REI Siapkan Blueprint Perumahan Nasional
Selasa, 4 Desember 2012 | 08:44 WIB
REI mempersiapkan blueprint konsep pembangunan real estate Indonesia
Asosiasi Real Estat Indonesia (REI) menyiapkan cetak biru (blueprint) perumahan nasional untuk mengatasi masalah kekurangan perumahan yang hingga saat ini mencapai 13,6 juta unit. Blueprint tersebut akan diserahkan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) REI 2012.
“REI memiliki tanggung jawab moral agar setiap keluarga Indonesia memiliki rumah yang layak. Karena itu, sejak tiga bulan lalu, DPP REI telah menyiapkan blueprint konsep dan arah pembangunan real estat Indonesia,” ujar Ketua Umum DPP REI Setyo Maharso di Jakarta, Senin (3/12).
Dalam penyusunan cetak biru tersebut, kata Setyo, pihaknya melibatkan banyak masukan dan kritikan dari berbagai pihak termasuk akademisi dan pemerintah. “Salah satu yang dibahas dalam Rakernas REI 2012 adalah soal blueprint. Ini akan menjadi kado pemikiran dari REI yang dapat menjadi acuan bersama bagi pemerintah dan pelaku industri perumahan lainnya,” tegas dia.
Rencananya, cetak biru tersebut akan memuat data-data mengenai perumahan nasional selama ini, kondisi, hambatan, dan regulasinya, serta solusinya agar bisa mengurangi backlog. Setyo menyebut, selama ini banyak aturan yang tumpang tindih pada industri properti. Ketidakjelasan kewenangan pemerintah pusat dan daerah membuat pertumbuhan industri tidak secepat yang diharapkan.
“Blueprint ini sesuai dengan tema Rakernas REI pada 4-6 Desember 2012 yaitu Rumah Untuk Semua. Dengan demikian, semua masyarakat tanpa terkecuali berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak,” ungkap dia.
Dia menambahkan, cetak biru tersebut menjadi semacam roadmap. Dengan roadmap, sektor real estat Indonesia diharapkan dapat tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan sektor lainnya. Misalnya, saat kredit rumah murah melalui FLPP mandek, pelaku industri harus punya solusi. “Caranya, yaitu bekerja sama dengan perbankan agar permintaan rumah bagi masyarakat kurang mampu bisa terserap,” papar dia.
Saat penyaluran FLPP terhenti awal tahun ini, REI fasilitasi kerja sama dengan bank membuat program baru. Jadi meski FLPP tidak mencapai target, program kerja temen-temen pengembang bisa tercapai dengan koridor lain (non-FLPP),” kata Setyo.
Secara umum diharapkan industri properti mampu tumbuh lebih cepat, dari saat ini yang hanya menyumbang 5 persen pertumbuhan ekonomi, menjadi lebih dari 18 persen seperti yang terjadi di negara lain.
Asosiasi Real Estat Indonesia (REI) menyiapkan cetak biru (blueprint) perumahan nasional untuk mengatasi masalah kekurangan perumahan yang hingga saat ini mencapai 13,6 juta unit. Blueprint tersebut akan diserahkan kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) REI 2012.
“REI memiliki tanggung jawab moral agar setiap keluarga Indonesia memiliki rumah yang layak. Karena itu, sejak tiga bulan lalu, DPP REI telah menyiapkan blueprint konsep dan arah pembangunan real estat Indonesia,” ujar Ketua Umum DPP REI Setyo Maharso di Jakarta, Senin (3/12).
Dalam penyusunan cetak biru tersebut, kata Setyo, pihaknya melibatkan banyak masukan dan kritikan dari berbagai pihak termasuk akademisi dan pemerintah. “Salah satu yang dibahas dalam Rakernas REI 2012 adalah soal blueprint. Ini akan menjadi kado pemikiran dari REI yang dapat menjadi acuan bersama bagi pemerintah dan pelaku industri perumahan lainnya,” tegas dia.
Rencananya, cetak biru tersebut akan memuat data-data mengenai perumahan nasional selama ini, kondisi, hambatan, dan regulasinya, serta solusinya agar bisa mengurangi backlog. Setyo menyebut, selama ini banyak aturan yang tumpang tindih pada industri properti. Ketidakjelasan kewenangan pemerintah pusat dan daerah membuat pertumbuhan industri tidak secepat yang diharapkan.
“Blueprint ini sesuai dengan tema Rakernas REI pada 4-6 Desember 2012 yaitu Rumah Untuk Semua. Dengan demikian, semua masyarakat tanpa terkecuali berhak mendapatkan tempat tinggal yang layak,” ungkap dia.
Dia menambahkan, cetak biru tersebut menjadi semacam roadmap. Dengan roadmap, sektor real estat Indonesia diharapkan dapat tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan sektor lainnya. Misalnya, saat kredit rumah murah melalui FLPP mandek, pelaku industri harus punya solusi. “Caranya, yaitu bekerja sama dengan perbankan agar permintaan rumah bagi masyarakat kurang mampu bisa terserap,” papar dia.
Saat penyaluran FLPP terhenti awal tahun ini, REI fasilitasi kerja sama dengan bank membuat program baru. Jadi meski FLPP tidak mencapai target, program kerja temen-temen pengembang bisa tercapai dengan koridor lain (non-FLPP),” kata Setyo.
Secara umum diharapkan industri properti mampu tumbuh lebih cepat, dari saat ini yang hanya menyumbang 5 persen pertumbuhan ekonomi, menjadi lebih dari 18 persen seperti yang terjadi di negara lain.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




