Surya Paloh Dicap Otoriter
Kamis, 22 November 2012 | 11:34 WIB
Pada 5 Juni 2012, pihak pemilik Metro TV telah berjanji untuk mempekerjakan Luviana, tetapi ternyata janji itu diingkari.
Gaya kepemimpinan Pendiri Organisasi Nasional Demokrat (Nasdem), Surya Paloh, dikritik antidemokrasi dan otoriter dalam kejadian pemecatan sepihak yang dialami Luviana, jurnalis perempuan yang sudah bekerja 10 tahun di perusahaan media Metro TV milik Surya Paloh tersebut.
"Surya Paloh tak ada bedanya dengan Politisi Busuk, Kenyataannya dia adalah seorang penipu yang hanya bisa umbar janji, antidemokrasi dan otoriter. Terbukti dengan PHK yang dilakukan terhadap karyawannya sendiri," kata Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jakarta, Poltak Sinaga, dalam keterangannya yang diterima, di Jakarta, Kamis (22/11).
Poltak menyampaikan hal itu bersama puluhan aktivis HAM dan Mahasiswa, yang tergabung dalam Aliansi Melawan Topeng Restorasi (Metro) dan Solidaritas perempuan For Luviana (Sovi), dalam aksi unjuk rasa di depan kantor DPP Partai Nasional Demokrat (NasDem), Jakarta, Rabu (21/11) sore kemarin.
Poltak menjelaskan pada 5 Juni 2012, pihak pemilik Metro TV telah berjanji untuk mempekerjakan Luviana, tetapi ternyata janji itu diingkari. "Malah sebaliknya, Luviana menerima Surat pemecatan sepihak. Ini artinya Surya Paloh tidak memiliki niat untuk menyelesaikan kasus tersebut," sesal dia.
Menurut Poltak, derita yang dialami Luviana merupakan cerminan dari pimpinan otoriter yang bisa saja tidak hanya dipraktikkan Surya Paloh di perusahaan yang dimilikinya saja.
"Kami curiga namun hal tersebut sama dengan apa yang terjadi di partai yang dibangun yakni Partai NasDem. Kekisruhan di tubuh Partai Nasdem bisa jadi adalah akibat watak otoriter Surya Paloh," tandas dia.
Gaya kepemimpinan Pendiri Organisasi Nasional Demokrat (Nasdem), Surya Paloh, dikritik antidemokrasi dan otoriter dalam kejadian pemecatan sepihak yang dialami Luviana, jurnalis perempuan yang sudah bekerja 10 tahun di perusahaan media Metro TV milik Surya Paloh tersebut.
"Surya Paloh tak ada bedanya dengan Politisi Busuk, Kenyataannya dia adalah seorang penipu yang hanya bisa umbar janji, antidemokrasi dan otoriter. Terbukti dengan PHK yang dilakukan terhadap karyawannya sendiri," kata Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Jakarta, Poltak Sinaga, dalam keterangannya yang diterima, di Jakarta, Kamis (22/11).
Poltak menyampaikan hal itu bersama puluhan aktivis HAM dan Mahasiswa, yang tergabung dalam Aliansi Melawan Topeng Restorasi (Metro) dan Solidaritas perempuan For Luviana (Sovi), dalam aksi unjuk rasa di depan kantor DPP Partai Nasional Demokrat (NasDem), Jakarta, Rabu (21/11) sore kemarin.
Poltak menjelaskan pada 5 Juni 2012, pihak pemilik Metro TV telah berjanji untuk mempekerjakan Luviana, tetapi ternyata janji itu diingkari. "Malah sebaliknya, Luviana menerima Surat pemecatan sepihak. Ini artinya Surya Paloh tidak memiliki niat untuk menyelesaikan kasus tersebut," sesal dia.
Menurut Poltak, derita yang dialami Luviana merupakan cerminan dari pimpinan otoriter yang bisa saja tidak hanya dipraktikkan Surya Paloh di perusahaan yang dimilikinya saja.
"Kami curiga namun hal tersebut sama dengan apa yang terjadi di partai yang dibangun yakni Partai NasDem. Kekisruhan di tubuh Partai Nasdem bisa jadi adalah akibat watak otoriter Surya Paloh," tandas dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




