Ketika Kupu-kupu dan Mosaik Batu Tipis Berbagi Panggung

Selasa, 6 November 2012 | 01:45 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Kreasi Sebastian Gunawan menggunakan batu yang dipotong tipis kemudian dibuat motif pada pakaian, ditunjukkan saat pembukaan Jakarta Fashion Week, Sabtu (3/11).
Kreasi Sebastian Gunawan menggunakan batu yang dipotong tipis kemudian dibuat motif pada pakaian, ditunjukkan saat pembukaan Jakarta Fashion Week, Sabtu (3/11). (Jakarta Fashion Week 2013)
Sebastian Gunawan dan Lie Sang Bong menunjukkan kemahiran bermain detail dan padu padan indah.

Pembukaan Jakarta Fashion Week 2013 (JFW) kembali mengundang desainer dari luar negeri untuk berbagi panggung dalam peragaan perdana. Tahun ini, desainer asal Korea Selatan, Lie Sang Bong, berbagi panggung dengan desainer kenamaan asal Indonesia, Sebastian Gunawan.

Sebagai pembuka acara, sudah pasti semua mata pencinta fashion akan memandang ke hasil desain busana kedua desainer tersebut. Keduanya, pada malam pembukaan, Sabtu (3/11), menampilkan kekuatan detail dan keindahan padu padan.

Untuk urusan detail, Sebastian Gunawan menyuguhkan koleksi cantik dari sesuatu yang ia sebut dengan "nano stone". Nama teknik itu ia sebutkan saat konferensi pers, sebelum peragaan dimulai. Tak banyak yang ia jelaskan mengenai teknik ini, hanya menyebutkan bahwa ini adalah kreasi baru, menggunakan bahan vinyl, umumnya digunakan pada furnitur/dekorasi, kemudian ia potong sangat tipis, sekitar 3mm, seperti kertas, lalu ditempelkan pada baju untuk menciptakan motif.

Dalam panggung peragaan, Sebastian terlihat memadupadankan potongan-potongan tersebut sehingga mencipta semacam motif, mengingatkan akan mosaik. Sementara untuk desain dari baju, Sebastian tetap menggunakan pola konstruksi pada rok, penambahan bahan di sekitar pinggang yang menyerupai kuping, juga padu padan dengan lace untuk memberi kesan lembut pada desain mosaik bebatuan yang warna-warnanya cenderung dingin, seperti khaki pucat, abu-abu, hitam, dan sebagainya.

Mengenai arti desain busana bertajuk Bella Pietra ini, menurut Sebastian, adalah penggambarannya mengenai perempuan; bisa menjadi sangat cantik seperti bunga, tetapi bisa juga menjadi keras seperti batu.

Sementara sang desainer asal Korea Selatan, Lie Sang Bong, dalam konferensi pers tak berkata apa pun mengenai desain busana yang juga ia bawa dan peragakan di panggung Paris Fashion Week Spring/Summer 2013 lalu.

Ia hanya menghaturkan terima kasih, "Saya sangat berterima kasih karena mengundang saya. Ini pertama kali datang ke Jakarta, tapi saya sangat suka sekali budaya Indonesia."

Ketika ditemui Beritasatu.com di belakang panggung, Lie Sang Bong menuturkan tentang filosofi desainnya. Lewat penerjemah ia mengatakan, "Koleksi saya bertemakan Butterfly. Yakni tentang sebuah mahluk hidup yang hidupnya bermula dari ulat, menjadi kepompong, lalu menjadi kupu-kupu. Hal ini bisa diterjemahkan menjadi sebuah mimpi yang diraih sedikit demi sedikit. Kupu-kupu itu seperti manusia yang mengejar mimpi."

Koleksi-koleksi untuk perempuan yang disuguhkan Lie Sang Bong terlihat feminin tanpa perlu banyak yang menarik perhatian. Dengan potongan dress yang menonjolkan sisi-sisi menarik perempuan, dari dress panjang off shoulder yang memeluk tubuh dari bahan sutera, lalu dress selutut dengan exaggerated sleeve, peplum, dan coat.

Detail yang ditawarkan Lie Sang Bong cukup dalam bentuk permainan warna, penambahan detail pada pakaian, tabrak motif antara beberapa grafik yang di-print, seperti houndstooth dan motif kupu-kupu. Warna-warna netral, seperti merah, hitam, putih, dan biru dihadirkan Lie Sang Bong pada malam tersebut.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon