PoliticaWave: KPK Mendominasi Isu di Media Sosial
Rabu, 10 Oktober 2012 | 12:46 WIB
Maraknya pembicaraan di media sosial yang mendukung KPK adalah suatu fenomena terkini, sejak terjadinya lonjakan percakapan saat Pemilu Kada DKI akhir September 2012.
Demikian analisis dari PoliticaWave seperti yang disampaikan oleh rilis dari Yose Rizal, Direktur PoliticaWave di Jakarta, Rabu (10/10).
"Walaupun skala pembicaraan tentang KPK di media sosial masih relatif kecil dibandingkan dengan saat Pemilu Kada DKI, namun kedua momentum ini dapat dianalisis secara paralel," papar Yose.
PoliticaWave mencatat adanya gelombang yang terus meningkat yang merepresentasikan menguatnya dukungan masyarakat terhadap KPK. Beberapa hashtag atau tagar yang populer digunakan saat ini adalah #SaveKPK, #PresidenKemana, #SaveNovel, #BersihkanPOLRI, #SavePolri dan #TolakRUURevisiKPK.
Hasil analisa dari PoliticaWave, beberapa akun selebritas yang cukup aktif membicarakan topik KPK ini antara lain @addiems, @melaniesubono, @lukmansardi, @pandji dan @sudjiwotedjo. Banyak netizen yang mengirimkan pesan mengenai #SaveKPK lebih dari 4 kali, bahkan sampai puluhan kali, menandakan tingginya aspirasi masyarakat. Pesan mengenai #SaveKPK berpotensi menjangkau sekitar 9.433.741 netizen.
PoliticaWave sebagai social media monitoring yang didirikan oleh pakar media sosial, Yose Rizal dan Sony Subrata, memantau percakapan di Twitter, Facebook, YouTube, blog, forum dan situs-situs berita online.
Berbagai situs berita online juga menjadi pemicu sekaligus pendorong berbagai diskusi di media sosial. Namun demikian, saat ini percakapan di kanal Twitter masih mendominasi dibandingkan kanal-kanal lainnya.
"Pidato Presiden SBY semalam menunjukkan bahwa pemerintah mendengarkan dan merespons keinginan masyarakat," jelas Yose Rizal.
"Namun demikian, pemerintah perlu lebih proaktif dalam memantau suara masyarakat yang kerap muncul dengan gamblang di berbagai kanal media sosial. Pemerintah perlu lebih fasih dalam hal social media monitoring. Jangan hanya menganalisis media tradisional. Pemerintah dapat memanfaatkan media sosial sebagai telinga untuk mendengarkan aspirasi masyarakat."
Yose menambahkan, dalam pembicaraan yang intens tentang KPK, terlihat tim dari KPK kurang pandai mengelola kanal-kanal media sosial. Berbeda dengan tim dari calon gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Basuki yang sangat strategis dalam mengelola dukungan relawan di media sosial.
"KPK jangan lengah untuk memonitor dan mengelola dukungan masyarakat di media sosial. Dukungan masyarakat jangan dibiarkan begitu saja. Momentum ini perlu dijaga dan ditumbuhkan. Kalau masyarakat yang membela KPK di media sosial diabaikan, sebentar lagi dukungan itu akan surut. Ini sangat disayangkan," tukas Sony Subrata dari PoliticaWave.
Sony Subrata menjelaskan KPK perlu belajar dari studi kasus Pemilu Kada DKI Jakarta, puluhan ribu relawan dari berbagai latar belakang dilibatkan, diberikan semangat dan dimobilisasi secara terpadu untuk suatu misi yang sama yang itu mendukung pasangan Jokowi dan Basuki.
“Dukungan terhadap Jokowi dan Basuki adalah suatu bentuk perjuangan rakyat untuk kota Jakarta, sedangkan KPK adalah perjuangan untuk seluruh bangsa."
Kampanye Jokowi dan Basuki memobilisasi masyarakat di media sosial adalah dalam periode minggu-minggu kampanye, sedangkan KPK adalah perjuangan jangka panjang. Skala ini perlu disadari sepenuhnya oleh KPK.
"Aktivitas di media sosial perlu segera dirancang dan dikelola dengan lebih baik. Kalau tidak, momentum yang baik ini akan hilang. Kalau momentum ini hilang, yang rugi adalah KPK dan seluruh masyarakat Indonesia," demikian penjelasan Sony Subrata.
Demikian analisis dari PoliticaWave seperti yang disampaikan oleh rilis dari Yose Rizal, Direktur PoliticaWave di Jakarta, Rabu (10/10).
"Walaupun skala pembicaraan tentang KPK di media sosial masih relatif kecil dibandingkan dengan saat Pemilu Kada DKI, namun kedua momentum ini dapat dianalisis secara paralel," papar Yose.
PoliticaWave mencatat adanya gelombang yang terus meningkat yang merepresentasikan menguatnya dukungan masyarakat terhadap KPK. Beberapa hashtag atau tagar yang populer digunakan saat ini adalah #SaveKPK, #PresidenKemana, #SaveNovel, #BersihkanPOLRI, #SavePolri dan #TolakRUURevisiKPK.
Hasil analisa dari PoliticaWave, beberapa akun selebritas yang cukup aktif membicarakan topik KPK ini antara lain @addiems, @melaniesubono, @lukmansardi, @pandji dan @sudjiwotedjo. Banyak netizen yang mengirimkan pesan mengenai #SaveKPK lebih dari 4 kali, bahkan sampai puluhan kali, menandakan tingginya aspirasi masyarakat. Pesan mengenai #SaveKPK berpotensi menjangkau sekitar 9.433.741 netizen.
PoliticaWave sebagai social media monitoring yang didirikan oleh pakar media sosial, Yose Rizal dan Sony Subrata, memantau percakapan di Twitter, Facebook, YouTube, blog, forum dan situs-situs berita online.
Berbagai situs berita online juga menjadi pemicu sekaligus pendorong berbagai diskusi di media sosial. Namun demikian, saat ini percakapan di kanal Twitter masih mendominasi dibandingkan kanal-kanal lainnya.
"Pidato Presiden SBY semalam menunjukkan bahwa pemerintah mendengarkan dan merespons keinginan masyarakat," jelas Yose Rizal.
"Namun demikian, pemerintah perlu lebih proaktif dalam memantau suara masyarakat yang kerap muncul dengan gamblang di berbagai kanal media sosial. Pemerintah perlu lebih fasih dalam hal social media monitoring. Jangan hanya menganalisis media tradisional. Pemerintah dapat memanfaatkan media sosial sebagai telinga untuk mendengarkan aspirasi masyarakat."
Yose menambahkan, dalam pembicaraan yang intens tentang KPK, terlihat tim dari KPK kurang pandai mengelola kanal-kanal media sosial. Berbeda dengan tim dari calon gubernur DKI Jakarta Jokowi dan Basuki yang sangat strategis dalam mengelola dukungan relawan di media sosial.
"KPK jangan lengah untuk memonitor dan mengelola dukungan masyarakat di media sosial. Dukungan masyarakat jangan dibiarkan begitu saja. Momentum ini perlu dijaga dan ditumbuhkan. Kalau masyarakat yang membela KPK di media sosial diabaikan, sebentar lagi dukungan itu akan surut. Ini sangat disayangkan," tukas Sony Subrata dari PoliticaWave.
Sony Subrata menjelaskan KPK perlu belajar dari studi kasus Pemilu Kada DKI Jakarta, puluhan ribu relawan dari berbagai latar belakang dilibatkan, diberikan semangat dan dimobilisasi secara terpadu untuk suatu misi yang sama yang itu mendukung pasangan Jokowi dan Basuki.
“Dukungan terhadap Jokowi dan Basuki adalah suatu bentuk perjuangan rakyat untuk kota Jakarta, sedangkan KPK adalah perjuangan untuk seluruh bangsa."
Kampanye Jokowi dan Basuki memobilisasi masyarakat di media sosial adalah dalam periode minggu-minggu kampanye, sedangkan KPK adalah perjuangan jangka panjang. Skala ini perlu disadari sepenuhnya oleh KPK.
"Aktivitas di media sosial perlu segera dirancang dan dikelola dengan lebih baik. Kalau tidak, momentum yang baik ini akan hilang. Kalau momentum ini hilang, yang rugi adalah KPK dan seluruh masyarakat Indonesia," demikian penjelasan Sony Subrata.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




