Disomasi, BKKBN Dekati Pasien Insiden Vasektomi Medan
Sabtu, 3 November 2012 | 18:32 WIB
BKKBN menghimbau, agar masyarakat tidak perlu khawatir menjalani vasektomi.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tengah melakukan pendekatan kepada akseptor di Medan menyusul insiden vasektomi massal yang membuat sejumlah pria mengalami pendarahan.
Vasektomi serentak yang digelar Pemerintah Kota Medan bekerjasama dengan (BKKBN) pada 23-24 Oktober dilakukan terhadap 1.575 pria di kota Medan. Kegiatan tersebut berhasil mencatat rekor Museum Rekor Republik Indonesia (MURI) sebagai vasektomi serentak dengan peserta terbanyak.
"BKKBN sedang melakukan pendekatan ke keluarga pasien, kami sedang memberi penjelasan," ujar Kepala Bagian Humas BKKBN Uung Kusmana kepada Beritasatu.com, Sabtu (3/11)
Sebelumnya diketahui, salah seorang pasien berinisial GA mengaku vasektomi yang dialaminya gagal. Atas kejadian tersebut, ia melayangkan somasi kepada Pemkot Medan dan BKKBN.
Kegiatan vasektomi dilakukan di 13 titik di Rumah Sakit dan Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap. Sebanyak 26 tim medis disiagakan untuk kegiatan ini. Namun setelah divasektomi, tiga peserta mengalami pendarahan dan sempat dirawat di Rumah Sakit.
Namun Uung mengatakan, kegiatan vasektomi di Medan sudah berjalan dengan tata laksana yang tepat. "Semuanya sudah sesuai dengan SOP, tim petugas kesehatan juga tetap stand-by untuk mengantisipasi kalau ada masalah pasca prosedur," kata Uung.
Menurutnya, setelah proses vasektomi pasien memang harus dirawat beberapa jam. Setelah perawatan, selama satu atau dua hari pasien dilarang mengangkat beban berat untuk menghindari komplikasi. "Pasien juga diminta memakai kondom paling tidak untuk periode 12 kali hubungan suami istri,,' kata dia.
Uung mengatakan, sebelum menjalankan prosedur pasien harus menandatangani formulir persetujuan yang menyatakan kesiapannya menjalani vasektomi.
"Yang kami tahu ketiga pasien yang alami pendarahan langsung ditangani dan sudah keluar dari Rumah Sakit, hanya saja ada salah seorang anggota keluarga yang tidak paham prosedur dan tidak mau terima," kata Uung.
Dia juga menghimbau, agar masyarakat tidak perlu khawatir menjalani vasektomi. "Keluarga adalah tanggung jawab bersama, suami dan istri, bukan cuma satu pihak saja," kata Uung.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tengah melakukan pendekatan kepada akseptor di Medan menyusul insiden vasektomi massal yang membuat sejumlah pria mengalami pendarahan.
Vasektomi serentak yang digelar Pemerintah Kota Medan bekerjasama dengan (BKKBN) pada 23-24 Oktober dilakukan terhadap 1.575 pria di kota Medan. Kegiatan tersebut berhasil mencatat rekor Museum Rekor Republik Indonesia (MURI) sebagai vasektomi serentak dengan peserta terbanyak.
"BKKBN sedang melakukan pendekatan ke keluarga pasien, kami sedang memberi penjelasan," ujar Kepala Bagian Humas BKKBN Uung Kusmana kepada Beritasatu.com, Sabtu (3/11)
Sebelumnya diketahui, salah seorang pasien berinisial GA mengaku vasektomi yang dialaminya gagal. Atas kejadian tersebut, ia melayangkan somasi kepada Pemkot Medan dan BKKBN.
Kegiatan vasektomi dilakukan di 13 titik di Rumah Sakit dan Puskesmas yang memiliki fasilitas rawat inap. Sebanyak 26 tim medis disiagakan untuk kegiatan ini. Namun setelah divasektomi, tiga peserta mengalami pendarahan dan sempat dirawat di Rumah Sakit.
Namun Uung mengatakan, kegiatan vasektomi di Medan sudah berjalan dengan tata laksana yang tepat. "Semuanya sudah sesuai dengan SOP, tim petugas kesehatan juga tetap stand-by untuk mengantisipasi kalau ada masalah pasca prosedur," kata Uung.
Menurutnya, setelah proses vasektomi pasien memang harus dirawat beberapa jam. Setelah perawatan, selama satu atau dua hari pasien dilarang mengangkat beban berat untuk menghindari komplikasi. "Pasien juga diminta memakai kondom paling tidak untuk periode 12 kali hubungan suami istri,,' kata dia.
Uung mengatakan, sebelum menjalankan prosedur pasien harus menandatangani formulir persetujuan yang menyatakan kesiapannya menjalani vasektomi.
"Yang kami tahu ketiga pasien yang alami pendarahan langsung ditangani dan sudah keluar dari Rumah Sakit, hanya saja ada salah seorang anggota keluarga yang tidak paham prosedur dan tidak mau terima," kata Uung.
Dia juga menghimbau, agar masyarakat tidak perlu khawatir menjalani vasektomi. "Keluarga adalah tanggung jawab bersama, suami dan istri, bukan cuma satu pihak saja," kata Uung.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




