Sering Kerja Lembur Tingkatkan Risiko Serangan Jantung
Kamis, 13 September 2012 | 07:17 WIB
Risikonya 40 hingga 80 persen.
Sering bekerja lebih dari delapan jam sehari alias lembur meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 80 persen.
Demikian hasil studi terbaru yang dilakukan para peneliti dari Finlandia.
Selain penyakit jantung, para peneliti mengatakan, jam kerja yang panjang juga bisa memicu risiko terkena stroke.
Peringatan kesehatan ini dikemukakan setelah mereka melakukan 12 penelitian yang telah dilakukan sejak 1958.
Penelitian yang dilakukan para peneliti di Institut Kesehatan Kerja Finlandia yang melibatkan lebih dari 22.000 orang di seluruh dunia menemukan, mereka yang biasa bekerja lebih dari delapan jam sehari berisiko 40 persen hingga 80 persen lebih besar terkena penyakit jantung.
Ketua tim peneliti, Dr Marianna Virtanen mengatakan, efek negatif ini bisa disebabkan oleh “terlalu lama terpapar stres”. “Ada beberapa mekanisme potensial yang mungkin mendasari hubungan pengaruh jam kerja panjang dan penyakit jantung,” tulisnya.
Selain paparan stres psikologis, pemicu lainnya adalah meningkatnya hormon stres kortisol, kebiasaan makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik karena waktu luang terbatas.
Pada 2009, tim peneliti yang sama juga menemukan, bahwa jam kerja yang panjang meningkatkan risiko demensia di kemudian hari. Efeknya hampir sama dengan yang dihadapi para perokok aktif.
Bagi pekerja paruh baya yang mempunyai 55 jam atau lebih dalam seminggu, memiliki fungsi otak lebih buruk ketimbang mereka yang jam kerjanya tidak lebih dari 40 jam.
Fungsi otak ini, kata para peneliti, meliputi tingkat kecerdasan, memori jangka pendek dan kemampuan mengingat kata.
Beranjak dari temuan itulah, mereka memeringatkan para workaholik untuk bijak dalam mengatur waktu bekerja dan istirahatnya demi menjaga kesehatan tubuhnya.
Sering bekerja lebih dari delapan jam sehari alias lembur meningkatkan risiko penyakit jantung hingga 80 persen.
Demikian hasil studi terbaru yang dilakukan para peneliti dari Finlandia.
Selain penyakit jantung, para peneliti mengatakan, jam kerja yang panjang juga bisa memicu risiko terkena stroke.
Peringatan kesehatan ini dikemukakan setelah mereka melakukan 12 penelitian yang telah dilakukan sejak 1958.
Penelitian yang dilakukan para peneliti di Institut Kesehatan Kerja Finlandia yang melibatkan lebih dari 22.000 orang di seluruh dunia menemukan, mereka yang biasa bekerja lebih dari delapan jam sehari berisiko 40 persen hingga 80 persen lebih besar terkena penyakit jantung.
Ketua tim peneliti, Dr Marianna Virtanen mengatakan, efek negatif ini bisa disebabkan oleh “terlalu lama terpapar stres”. “Ada beberapa mekanisme potensial yang mungkin mendasari hubungan pengaruh jam kerja panjang dan penyakit jantung,” tulisnya.
Selain paparan stres psikologis, pemicu lainnya adalah meningkatnya hormon stres kortisol, kebiasaan makan yang buruk dan kurangnya aktivitas fisik karena waktu luang terbatas.
Pada 2009, tim peneliti yang sama juga menemukan, bahwa jam kerja yang panjang meningkatkan risiko demensia di kemudian hari. Efeknya hampir sama dengan yang dihadapi para perokok aktif.
Bagi pekerja paruh baya yang mempunyai 55 jam atau lebih dalam seminggu, memiliki fungsi otak lebih buruk ketimbang mereka yang jam kerjanya tidak lebih dari 40 jam.
Fungsi otak ini, kata para peneliti, meliputi tingkat kecerdasan, memori jangka pendek dan kemampuan mengingat kata.
Beranjak dari temuan itulah, mereka memeringatkan para workaholik untuk bijak dalam mengatur waktu bekerja dan istirahatnya demi menjaga kesehatan tubuhnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




