Gereja Mahanaim dan Masjid Al-Muqorrabien Dijamin Tidak Digusur

Senin, 10 September 2012 | 14:52 WIB
LH
B
Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Jemaat Mahanaim dan Masjid Al-Muqorrabien
Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Jemaat Mahanaim dan Masjid Al-Muqorrabien (kabargereja.tk)
Tidak benar gereja dan masjid itu digusur. Barangkali disiarkan orang yang tidak ingin Jakarta aman.

Pemprov DKI menjamin keberadaan Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST) Jemaat Mahanaim dan Masjid Al-Muqorrabien sebagai simbol kerukunan umat beragama di Jakarta tetap akan dipertahankan.

Disebutkan oleh pihak Pemprov DKI, rencana pelebaran Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang berdampak pada penggusuran kedua tempat ibadah yang letaknya berdampingan ini, tidak akan dilakukan. Apalagi karena jemaat gereja dan masjid ini sudah lama hidup berdampingan menjalankan ibadah agama masing-masing tanpa ada gangguan apa pun.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, pelebaran jalan di Jakarta sudah melalui perencanaan matang dan tentunya telah tertuang dalam Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta. Artinya menurutnya, pelebaran jalan di Jalan Enggano sudah melalui perencanaan optimal. Dari perencanaan matang tersebut-lah menurutnya, kemudian diputuskan pelebaran Jalan Enggano dibatalkan.

"Lebar jalan di Jalan Enggano sudah optimal, sehingga saya kira tidak perlu ada lagi pelebaran jalan. Terlebih lagi, tidak boleh ada pelebaran jalan yang menghilangkan keberadaan salah satu simbol kerukunan umat beragama di Jakarta," kata Fauzi Bowo, di Jakarta, Senin (10/9).

Karena itu, Gubernur yang akrab disapa Foke itu meminta agar masyarakat sekitar serta jemaat gereja dan masjid, untuk tidak usah khawatir kehilangan tempat ibadah mereka. Sebab katanya, Pemprov DKI Jakarta akan mempertahankan dan melestarikan keberadaan dua tempat ibadah tersebut. Terutama lagi karena harmonisasi antar umat Kristen dan Muslim sudah terjadi selama enam dasawarsa.

"Kami akan terus mempertahankan simbol kerukunan umat beragama di Jakarta ini. Gereja dan masjid di Jalan Enggano ini menjadi lambang persatuan warga Jakarta. Mereka saling berdekatan, bersebelahan tapi tidak pernah terjadi gangguan antar umat. Ini yang patut dipelihara, dijadikan contoh simbol persatuan di Jakarta," tegasnya.

Namun, Foke mengingatkan warga Jalan Enggano agar tetap waspada terhadap oknum yang berupaya menggunakan kesempatan untuk merusak hubungan antar umat beragama yang telah terjalin puluhan tahun tersebut. Dia pun mengimbau warga untuk tak mudah terpancing dengan isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan berupaya merusak hubungan umat beragama di jalan tersebut.

"Jadi, tidak benar itu isu penggusuran. Barangkali disiarkan orang yang tidak ingin Jakarta aman. Warga jangan terpengaruh dengan isu-isu yang tidak benar. Jangan sampai hubungan umat beragama yang sudah terjalin dirusak begitu saja," tuturnya.

Ketua Yayasan Masjid Al-Muqorrabien, H Muhammad Tawakal Ajiz, menyambut baik keputusan Pemprov DKI untuk tetap mempertahankan keberadaan GMIST dan Masjid Al-Muqorrabien. Pihak masjid dan gereja sudah bertekad tidak memberikan kesempatan bagi pihak-pihak yang ingin menghancurkan spirit kerukunan antar kedua jemaat tersebut.

"Sampai tetes darah terakhir, masjid dan gereja (ini) akan kita pertahankan, apa pun risikonya. Kami tidak akan mundur sedikit pun, karena gereja dan masjid ini sudah melebihi saudara sekandung kedekatannya," tegasnya.

Sebelumnya, rencana pelebaran jalan tersebut telah dikeluarkan oleh Departemen Pekerjaan Umum RI dan Suku Dinas Tata Kota Jakarta Utara, melalui surat Rencana Pelebaran Jalan Enggano nomor 1224/-1.792.1, pada 26 Maret 2008 lalu.

Awalnya, direncanakan setelah pembangunan Jakarta Outer Ring Road (JORR), akan dilanjutkan dengan pelebaran Jalan Enggano menjadi 34 meter dan Garis Sempadan Bangunan (GSB) 10 meter. Juga pelebaran Jalan Terusan Bangka (samping kanan Gereja) sebesar 24 meter, dan GSB 8 meter.

GMIST Jemaat Mahanaim dan Masjid Al-Muqorrabien terletak di Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tepat di depan gerbang keluar-masuk pelabuhan Tanjung Priok Pos 8. Kedua banguanan ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan.

Gereja dibangun oleh beberapa mantan pelaut pada 1955, namun diresmikan pada Oktober 1957. Sementara Masjid Al-Muqorrabien dibangun pada 1957 oleh seorang mantan pelaut berdarah Kupang, H Abdul Ajiz, bersama beberapa kerabatnya.

Hingga kini, anggota jemaat masing-masing tempat ibadah tersebut mencapai hingga 4.000-an orang dan berasal dari beragam etnis, di antaranya Suku Sanger, Ambon, Batak, Jawa, Timor, Bali dan sebagainya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon