Lonjakan Aset Metropolitan Land Pikat Lantai Bursa

Rabu, 10 Oktober 2012 | 06:23 WIB
I
WP
Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Fransisca Nelwan Mok (tengah) berbincang dengan Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) Nanda Widya (kanan) dan Direktur Operasional Thomas JA, disela penandatanganan perjanjian kredit sindikasi sebesar Rp250 miliar untuk pembangunan pusat perbelanjaan Grand Metropolitan, di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/9). Selain memberikan kredit, Bank Mandiri yang Juli 2012 pembiayaan sektor properti dan konstruksinya telah mencapai Rp 8,1 triliun (unaudited) atau naik 25,4% dari Juli 2011, juga menyediakan fasilitas pengelolaan dana Mandiri virtual account bagi proyek-proyek Metland.
Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Fransisca Nelwan Mok (tengah) berbincang dengan Presiden Direktur PT Metropolitan Land Tbk (Metland) Nanda Widya (kanan) dan Direktur Operasional Thomas JA, disela penandatanganan perjanjian kredit sindikasi sebesar Rp250 miliar untuk pembangunan pusat perbelanjaan Grand Metropolitan, di Bekasi, Jawa Barat, Rabu (12/9). Selain memberikan kredit, Bank Mandiri yang Juli 2012 pembiayaan sektor properti dan konstruksinya telah mencapai Rp 8,1 triliun (unaudited) atau naik 25,4% dari Juli 2011, juga menyediakan fasilitas pengelolaan dana Mandiri virtual account bagi proyek-proyek Metland. (ANTARA/Audy Alwi)
Metland memiliki enam proyek residensial yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi

Perluasan pusat perbelanjaan dan peluncuran proyek properti bakal memperbesar nilai aset PT Metropolitan Land Tbk (Metland).

Nilai aset bersih (net asset value/ NAV) perseroan pada 2013 diproyeksi mencapai Rp 1.457 per saham. Sedangkan target harga saham emiten berkode MTLA itu sebesar Rp 700 atau diskon 48% dari NAV.

Metland memiliki enam proyek residensial yang tersebar di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Proyek itu antara lain Metland Menteng di Cakung, Metland Tambun dan Metland Cibitung di Bekasi, Metland Transyogi dan Metland Cileungsi di Bogor, serta Metland Puri di Tangerang.

"Jika perseroan berhasil merealisasikan konstruksi tol Metland Puri-Tangerang, pembangunan apartemen M-Gold Bekasi, dan perluasan Grand Metropolitan Mall Bekasi tahun ini, nilai aset perseroan akan melonjak tahun depan," ungkap analis CIMB Securities Lidya Toisutta dalam risetnya, belum lama ini.

Penjualan properti Metland Puri dan perluasan pusat perbelanjaan juga akan memperkuat posisi kas perseroan. Metland menguasai cadangan lahan seluas 55 hektare (ha) di Metland Puri.

Proyek perumahan ini akan diluncurkan kembali tahun depan. Metland Puri diperkirakan berkontribusi sekitar 34% terhadap NAV perseroan.

Prospek Metland juga bakal didukung oleh pengembangan hunian dengan pangsa pasar konsumen kelas menengah.

Pangsa pasar ini mendominasi penjualan unit properti (marketing sales) Metland sepanjang tahun ini terutama dari Metland Cileungsi dan Metland Cibitung.

"Penjualan properti dari proyek Cileungsi dan Cibitung diharapkan berkontribusi sekitar 35% terhadap target marketing sales tahun ini. Kedua proyek itu mampu membukukan rata-rata kenaikan harga jual tahunan sekitar 35% untuk produk proper ti Metland Cibitung dan sekitar 17% untuk proyek Metland Cileungsi," jelas Lidya.

Penjualan serta pengoperasian beberapa proyek komersial tentu ikut menambah tren pertumbuhan kinerja keuangan perseroan. Misalnya, pengembangan Grand Metropolitan, Hotel Horison Seminyak Bali, Hotel Horison Jakar ta, dan ekstensi Horison Bekasi.

"Kami memperkirakan kontribusi pendapatan berkelanjutan (recurring incomes) sekitar 20-25% terhadap total EBIT perseroan dalam lima tahun ke depan. Peningkatan recurring incomes seiring dengan penambahan beberapa aset, seperti perluasan mal dan pengembangan tiga hotel baru," tutur Lidya.

