Sering Melawat ke Luar Negeri, Anggota Parlemen Inggris Dikecam
Sabtu, 24 November 2012 | 00:28 WIB
Mantan Menteri Luar Negeri David Miliband yang kini duduk di kursi parlemen tercatat sering melakukan kunjungan luar negeri.
Para anggota Parlemen Inggris mendapat sorotan terkait kunjungan kerja ke luar negeri yang menelan biaya hingga 1,5 juta poundsterling (Rp23,4 miliar) atas biaya pengundang dalam dua tahun terakhir.
Sebanyak 242 anggota parlemen melakukan kegiatan "pencarian fakta" dan kunjungan kerja dengan rata-rata biaya sebesar 6.500 poundsterling (Rp1 miliar), tulis harian The Independent dalam laporan halaman depan berjudul "The full scale of MPs' lavish globetrotting".
"Beberapa pemerintah asing, perusahaan swasta, dan kelompok oposisi membiayai kunjungan ke beberapa tujuan eksotis," tulis harian itu.
Dilaporkan bahwa 36 kunjungan dilakukan ke China dan Hong Kong, 23 di antaranya ke India dan 34 kunjungan lain ke Amerika Serikat. Hanya satu anggota parlemen yang tercatat berkunjung ke Afghanistan dan dua anggota lainnya tercatat melakukan pelesir ke wilayah dekat dengan Belgia.
Setelah kunjungan itu, beberapa anggota parlemen berpidato di parlemen untuk mendukung pemerintahan dan negara yang mereka kunjungi, tulis The Independent.
Berdasarkan temuan surat kabar itu, satu dari lima anggota Partai Konservatif telah melakukan kunjungan ke Israel dan Palestina sejak 2010, yang sebagian besar kunjungannya didanai kelompok lobi pro-Israel.
Mantan Menteri Luar Negeri David Miliband yang kini duduk di kursi parlemen tercatat sering melakukan kunjungan luar negeri, dengan 14 kunjungan senilai 47.600 poundsterling sejak saudaranya Ed mengalahkannya untuk posisi pemimpin oposisi di Partai Buruh.
Juru bicara Miliband menyebutkan kunjungan itu "sesuai dengan komitmen parlemen Inggris".
Koleganya dari Partai Buruh, Barry Gardiner, menjadi yang terbanyak melakukan "pemborosan" dengan kunjungan total selama 73 hari senilai 52.071 poundsterling sejak pemilihan umum Mei 2010 lalu.
Gardiner tercatat sempat mengunjungi Rio de Janeiro, Brazil, dan Cape Town, Afrika Selatan, serta beberapa kunjungan lain termasuk ke New York, Jepang dan China.
Tamasin Cave dari kelompok transparansi Spinwatch mengatakan kepada Independent bahwa anggota parlemen memang perlu mengetahui negara lain tetapi daftar negara yang dikunjungi mencakup beberapa negara yang seharusnya tidak perlu di kunjungi.
"Mari kita berharap mereka menghabiskan sebanyak mungkin waktu yang dimiliki untuk berbicara dengan kelompok pro-demokrasi dan kelompok oposisi di negara yang mereka kunjungi," tulis Independent dalam editorialnya.
Pandangan anggota parlemen diharap tidak terpengaruh oleh fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan pihak pengundang, karena keberangkatan mereka yang dibiayai pun sebenarnya telah mempertaruhkan integritas mereka, tulisnya.
Para anggota Parlemen Inggris mendapat sorotan terkait kunjungan kerja ke luar negeri yang menelan biaya hingga 1,5 juta poundsterling (Rp23,4 miliar) atas biaya pengundang dalam dua tahun terakhir.
Sebanyak 242 anggota parlemen melakukan kegiatan "pencarian fakta" dan kunjungan kerja dengan rata-rata biaya sebesar 6.500 poundsterling (Rp1 miliar), tulis harian The Independent dalam laporan halaman depan berjudul "The full scale of MPs' lavish globetrotting".
"Beberapa pemerintah asing, perusahaan swasta, dan kelompok oposisi membiayai kunjungan ke beberapa tujuan eksotis," tulis harian itu.
Dilaporkan bahwa 36 kunjungan dilakukan ke China dan Hong Kong, 23 di antaranya ke India dan 34 kunjungan lain ke Amerika Serikat. Hanya satu anggota parlemen yang tercatat berkunjung ke Afghanistan dan dua anggota lainnya tercatat melakukan pelesir ke wilayah dekat dengan Belgia.
Setelah kunjungan itu, beberapa anggota parlemen berpidato di parlemen untuk mendukung pemerintahan dan negara yang mereka kunjungi, tulis The Independent.
Berdasarkan temuan surat kabar itu, satu dari lima anggota Partai Konservatif telah melakukan kunjungan ke Israel dan Palestina sejak 2010, yang sebagian besar kunjungannya didanai kelompok lobi pro-Israel.
Mantan Menteri Luar Negeri David Miliband yang kini duduk di kursi parlemen tercatat sering melakukan kunjungan luar negeri, dengan 14 kunjungan senilai 47.600 poundsterling sejak saudaranya Ed mengalahkannya untuk posisi pemimpin oposisi di Partai Buruh.
Juru bicara Miliband menyebutkan kunjungan itu "sesuai dengan komitmen parlemen Inggris".
Koleganya dari Partai Buruh, Barry Gardiner, menjadi yang terbanyak melakukan "pemborosan" dengan kunjungan total selama 73 hari senilai 52.071 poundsterling sejak pemilihan umum Mei 2010 lalu.
Gardiner tercatat sempat mengunjungi Rio de Janeiro, Brazil, dan Cape Town, Afrika Selatan, serta beberapa kunjungan lain termasuk ke New York, Jepang dan China.
Tamasin Cave dari kelompok transparansi Spinwatch mengatakan kepada Independent bahwa anggota parlemen memang perlu mengetahui negara lain tetapi daftar negara yang dikunjungi mencakup beberapa negara yang seharusnya tidak perlu di kunjungi.
"Mari kita berharap mereka menghabiskan sebanyak mungkin waktu yang dimiliki untuk berbicara dengan kelompok pro-demokrasi dan kelompok oposisi di negara yang mereka kunjungi," tulis Independent dalam editorialnya.
Pandangan anggota parlemen diharap tidak terpengaruh oleh fasilitas dan kenyamanan yang ditawarkan pihak pengundang, karena keberangkatan mereka yang dibiayai pun sebenarnya telah mempertaruhkan integritas mereka, tulisnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




