Survei Indo Barometer

Bobby-Aulia Berpeluang Menang pada Pilkada Medan

Selasa, 8 Desember 2020 | 09:34 WIB
MS
WM
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: WM
Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan, Bobby Nasution-Aulia Rachman dalam debat publik tahap ketiga di City Hall Hotel Medan, Sabtu (5/12/2020).
Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan, Bobby Nasution-Aulia Rachman dalam debat publik tahap ketiga di City Hall Hotel Medan, Sabtu (5/12/2020). (Beritasatu Photo)



Jakarta, Beritasatu.com - Pasangan calon Wali Kota-calon Wakil Wali Kota Medan, Bobby Nasution - Aulia berpeluang menjadi pemenang Pilkada Medan melawan pasangan Akhyar Nasution - Alfarisi. Peluang menangnya lebih besar walau harus diraih dengan kerja keras.

Berbeda dengan anak Jokowi, Gibran Rakabuming di Pilkada Surakarta yang ibaratnya berada di jalan tol, Bobby harus berada di jalan off road.

"Bagi Bobby dan Aulia ini jalan off road. Bisa dilewati tetapi hati-hati," kata M Qodari.

Tantangannya ada dua. Pertama, Bobby-Aulia berhadapan dengan petahana yakni Akhyar Nasution. Kedua, mereka berhadapan dengan apatisme pemilih. Partisipasi pemilih di pilkada Kota Medan 2015 saja cuma 25%. Itu rekor partisipasi pemilih paling rendah di Indonesia.

Apatisme ini dipengaruhi oleh kemuakan warga Medan atas para wali kotanya yang selalu menjadi terpidana korupsi. DariAbdillah, Harahap, hingga Zulmi Aldin, semuanya menjadi terpidana. Begitupun dengan kepala daerah tingkat provinsi.
Kondisi itu tercermin dari hasil riset Indo Barometer yang menemukan bahwa mayoritas responden masih merahasiakan pilihannya. Walau yang terbuka, paling banyak memilih pasangan Bobby-Aulia.

"Yang menjawab memilih Bobby 32%, menjawab memilih Akhyar 10%. Rahasia 27%, belum memutuskan 27%. Apakah ini nanti nyoblos atau tidak? Melihat pola sebelumnya, mereka tidak datang ke TPS," kata Qodari.

Sementara untuk elektabilitas pasangan Bobby-Aulia adalah di angka 32%. Sementara pasangan Akhyar-Salman Alfarisi di angka 9,8%.

"Memang Bobby dan Akhyar berbagi keunggulan di beberapa aspek. Malah Bobby relatif lebih dominan lebih banyak unggulnya. Bobby misalnya lebih unggul dalam tingkat pengenalan dan kesukaan," katanya.

Namun Bobby Nasution kurang diuntungkan oleh latar belakang politik di Kota Medan. Di mana PDI-P sebagai pengusung, bukanlah partai dominan dalam pemilu legislatif 2014 dan 2019. Sementara calon gubernur PDI-P kalah di Pilkada Gubernur 2013 dan 2018. Calon presiden PDI-P juga kalah di Pilpres 2014 dan 2019.

"Yang jelas kalau Medan, background politik di Medan itu warnanya kalau lampu itu agak kuning berbau merah. Kenapa? Di kota Medan PDI-P menang tetapi tidak dominan. Calon gubernurnya dari PDI-P kalah. Pak Jokowi juga dua kali kalah di kota Medan," ulasnya.

Politik Dinasti

Dan isu politik dinasti yang sempat digaungkan menghantam Bobby ternyata tak terlalu signifikan menurunkan elektabilitasnya. Sebagian besar warga (95,5%) mengaku tahu atau pernah mendengar informasi bahwa Bobby Nasution, menantu dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dia akan maju sebagai calon Wali Kota Kota Medan.

"Dari mereka yang tahu, sebanyak 79,3% dapat menerima Bobby Nasution maju sebagai calon Wali Kota. Yang tidak dapat menerima hanya 2,9%," kata Qodari.

Publik Medan menilai, setiap warga negara termasuk menantu Jokowi boleh menjadi calon kepala daerah, sama seperti warga negara lainnya. Selain itu, warga Medan melihat Bobby akan membawa perubahan, sosok yang pintar, dan merupakan putra daerah.

Hanya saja, kembali diingatkan oleh Qodari, tantangan utama adalah mengalahkan apatisme warga Kota Medan.
Survei dilaksanakan di 3 kota yakni Surakarta, Medan, dan Tangerang Selatan secara terpisah. Periode survei untuk Kota Surakarta 20-25 November 2020, Kota Medan 20-24 November 2020, dan Kota Tangerang Selatan 20-25 November 2020.

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden dengan menggunakan kuesioner. Jumlah responden di tiap kota 400 responden dengan margin of error + 4.9%, pada tingkat kepercayaan 95%. Metode penarikan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.

Populasi survei ini adalah warga negara Indonesia di Kota Surakarta, Medan, dan Tangerang Selatan dan sudah mempunyai hak pilih berdasarkan peraturan yang berlaku, yaitu warga yang minimal berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah pada saat survei dilakukan. Survei dibiayai sendiri oleh Indo Barometer sebagai partisipasi publik.

Survei tersebut dilaksanakan di tiga kota, yakni Surakarta, Medan, dan Tangerang Selatan secara terpisah. Untuk Surakarta, periode survei 20-25 November 2020.Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara tatap muka responden dengan menggunakan kuesioner, dengan jumlah responden di tiap kota sebanyak 400 responden.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon