di bank-bank pelaksana.
"Per Agustus 2012, diperkirakan masih ada dana penempatan FLPP sebesar Rp 1,8 triliun di beberapa bank pelaksana," ujar Ali.
Berdasarkan mekanisme yang ada, kata Ali, dana tersebut ditempatkan pemerintah di bank pelaksana dengan bunga sebesar 5,5% per tahun.
Bila penyerapan FLPP lancar, faktor bunga relatif akan menjadi bagian dari skema FLPP secara keseluruhan.
Namun dengan terhambatnya penyerapan FLPP, pendapatan bunga sebesar Rp 90 miliar, menjadi tidak jelas pengaturannya.
"Besar nya dana tersebut sehar usnya dapat diakumulasi ke dana penempatan FLPP di masing-masing bank. Tetapi itu tidak terjadi," kata Ali.
Ketidakjelasan mekanisme yang ada mengakibatkan dana tersebut rentan terhadap penyimpangan. Sampai sejauh ini belum ada laporan ke mana aliran bunga dana kelolaan FLPP tersebut.
"Seharusnya dana itu dapat diawasi lebih baik agar terhindar dari kasus penggunaan untuk kepentingan golongan tertentu," saran dia.
Lebih jauh Ali menuturkan, realisasi FLPP diperkirakan hanya mencapai 20% dari target. Jumlah itu belum memasukkan kemungkinan MK mengabulkan uji materiil terhadap aturan batasan luas rumah.
"Kalaupun tahun ini putusan MK dikabulkan, target juga tidak akan tercapai. Pasar baru bergerak pada tahun depan," tandas dia.
Berdasarkan data yang diperoleh IPW, penyaluran FLPP tahun 2011 mencapai Rp 3,7 triliun untuk 109.592 unit.
Jumlah ini melonjak dibandingkan penyaluran FLPP tahun 2010 yang hanya mencapai Rp 242 miliar untuk 7.959 unit.
Bank BTN menyalurkan 99,8% dari jumlah unit atau sebesar 93,5% dari total nilai penyaluran FLPP.
Namun, per Agustus 2012 penyerapan FLPP hanya sebanyak 21.857 unit atau hanya 15,26% dari target 143.200 unit.
Sebesar 89,8% merupakan realisasi dari BTN dan 8,7% BTN Syariah. Sedangkan sisanya terbagi dalam empat bank pelaksana, yaitu Bukopin, BNI, Bank Mandiri, BRI, dan BRI Syariah.
Dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) yang masih terparkir di bank-bank pelaksana rentan penyimpangan.
Hingga akhir 2012, penyerapan dana subsidi untuk rumah murah itu diprediksi hanya mencapai 20% dari target untuk 130 ribu rumah.
Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda Ali mengatakan, dengan minimnya penyerapan FLPP, terdapat sisa dana penempatan FLPP yang cukup besar yang kini berada di bank-bank pelaksana.
"Per Agustus 2012, diperkirakan masih ada dana penempatan FLPP sebesar Rp 1,8 triliun di beberapa bank pelaksana," ujar Ali.
Berdasarkan mekanisme yang ada, kata Ali, dana tersebut ditempatkan pemerintah di bank pelaksana dengan bunga sebesar 5,5% per tahun.
Bila penyerapan FLPP lancar, faktor bunga relatif akan menjadi bagian dari skema FLPP secara keseluruhan.
Namun dengan terhambatnya penyerapan FLPP, pendapatan bunga sebesar Rp 90 miliar, menjadi tidak jelas pengaturannya.
"Besar nya dana tersebut sehar usnya dapat diakumulasi ke dana penempatan FLPP di masing-masing bank. Tetapi itu tidak terjadi," kata Ali.
Ketidakjelasan mekanisme yang ada mengakibatkan dana tersebut rentan terhadap penyimpangan. Sampai sejauh ini belum ada laporan ke mana aliran bunga dana kelolaan FLPP tersebut.
"Seharusnya dana itu dapat diawasi lebih baik agar terhindar dari kasus penggunaan untuk kepentingan golongan tertentu," saran dia.
Lebih jauh Ali menuturkan, realisasi FLPP diperkirakan hanya mencapai 20% dari target. Jumlah itu belum memasukkan kemungkinan MK mengabulkan uji materiil terhadap aturan batasan luas rumah.
"Kalaupun tahun ini putusan MK dikabulkan, target juga tidak akan tercapai. Pasar baru bergerak pada tahun depan," tandas dia.
Berdasarkan data yang diperoleh IPW, penyaluran FLPP tahun 2011 mencapai Rp 3,7 triliun untuk 109.592 unit.
Jumlah ini melonjak dibandingkan penyaluran FLPP tahun 2010 yang hanya mencapai Rp 242 miliar untuk 7.959 unit.
Bank BTN menyalurkan 99,8% dari jumlah unit atau sebesar 93,5% dari total nilai penyaluran FLPP.
Namun, per Agustus 2012 penyerapan FLPP hanya sebanyak 21.857 unit atau hanya 15,26% dari target 143.200 unit.
Sebesar 89,8% merupakan realisasi dari BTN dan 8,7% BTN Syariah. Sedangkan sisanya terbagi dalam empat bank pelaksana, yaitu Bukopin, BNI, Bank Mandiri, BRI, dan BRI Syariah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




