Kemenkopolhukam Digeruduk Ratusan Wartawan
Rabu, 17 Oktober 2012 | 12:50 WIB
Bentuk kekecewaan terhadap aksi perwira TNI AU yang mencekik wartawan peliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Riau, Pekanbaru, kemarin.
Ratusan pewarta cetak, foto, televisi, radio, online, dan aktivis menghelat unjuk rasa damai terkait aksi kekerasan yang dilakukan oknum TNI, di depan kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Jakarta Pusat.
"TNI dilatih menggunakan senjata, untuk melawan musuh negara. Kalau mereka melakukan kekerasan terhadap warga sendiri, wartawan apakah ini bentuk pembelaan terhadap negara? Ini adalah tindak pidana dan harus diselesaikan secara hukum," kata Aktivis LSM Usman Hamid, saat melakukan orasi di hadapan ratusan wartawan yang ikut berdemo, hari ini.
Mantan Koordinator Kontras itu menambahkan TNI sampai sekarang masih arogan dalam menyelesaikan masalah dan kekerasan selalu menjadi pilihan pertama mereka.
"Apakah itu patut ditiru, melakukan aksi kekerasan di depan anak SD. Mengambil kamera wartawan jelas adalah bentuk kriminal. Rakyat berhak tahu, apa yang terjadi dengan peralatan alustita TNI. Jadi tidak ada alasan ketika alustista rusak, TNI menghalang-halangi informasi. Atau jangan-jangan pembelian alustita itu sudah bobrok karena dibeli dengan uang yang dimark up?" beber dia.
Sementara itu, Koordinator Solidaritas Wartawan Anti Kekerasan, Suparni, mengatakan aksi kekerasan TNI kepada wartawan adalah bentuk pelanggaran HAM dan pidana. "Pelaku harus dipidanakan. Jadi siapapun di mata hukum sama. Harus dilakukan peradilan hukum secara terbuka," katanya.
Menurut Suparni, pernyataan maaf dari pihak TNI tidak cukup, tetapi harus ada proses hukum terhadap para pelaku. "Buat kami pernyataan maaf belum cukup. Sebagai manusia kita maafkan, tapi proses hukum harus tetap berjalan. Dan mulai saat ini, tolong stop kekerasan terhadap wartawan," tutur dia.
Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, setelah melakukan aksi di Menkopolhukam, para pewarta bergeser ke Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Di sana pengunjukrasa menaburkan bunga di depan pintu masuk gedung Kemenhan sebagai bentuk kekecewaan.
Rencanannya, setelah melakukan aksi di Kementerian Pertahanan, pengunjukrasa akan menyambagi Istana Negara dan menyampaikan aspirasi kekecewaan terhadap aksi perwira TNI AU yang melakukan pencekikan terhadap wartawan yang meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Riau, Pekanbaru, kemarin.
Ratusan pewarta cetak, foto, televisi, radio, online, dan aktivis menghelat unjuk rasa damai terkait aksi kekerasan yang dilakukan oknum TNI, di depan kantor Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam), Jakarta Pusat.
"TNI dilatih menggunakan senjata, untuk melawan musuh negara. Kalau mereka melakukan kekerasan terhadap warga sendiri, wartawan apakah ini bentuk pembelaan terhadap negara? Ini adalah tindak pidana dan harus diselesaikan secara hukum," kata Aktivis LSM Usman Hamid, saat melakukan orasi di hadapan ratusan wartawan yang ikut berdemo, hari ini.
Mantan Koordinator Kontras itu menambahkan TNI sampai sekarang masih arogan dalam menyelesaikan masalah dan kekerasan selalu menjadi pilihan pertama mereka.
"Apakah itu patut ditiru, melakukan aksi kekerasan di depan anak SD. Mengambil kamera wartawan jelas adalah bentuk kriminal. Rakyat berhak tahu, apa yang terjadi dengan peralatan alustita TNI. Jadi tidak ada alasan ketika alustista rusak, TNI menghalang-halangi informasi. Atau jangan-jangan pembelian alustita itu sudah bobrok karena dibeli dengan uang yang dimark up?" beber dia.
Sementara itu, Koordinator Solidaritas Wartawan Anti Kekerasan, Suparni, mengatakan aksi kekerasan TNI kepada wartawan adalah bentuk pelanggaran HAM dan pidana. "Pelaku harus dipidanakan. Jadi siapapun di mata hukum sama. Harus dilakukan peradilan hukum secara terbuka," katanya.
Menurut Suparni, pernyataan maaf dari pihak TNI tidak cukup, tetapi harus ada proses hukum terhadap para pelaku. "Buat kami pernyataan maaf belum cukup. Sebagai manusia kita maafkan, tapi proses hukum harus tetap berjalan. Dan mulai saat ini, tolong stop kekerasan terhadap wartawan," tutur dia.
Berdasarkan pantauan Beritasatu.com, setelah melakukan aksi di Menkopolhukam, para pewarta bergeser ke Kementerian Pertahanan (Kemenhan). Di sana pengunjukrasa menaburkan bunga di depan pintu masuk gedung Kemenhan sebagai bentuk kekecewaan.
Rencanannya, setelah melakukan aksi di Kementerian Pertahanan, pengunjukrasa akan menyambagi Istana Negara dan menyampaikan aspirasi kekecewaan terhadap aksi perwira TNI AU yang melakukan pencekikan terhadap wartawan yang meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Riau, Pekanbaru, kemarin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




