Trend Micro Bidik Segmen Pemerintahan
Selasa, 4 September 2012 | 11:03 WIB
Penerapan mengenai cloud security di Indonesia masih pada tahap awal
Berdasarkan TechNavio's Global Cloud Security Software Market Report 2012, Trend Micro memimpin pasar global cloud security, dengan pangsa pasar sekitar 13-17 persen, dan global virtualization security sekitar 10-12 persen.
Di Indonesia, saat ini Trend Micro fokus menyasar segmen pemerintahan.
“Secara global, segmen pemerintahan berkontribusi sekitar 55 persen terhadap pendapatan Trend Micro, meski demikian kami juga kuat di segmen komersial. Hal ini dibuktikan dengan laporan TechNavio yang menyatakan saat ini kami menjadi nomor satu untuk cloud security dan virtualization security,” kata Country Manager and Regional Director South East Asia Region Trend Micro, David Rohan kepada Investor Daily di Jakarta.
David menerangkan, Trend Micro berhasil menerapkan proyek cloud security untuk beberapa lembaga pemerintahan di Singapura dan Malaysia.
Setelah mempunyai kantor perwakilan di Indonesia pada Desember 2011, Tren Micro berharap dapat mengulang keberhasilan adopsi cloud security dua negara tersebut, di tanah air.
“Target kami adalah menjadi IT advisor untuk pemerintah Indonesia, kami ingin mereplikasi kesuksesan yang sudah kami capai di negara-negara maju,” jelas dia.
Menurut David, di Singapura, keberhasilan Trend Micro dalam aplikasi cloud security, dikarenakan pemerintah Singapura yang telah sadar akan isu-isu keamanan seperti, serangan cyber.
Sedangkan untuk di Indonesia, lanjut dia, penerapan mengenai cloud security
masih berada pada tahap yang dini.
“Kami memang belum ada pembicaraan dengan pemerintah Indonesia, namun untuk bisa ke sana, Trend Micro telah melakukan berbagai upaya pengenalan cloud security lewat berbagai konferensi,” terang dia.
Laporan TechNavio, menunjukkan Trend Micro mampu mendominasi pasar, karena penguasaan diversifikasi jangkauan geografis basis pelanggan yang mapan, serta reputasi mereka.
Perseroan mempunyai beberapa mitra cloud dan penyedia layanan virtual seperti VMware, serta kemitraan dengan beberapa perusahaan seperti HP, Cisco, Dell, Microsoft, Oracle, dan Wipro.
Posisi pertama Trend Micro dalam global cloud security diikuti oleh McAfee dengan pangsa pasar sekitar 8-10 persen, dan CA Technologies yang berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 6-9 persen.
David menjelaskan, ke depannya Trend Micro akan terus mempertahankan fondasi yang kuat dalam solusi-solusinya, baik fisik, virtual, maupun komputasi awan.
“Saat ini untuk di Indonesia, selain segmen pemerintahan, kami juga membidik segmen enterprise dan Usaha Kecil Menengah (UKM), dari segi produk, kami menjangkau seluruh platform keamanan IT,” jelas David.
David menjelaskan, solusi-solusi keamanan Trend Micro yang paling diminati di pasar Tanah Air yaitu Trend Micro Deep Security, Deep Discovery, dan Secure Cloud.
Produk yang diluncurkan sejak tiga tahun lalu tersebut telah banyak digunakan oleh beberapa bank dan perusahaan telekomunikasi.
Selain itu, Tren Micro juga akan mempromosikan beberapa solusi untuk pasar konsumen.
“Trend Micro akan meluncurkan solusi untuk mobile market, karena kami lihat masyarakat di sini mulai banyak menggunakan smartphone dan mobile broadband, sehingga kemanan menjadi hal yang penting untuk mereka,” ujarnya.
Pada 2011, kata David, Interna tional Data Corporation (IDC) menemukan lebih dari 50 persen pemilik perusahaan, mencari dan mulai berencana mengadospi cloud untuk jangka waitu 12 hingga 24 bulan.
Dengan demikian, isu keamanan komputasi awan, khususnya di Asia Tenggara pada 2012 menjadi isu yang ‘panas'.
“Meski hacker kian pandai membobol data, Trend Micro sanggup menanganinya dengan berbagai solusi yang kami miiki,” tuturnya.
Ancaman Cyber
B2B International yang bekerja sama dengan Kaspersky Lab, mengumumkan survei yang melibatkan lebih dari 3.300 spesialis TI di 22 negara di seluruh dunia.
Penelitian tersebut menemukan ancaman cyber berada di urutan kedua di bawah ketidakpastian ekonomi, terkait risiko bisnis dewasa ini.
Kaspersky Lab memperkirakan dalam dua tahun mendatang ancaman cyber menjadi risiko nomor satu bagi bisnis.
Adapun tiga risiko kemanan TI yang paling dikhawatirkan adalah, pencurian hak intelektual (dipilih oleh 31 persen partisipan), penipuan (26 persen) dan kegiatan mata-mata industri (24 persen).
Survei tersebut juga mengemukakan, jika 41 persen perusahaan tahu bahwa mereka tidak siap menghadapi ancaman cyber.
Karena itu, penelitian ini menyarankan perlindungan yang efektif melawan tingkat kejahatan cyber adalah dengan mengimplementasikan kebijakan keamanan tunggal, serta membangun sistem yang komprehensif untuk selur uh infrastruktur TI.
Berdasarkan TechNavio's Global Cloud Security Software Market Report 2012, Trend Micro memimpin pasar global cloud security, dengan pangsa pasar sekitar 13-17 persen, dan global virtualization security sekitar 10-12 persen.
Di Indonesia, saat ini Trend Micro fokus menyasar segmen pemerintahan.
“Secara global, segmen pemerintahan berkontribusi sekitar 55 persen terhadap pendapatan Trend Micro, meski demikian kami juga kuat di segmen komersial. Hal ini dibuktikan dengan laporan TechNavio yang menyatakan saat ini kami menjadi nomor satu untuk cloud security dan virtualization security,” kata Country Manager and Regional Director South East Asia Region Trend Micro, David Rohan kepada Investor Daily di Jakarta.
David menerangkan, Trend Micro berhasil menerapkan proyek cloud security untuk beberapa lembaga pemerintahan di Singapura dan Malaysia.
Setelah mempunyai kantor perwakilan di Indonesia pada Desember 2011, Tren Micro berharap dapat mengulang keberhasilan adopsi cloud security dua negara tersebut, di tanah air.
“Target kami adalah menjadi IT advisor untuk pemerintah Indonesia, kami ingin mereplikasi kesuksesan yang sudah kami capai di negara-negara maju,” jelas dia.
Menurut David, di Singapura, keberhasilan Trend Micro dalam aplikasi cloud security, dikarenakan pemerintah Singapura yang telah sadar akan isu-isu keamanan seperti, serangan cyber.
Sedangkan untuk di Indonesia, lanjut dia, penerapan mengenai cloud security
masih berada pada tahap yang dini.
“Kami memang belum ada pembicaraan dengan pemerintah Indonesia, namun untuk bisa ke sana, Trend Micro telah melakukan berbagai upaya pengenalan cloud security lewat berbagai konferensi,” terang dia.
Laporan TechNavio, menunjukkan Trend Micro mampu mendominasi pasar, karena penguasaan diversifikasi jangkauan geografis basis pelanggan yang mapan, serta reputasi mereka.
Perseroan mempunyai beberapa mitra cloud dan penyedia layanan virtual seperti VMware, serta kemitraan dengan beberapa perusahaan seperti HP, Cisco, Dell, Microsoft, Oracle, dan Wipro.
Posisi pertama Trend Micro dalam global cloud security diikuti oleh McAfee dengan pangsa pasar sekitar 8-10 persen, dan CA Technologies yang berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 6-9 persen.
David menjelaskan, ke depannya Trend Micro akan terus mempertahankan fondasi yang kuat dalam solusi-solusinya, baik fisik, virtual, maupun komputasi awan.
“Saat ini untuk di Indonesia, selain segmen pemerintahan, kami juga membidik segmen enterprise dan Usaha Kecil Menengah (UKM), dari segi produk, kami menjangkau seluruh platform keamanan IT,” jelas David.
David menjelaskan, solusi-solusi keamanan Trend Micro yang paling diminati di pasar Tanah Air yaitu Trend Micro Deep Security, Deep Discovery, dan Secure Cloud.
Produk yang diluncurkan sejak tiga tahun lalu tersebut telah banyak digunakan oleh beberapa bank dan perusahaan telekomunikasi.
Selain itu, Tren Micro juga akan mempromosikan beberapa solusi untuk pasar konsumen.
“Trend Micro akan meluncurkan solusi untuk mobile market, karena kami lihat masyarakat di sini mulai banyak menggunakan smartphone dan mobile broadband, sehingga kemanan menjadi hal yang penting untuk mereka,” ujarnya.
Pada 2011, kata David, Interna tional Data Corporation (IDC) menemukan lebih dari 50 persen pemilik perusahaan, mencari dan mulai berencana mengadospi cloud untuk jangka waitu 12 hingga 24 bulan.
Dengan demikian, isu keamanan komputasi awan, khususnya di Asia Tenggara pada 2012 menjadi isu yang ‘panas'.
“Meski hacker kian pandai membobol data, Trend Micro sanggup menanganinya dengan berbagai solusi yang kami miiki,” tuturnya.
Ancaman Cyber
B2B International yang bekerja sama dengan Kaspersky Lab, mengumumkan survei yang melibatkan lebih dari 3.300 spesialis TI di 22 negara di seluruh dunia.
Penelitian tersebut menemukan ancaman cyber berada di urutan kedua di bawah ketidakpastian ekonomi, terkait risiko bisnis dewasa ini.
Kaspersky Lab memperkirakan dalam dua tahun mendatang ancaman cyber menjadi risiko nomor satu bagi bisnis.
Adapun tiga risiko kemanan TI yang paling dikhawatirkan adalah, pencurian hak intelektual (dipilih oleh 31 persen partisipan), penipuan (26 persen) dan kegiatan mata-mata industri (24 persen).
Survei tersebut juga mengemukakan, jika 41 persen perusahaan tahu bahwa mereka tidak siap menghadapi ancaman cyber.
Karena itu, penelitian ini menyarankan perlindungan yang efektif melawan tingkat kejahatan cyber adalah dengan mengimplementasikan kebijakan keamanan tunggal, serta membangun sistem yang komprehensif untuk selur uh infrastruktur TI.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




