Rieke Ajak warga NU Jabar tolak Politik Uang dan Dikriminasi Gender
Minggu, 2 Desember 2012 | 14:44 WIB
Masih banyak kyai-kyai, ulama-ulama Nahdliyin, yang masih memegang teguh untuk menolak politik uang di pemilihan gubernur Jawa Barat.
Calon Gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka, mengajak warga Nahdliyin untuk menolak politik uang dalam pelaksanaan proses politik, khususnya pilgub Jawa Barat.
Rieke mengatakan, ajakan itu pernah disampaikannya dalam beberapa kesempatan bertemu para warga Nahdliyin di Jawa Barat. Terakhir adalah, saat menghadiri pengajian Yasin Akbar di Desa Cipondok, Kecamatan Cibingbing, Kuningan, Jawa Barat, yang dihadiri seribuan ibu-ibu pengajian, bupati Kuningan, beserta tokoh ulama.
Rieke menjelaskan, masih banyak kyai-kyai, ulama-ulama Nahdliyin, yang masih memegang teguh untuk menolak politik uang di pemilihan gubernur Jawa Barat.
"Dengan keterbatasan ini, saya bersama kang Teten tidak bisa melakukan politik uang. Saya sangat meyakini, berawal dari tempat ini, politik uang akan kita lawan. Jangan biarkan nasib kita ditentukan oleh sejumlah rupiah dengan mengorbankan masa depan kita. Lima menit di TPS akan menentukan kehidupan kita untuk lima tahun ke depan," ujar Rieke seperti disampaikan dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (2/12).
Dia juga membeberkan konsepnya untuk memperbaiki Jawa Barat dengan selalu mendengar keluh kesah rakyat, serta bertindak berdasarkan apa sebenarnya yang dirasakan mereka.
Pada kesempatan itu, dia juga mengingatkan salah satu ulama besar NU, Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid, yang juga dianggap sebagai gurunya, bahwa politik tidak diskriminatif dan tidak mengenal gender.
"Gus Dur merupakan motivator bagi saya, apa yang beliau ajarkan pada saya menjadi penyemangat bagi saya untuk bekerja terus menerus untuk rakyat," tutur dia.
Rieke menyatakan, apabila warga Nahdliyin ingin ada perubahan di Jawa Barat, maka seluruh rakyat dari kaum buruh, tani, nelayan, dan ulama harus bersatu berjuang bersama, untuk bergotong-royong menyelesaikan persoalan setahap demi setahap.
"Jumlah Kaum Nahdliyin di Jawa Barat sangatlah besar, perubahan itu pasti bisa terwujud. Kita bisa melihat bersama-sama, satu persatu madrasah tempat mencetak anak-anak kita, ditutup satu persatu. Karena di Jawa Barat tidak ada kebijakan yang berpihak kepada madrasah-madrasah," jelas dia.
"Mari kita juga bersama-sama untuk melawan kemiskinan dan kebodohan yang masih saja membayangi warga Jawa Barat. Karena kemiskinan dan kebodohan akan mendekatkan kita pada kekufuran," kata dia.
Calon Gubernur Jawa Barat, Rieke Diah Pitaloka, mengajak warga Nahdliyin untuk menolak politik uang dalam pelaksanaan proses politik, khususnya pilgub Jawa Barat.
Rieke mengatakan, ajakan itu pernah disampaikannya dalam beberapa kesempatan bertemu para warga Nahdliyin di Jawa Barat. Terakhir adalah, saat menghadiri pengajian Yasin Akbar di Desa Cipondok, Kecamatan Cibingbing, Kuningan, Jawa Barat, yang dihadiri seribuan ibu-ibu pengajian, bupati Kuningan, beserta tokoh ulama.
Rieke menjelaskan, masih banyak kyai-kyai, ulama-ulama Nahdliyin, yang masih memegang teguh untuk menolak politik uang di pemilihan gubernur Jawa Barat.
"Dengan keterbatasan ini, saya bersama kang Teten tidak bisa melakukan politik uang. Saya sangat meyakini, berawal dari tempat ini, politik uang akan kita lawan. Jangan biarkan nasib kita ditentukan oleh sejumlah rupiah dengan mengorbankan masa depan kita. Lima menit di TPS akan menentukan kehidupan kita untuk lima tahun ke depan," ujar Rieke seperti disampaikan dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Minggu (2/12).
Dia juga membeberkan konsepnya untuk memperbaiki Jawa Barat dengan selalu mendengar keluh kesah rakyat, serta bertindak berdasarkan apa sebenarnya yang dirasakan mereka.
Pada kesempatan itu, dia juga mengingatkan salah satu ulama besar NU, Abdurrahman 'Gus Dur' Wahid, yang juga dianggap sebagai gurunya, bahwa politik tidak diskriminatif dan tidak mengenal gender.
"Gus Dur merupakan motivator bagi saya, apa yang beliau ajarkan pada saya menjadi penyemangat bagi saya untuk bekerja terus menerus untuk rakyat," tutur dia.
Rieke menyatakan, apabila warga Nahdliyin ingin ada perubahan di Jawa Barat, maka seluruh rakyat dari kaum buruh, tani, nelayan, dan ulama harus bersatu berjuang bersama, untuk bergotong-royong menyelesaikan persoalan setahap demi setahap.
"Jumlah Kaum Nahdliyin di Jawa Barat sangatlah besar, perubahan itu pasti bisa terwujud. Kita bisa melihat bersama-sama, satu persatu madrasah tempat mencetak anak-anak kita, ditutup satu persatu. Karena di Jawa Barat tidak ada kebijakan yang berpihak kepada madrasah-madrasah," jelas dia.
"Mari kita juga bersama-sama untuk melawan kemiskinan dan kebodohan yang masih saja membayangi warga Jawa Barat. Karena kemiskinan dan kebodohan akan mendekatkan kita pada kekufuran," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




