Presiden Myanmar Upayakan Pencabutan Sanksi AS
Senin, 24 September 2012 | 19:20 WIB
Kunjungan Thein Sein ke AS akan menjadi pertama kalinya bagi seorang kepala negara Myanmar.
Presiden Myanmar Thein Sein disinyalir berupaya mengakhiri sanksi-sanksi yang telah diberikan Amerika Serikat (AS), selama berkunjung ke negara Paman Sam pekan ini. Presiden Thein juga berniat membuka babak baru yang akan menguntungkan kedua negara, baik dari segi ekonomi maupun geostrategis.
Kunjungan Thein Sein ke AS akan menjadi pertama kalinya bagi seorang kepala negara Myanmar. Tindakan ini dimungkinkan tidak hanya menguntungkan Myanmar , namun dapat pula membantu AS mendongkrak sektor politik dan ekonominya di wilayah yang sedang bergerak maju.
AS diperkirakan akan melanjutkan pemberian bantuan pada Myanmar , setelah pada Rabu pekan kemarin mencabut sanksi individu pada Thein Sein. Konggres AS juga sudah menyetujui kebijakan yang akan memperkenankan Presiden Barack Obama mencabut larangan partisipasi AS dalam pemberian pinjaman untuk pembangunan, dari perusahaan finansial internasional.
Hal terpenting bagi Thein Sein adalah mennyingkirkan larangan AS atas impor produk dari Myanmar . Dengan demikian, diharapkan adanya peningkatan jumlah investasi asing sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Presiden Thein Sein meninggalkan Myanmar Senin(24/9) untuk bertandang ke Majelis Umum Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) di kota New York , AS.
Sebelumnya, pada pekan kemarin, Uni Eropa (EU) juga sepakat memberikan akses bagi Myanmar untuk masuk dalam Sistem Generalisasi Preferensi. Sistem ini mengijinkan negara-negara miskin untuk masuk pasar Eropa tanpa batasan kuota maupun kewajiban tertentu.
Penasehat Thein Sein, Ko Ko Hlaing, menyampaikan bahwa semua embargo akan menjadi fasilitator reformasi seperti yang diharapkan AS. “(kunjungan) dimaksudkan untuk melonggarkan batasan dan sanksi-sanksi. Karena akan menjadi penghalang dalam proses reformasi,” papar Ko Ko Hlaing.
Aung San Suu Kyi, pemimpin demokrasi Myanmar dan peraih Penghargaan Nobel Perdamaian, juga berpengaruh dalam sanksi-sanksi yang dihadapi Thein Sein. Suu Kyi berhasil menerima penghargaan tertingi dari Konggres AS , Rabu pekan kemarin. Dia juga menyampaikan penghormatan atas upaya reformasi yang dilakukan presiden Myanmar . Suu Kyi sudah mendahului kunjungan ke AS, dan bertemu Presiden Obama. Belum jelas mengenai rencana pertemuan Suu Kyi dengan Thein Sein, seperti direkomendasikan oleh Pusat Studi Internasional dan Strategi yang bermarkas di kota Washington , AS.
Mencatat populasi sebanyak 60 juta, Myanmar juga menawarkan kesempatan pada pihak korporasi di AS, dalam sektor energi, industri ekstraktif, layanan finansial, ritel, hotel, dan pariwisata. PepsiCo Inc, Coca-cola dan GE dikabarkan sudah mengatur pasar Myanmar.
Presiden Myanmar Thein Sein disinyalir berupaya mengakhiri sanksi-sanksi yang telah diberikan Amerika Serikat (AS), selama berkunjung ke negara Paman Sam pekan ini. Presiden Thein juga berniat membuka babak baru yang akan menguntungkan kedua negara, baik dari segi ekonomi maupun geostrategis.
Kunjungan Thein Sein ke AS akan menjadi pertama kalinya bagi seorang kepala negara Myanmar. Tindakan ini dimungkinkan tidak hanya menguntungkan Myanmar , namun dapat pula membantu AS mendongkrak sektor politik dan ekonominya di wilayah yang sedang bergerak maju.
AS diperkirakan akan melanjutkan pemberian bantuan pada Myanmar , setelah pada Rabu pekan kemarin mencabut sanksi individu pada Thein Sein. Konggres AS juga sudah menyetujui kebijakan yang akan memperkenankan Presiden Barack Obama mencabut larangan partisipasi AS dalam pemberian pinjaman untuk pembangunan, dari perusahaan finansial internasional.
Hal terpenting bagi Thein Sein adalah mennyingkirkan larangan AS atas impor produk dari Myanmar . Dengan demikian, diharapkan adanya peningkatan jumlah investasi asing sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Presiden Thein Sein meninggalkan Myanmar Senin(24/9) untuk bertandang ke Majelis Umum Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB) di kota New York , AS.
Sebelumnya, pada pekan kemarin, Uni Eropa (EU) juga sepakat memberikan akses bagi Myanmar untuk masuk dalam Sistem Generalisasi Preferensi. Sistem ini mengijinkan negara-negara miskin untuk masuk pasar Eropa tanpa batasan kuota maupun kewajiban tertentu.
Penasehat Thein Sein, Ko Ko Hlaing, menyampaikan bahwa semua embargo akan menjadi fasilitator reformasi seperti yang diharapkan AS. “(kunjungan) dimaksudkan untuk melonggarkan batasan dan sanksi-sanksi. Karena akan menjadi penghalang dalam proses reformasi,” papar Ko Ko Hlaing.
Aung San Suu Kyi, pemimpin demokrasi Myanmar dan peraih Penghargaan Nobel Perdamaian, juga berpengaruh dalam sanksi-sanksi yang dihadapi Thein Sein. Suu Kyi berhasil menerima penghargaan tertingi dari Konggres AS , Rabu pekan kemarin. Dia juga menyampaikan penghormatan atas upaya reformasi yang dilakukan presiden Myanmar . Suu Kyi sudah mendahului kunjungan ke AS, dan bertemu Presiden Obama. Belum jelas mengenai rencana pertemuan Suu Kyi dengan Thein Sein, seperti direkomendasikan oleh Pusat Studi Internasional dan Strategi yang bermarkas di kota Washington , AS.
Mencatat populasi sebanyak 60 juta, Myanmar juga menawarkan kesempatan pada pihak korporasi di AS, dalam sektor energi, industri ekstraktif, layanan finansial, ritel, hotel, dan pariwisata. PepsiCo Inc, Coca-cola dan GE dikabarkan sudah mengatur pasar Myanmar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