CIMB Securities menempatkan saham Metland berkode MTLA di posisi tiga berdasarkan semua metrik profitabilitas sektor properti. Tingginya profitabilitas perseroan didukung oleh membaiknya prospek pertumbuhan dan estimasi peningkatan arus kas, sehingga kualitas laba jangka panjang lebih baik.

"Kami menaikkan target harga saham MTLA menjadi Rp 700 dibandingkan perkiraan semula Rp 650 dengan peringkat outperform. MTLA merupakan pilihan utama kami untuk produk dengan fokus pendapatan menengah," jelas Lidya.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Anindya Saraswati mengungkapkan, Metland diperkirakan mampu mencetak pertumbuhan pendapatan tahun ini menjadi Rp 778 miliar dibandingkan estimasi tahun lalu senilai Rp 542 miliar.

Sedangkan laba bersih diharapkan tumbuh dari Rp 157 miliar menjadi Rp 200 miliar. Margin laba bersih tahun ini diprediksi mencapai 25,8%.

"Pertumbuhan kinerja keuangan didukung oleh penjualan lahan seluas 9,1 ha untuk pengembangan di lima proyek propertinya," tulis dia dalam risetnya.

Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham MTLA dengan target harga Rp 550. Target ini mengimplikasikan estimasi PE 2012-2013 masing-masing sekitar 20,8-16 kali. Pada perdagangan saham di BEI kemarin, saham MTLA ditutup menguat pada harga Rp 420.

CIMB Securities menilai, target pendapatan Metland tahun ini berpeluang direvisi naik setelah dipasarkannya apartemen M Gold di Bekasi.

Menara M Gold diperkirakan menelan biaya hingga sebesar Rp 200 miliar. Pendanaan bersumber dari kas internal, dana hasil IPO saham, dan dana pre-sale.

Sesuai rencana, apartemen tersebut dibangun di atas lahan seluas 4.135 meter persegi, dengan total luas bangunan 38 ribu meter persegi.

Menara setinggi 12 lantai itu terdiri atas 140 unit apartemen. Realisasi proyek ini membuktikan keberhasilan perseroan dalam membukukan rata-rata pertumbuhan penjualan properti tahunan perseroan (CAGR) sekitar 45% selama 2007-2012.

Tingginya rata-rata kenaikan penjualan didukung atas keberhasilan perseroan menaikkan harga jual lahan pengembangan serta kemampuan menyediakan produk properti sesuai selera konsumen kelas menengah ke bawah. Hingga September 2012, Metland telah menjual properti senilai Rp 400 miliar atau setara 74% dari estimasi sepanjang 2012.

Sebelumnya, Metland memperoleh kredit investasi sebesar Rp 250 miliar dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Pinjaman itu akan digunakan untuk membiayai pembangunan pusat perbelanjaan Grand Metropolitan di Bekasi, Jawa Barat.

"Pinjaman ini akan diberikan bertahap sesuai kebutuhan. Pinjaman ini berjangka waktu 66 bulan dengan masa tenggang selama 24 bulan. Bunganya 9,75%,” kata Vice Director Corporate Affairs and Corporate Secretary Metland Olivia Surodjo, belum lama ini.

Metland memperkirakan total biaya pembangunan pusat perbelanjaan Grand Metropolitan mencapai Rp 506 miliar. Pendanaan bersumber dari pinjaman, dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham sebesar Rp 200 miliar dan sisanya dari kas internal.

Pusat perbelanjaan itu akan beroperasi pada per tengahan 2013. Saat ini, tingkat isian sewa Grand Metropolitan sudah mencapai 89%.

Pengembangan Grand Metropolitan merupakan salah satu rencana strategis perseroan untuk meningkatkan pendapatan berkelanjutan (recurring income).

Pada semester I-2012, porsi recurring income Metland sebesar 31% dari total pendapatan.

Ke depan, perseroan menargetkan pendapatannya berimbang atau 50:50 antara recurring income dan penjualan residensial serta komersial. Adapun beberapa penyewa Grand Metropolitan di Bekasi antara lain Farmers Market, Centro, dan Marks & Spencer.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon