21.000 Warga dari 26 Desa Terdampak Erupsi Ile Lewotolok Dievakuasi
Minggu, 29 November 2020 | 18:09 WIB
Kupang, Beritasatu.com - Sekitar 21.000 warga yang bermukim di 26 Desa di Kecamatan Ile Ape dan kecamatan Ile Ape Timur, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengungsi ke kota Lewoleba. Pemerintah Setempat menyediakan enam lokasi pengungsian guna menampung para pengungsi akibat erupsi gunung Ile Lewotolok, pada Minggu, (29/11/2020) pagi.
Para pengungsi di jemput oleh kendaraan yang disediakan oleh warga, maupun instansi pemerintah, TNI maupun Polri yang datang membantu evakuasi warga.
Proses evakuasi dilaksanakan dalam kondisi debu vulkanis yang sangat tebal yang juga menimpa kota Lewoleba. Bagi pengendara sepeda motor sangat kesulitan karena hujan debu vulkanik yang terus turun di dalam kota Lewoleba yang berjarak sekitar 25 km dari puncak Ile Lewotolok.
Ribuan pengungsi tersebut di arahkan ke enam lokasi yakni kantor perpustakaan daerah, kantor bupati lama, aula kantor Dinas pekerjaan umum, gerai maritim, ex rumah jabatan bupati lembata, gedung EDM dan aula ankara. Ada pula warga memilih mengungsi di rumah warga dan rumah keluarga.
Bupati Kabupaten Lembata, Eliazer Yentji Sunur, mengatakan, langkah kontijensi darurat telah diambil pemerintah dengan mengurus para pengungsi erupsi gunung Ile Lewotolok. Meski dalam kondisi darurat, Bupati Sunur meminta agar warga tetap menjalankan protokol kesehatan.
"Ini kondisi darurat tetapi kita mau pastikan warga pengungsi kita ditangani dengan baik. Saya juga minta meskipun ini kondisi darurat, namun mau atau tidak mau, suka atau tidak suka kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan mencegah wabah Covid-19. Ini banyak sekali kerumumanan masa. Saya juga minta Dinas Kesehatan untuk mememeriksa seluruh pengugsi untuk memastikan Kesehatan mereka terjaga dengan baik dari wabah covid-19," ujar Bupati Sunur.
Tim medis dikerahkan untuk memeriksa para pengungsi. Bagi pengungsi yang merasakan ada gejala Covid-19, langsung di pisahkan untuk dirawat di ruang khusus di kantor Perpustakaan daerah Lembata.
Pengungsi yang berada di kantor perpustakaan Daerah Lembata, sejumlah anggota TNI dan Polri beserta Forum Pengurangan Resiko Bencana dan BPBD setempat mendirikan tenda darurat dan dapur umum. Para pengungsi yang terlebih dahulu tiba di kota Lewoleba di arahkan untuk masuk dan menempati ruangan dikantor Perpustakaan daerah.
Salah seorang warga yakni Frederika Mariana Tuto, dari Desa Amakaka, kecamatan Ile Ale menuturkan detik-detik meletusnya Gunung Ile Lewotolok. Dia mengatakan erupsi gunung Ile Lewotolok diawali bunyi gemuruh dan dantuman keras seperti petir. Setelah itu disusul muntahan material letusan berupa batu dan pasir.
Menurut Frederika, Desanya Amakaka dan desa tetangganya, Desa Lamawara dan Bunga Muda adalah desa terdekat dengan puncak Ile Lewotolok. Material letusan seperti batu dan debu vulkanis turun dan memenuhi seisi desanya.
"Saat itu kami baru pulang dari gereja. Kami panik, karena banyak sekali batu, kerikil, pasir dan debu sangat banyak turun, setelah terdengar sebuah dentuman keras seperti petir disertai bunyi gemuruh dari puncak gunung Ile Lewotolok. Karena panik, kami lari tinggalkan rumah dengan menumpang mobil mobil yang sudah datang menjemput kami," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




