Presiden Maladewa Diadili

Minggu, 30 September 2012 | 20:28 WIB
AD
B
Penulis: Angelina Donna | Editor: B1
Presiden terpilih pertama Maladewa, Mohamed Nasheed, terancam di penjara dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan
Presiden terpilih pertama Maladewa, Mohamed Nasheed, terancam di penjara dengan tuduhan penyalahgunaan kekuasaan (AFP)
Diancam hukuman penjara tiga tahun

Presiden terpilih pertama di Maladewa akan diadili atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, Senin (1/10) selama tujuh bulan setelah digulingkan dalam yang ia sebut kudeta di negara surga wisatawan itu.

Bulan madu mantan pemimpin Mohamed Nasheed dengan demokrasi multi-partai berakhir ketika ia digulingkan dalam pemberontakan polisi setelah menahan hakim ketua pengadian pidana atas tuduhan korupsi.

Nasheed (45 tahun) kini menghadapi ancaman hukuman tiga tahun penjara atau dibuang ke satu pulau terpencil di kepulauan itu tempat para turis membayar 12.500 dolar sehari untuk berlibur gaya Robinson Crusoe.

Mantan presiden itu menegaskan ia disingkirkan dalam satu"kudeta" yang melibatkan mantan wakulnya, Mohamed Waheed, yang sejak itu menjadi presiden.

"Kudeta itu belum selesai," kata Nasheed kepada AFP akhir pekan lalu setelah Partai Demokratik Maladewanya (MDP) melakukan unjuk rasa di ibu kota pulau itu Male Jumat untuk mengecam tuduhan-tuduhan terhadapnya.

Nasheed Januari memerintahkan hakim pengadilan pidana Abbdullah Mohamed ditahan atas tuduhan korupsi-- satu tindakan yang memicu protes yang dipimpin oposisi selama beberapa minggu dan berakhir dengan kejatuhannya setelah polisi memberontak.

Penghukuman terhadapnya oleh pengdilan dapat membatalkan ia ikut bertarung dalam peilihan presiden mendatang.

Tetapi, ia mengatakan: "Rakyat tidak akan mengizinkan pemerintah melakukan kecurangan dalam pemilu mendatang. Satu pemilihan yang bebas dan jujur adalah tujuan utama kita." Nasheed yang pro-Barat, yang mendApat perhatian internasional sebagai seorang pengampanye terhadap pemanasan global, mengatakan ia "tidak melihat ada peluang satu peradilan yang jujur dan adil, terutama dalam satu kasus politik seperti ini".

Orang yang membawa reformasi yang demokratis di negara berpenduduk 330.000 warga Sunni itu mengatakan ia yakin pengadilan negara itu masih setia kepada musuh bebuyutannya Maumoon Abdul Gayoom.

Basheed membentuk MDP yang dipimpinnya di pengasingan tetapi pulang ke negaranya disambut sebagai pahlawan, dengan meraih 54 peren suara dalam pemilu 2008 yang mengakhiri kekuasaa 30 tahun Gayoom.

"Anda dapat menjatuhkan seorang diktator dalam sehari, tetapi akan memerlukan waktu bertahun-tahun untuk membasmi sisa-sisa kediktatorannya," kata Nasheed mengacu pada kekalahan Gayoom dalam pemilu pertama multi-partai.

Gayoom memerintah kepulauan itu antara tahun 1978 dan 2008 dan berulang-ulang menjebloskan Nasheed ke penjara selama periode enam tahun.

Pemerintah baru membantah bahwa penyidangan Nasheed Senin bermotif politik, tetapi menuduh dia menyalahgunakan kekuasaannya ketika berkuasa. Pemerintah berikrar akan menegakkan hukum dan ketertiban di ibu kota Male yang berpenduduk 130.000 jiwa itu.

Pemerintah tidak akan mengizinkan aksi kekerasan oposisi, kata seorang juru bicara presidien , dan membantah tuduhan-tuduhan oposisi bahwa penyidang Nasheed bermotif politik.

Selain kasus pidana, Nasheed juga menghadapi dua tuduhan fitnah yang diajukan Komandan Polisi Abdullah Riyaz dan Menteri Pertahanan Mohamed Nazim.Segera setelah Nasheed digulingkan, pemrintah mengeluarkan satu prrintah prnangkapan terhadapnya atas tuduhan penyelewengan kekuasaan , tetapi itu tidak pernah dilaksanakan karena tekanan internasional.

Ia menuduh pemerintah baru dipengaruhi kelompok garis keras Islam, satu tuduhan yang dibantah Presiden Waheed.

Pada tahun 2009, Nasheed menjadi akrobat lingkungan ketika ia melakukan sidang kabinet di dalam air pertama dunia untuk mendesak negara-negara menghentikan emisi-emisi karbon yang menimbulkan pemanasan global dan mengancam negara-negara yang letaknya rendah seperti Maladewa.

Tetapi masa jabatan empat tahunnya juga ditandai oleh persoalan-persoalan pengangguran, kekurangan perumahan di ibu kota yang padat penduduknya, penyalahgunaan narkoba dan bangkitnya ketidak puasan kelompok Islam garis keras.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon