Wikileaks: "SBY the thingking general"
Jumat, 3 Desember 2010 | 12:05 WIB"Bila Wiranto menjadi presiden, hubungan Indonesia dan Amerika akan menjadi sulit"
Wikleaks menepati janjinya untuk merilis dokumen rahasia Amerika Serikat tentang Indonesia namun baru tiga dokumen yang diumumkan dari sekitar 3 ribuan dokumen tentang Indonesia.
Tiga dokumen tersebut berisikan beberapa poin semacam laporan dari Kedutaan Besar Amerika di Jakarta ke Washington, diungkapkan situs Republika hari ini. Sementara itu, Menko Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto telah memerintahkan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa dan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring untuk memantau situs WikiLeaks. "Saya sudah perintahkan kepada Menkominfo dan Kemenlu untuk melihat apa saja isi dari Wikileaks itu," kata Djoko di kompleks istana, Jakarta, seperti dikutip Antara
Laporan-laporan itu antara lain Congressional Research Service Report RS21874 tentang hasil Pemilu 2004.
Disebutkan dalam laporan tersebut, "SBY adalah the thinking general" dan "bila Wiranto menjadi presiden, hubungan Indonesia dan Amerika akan menjadi sulit karena Kongres Amerika menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur."
Laporan itu juga menyebutkan, suksesnya Pemilu 2004 akan meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat.
Disebutkan dalam laporan tersebut, "SBY adalah the thinking general" dan "bila Wiranto menjadi presiden, hubungan Indonesia dan Amerika akan menjadi sulit karena Kongres Amerika menaruh perhatian besar pada isu pelanggaran HAM di Timor Timur."
Laporan itu juga menyebutkan, suksesnya Pemilu 2004 akan meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat.
Laporan berkode Report RS20332, 5 November 1999 dan berjudul "East Timor Crisis: US Policy and Options", adalah laporan soal Timor Timur. Disebutkan, "Pemerintahan Bill Clinton menekan Indonesia agar menerima kehadiran pasukan perdamaian internasional di Timor Timur usai jajak pendapat 1999."
Amerika juga menghendaki, "Menghentikan kerja sama militer dengan Indonesia dan mengancam sanksi lebih keras bila tak mau bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur." Dokumen itu juga menyebutkan, Amerika "Mendukung keputusan IMF dan Bank Dunia menghentikan bantuan mereka untuk Indonesia."
Beberapa bantuan yang dihapus, adalah bantuan ekonomi untuk tahun 2000 sebesar US$ 75 juta, Economic Support Funds US$ 5 juta dan IMET US$ 400 ribu.
Dokumen ketiga yang dibocorkan Wikileaks menyangkut pelatihan Kopassus. Dokumen itu bertajuk "Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress" bertanggal 26 Januari 1999.
Disebutkan dalam dokumen, "Sejak 1992, Kongres Amerika memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer In ternasional (IMET) untuk Indonesia setelah tragedi Santa Cruz."
Namun belakangan, di bawah program JCET Departemen Pertahanan yang di setujui oleh Departemen Luar Negeri, sebanyak 60 TNI yang sebagian besar anggota pasukan Baret Merah Indonesia dilatih oleh pasukan Baret Hijau Amerika. Tempat pelatihan berlangsung di Indonesia. Menurut JCET pelatihan itu murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul "Crowd Control".
Amerika juga menghendaki, "Menghentikan kerja sama militer dengan Indonesia dan mengancam sanksi lebih keras bila tak mau bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur." Dokumen itu juga menyebutkan, Amerika "Mendukung keputusan IMF dan Bank Dunia menghentikan bantuan mereka untuk Indonesia."
Beberapa bantuan yang dihapus, adalah bantuan ekonomi untuk tahun 2000 sebesar US$ 75 juta, Economic Support Funds US$ 5 juta dan IMET US$ 400 ribu.
Dokumen ketiga yang dibocorkan Wikileaks menyangkut pelatihan Kopassus. Dokumen itu bertajuk "Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress" bertanggal 26 Januari 1999.
Disebutkan dalam dokumen, "Sejak 1992, Kongres Amerika memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer In ternasional (IMET) untuk Indonesia setelah tragedi Santa Cruz."
Namun belakangan, di bawah program JCET Departemen Pertahanan yang di setujui oleh Departemen Luar Negeri, sebanyak 60 TNI yang sebagian besar anggota pasukan Baret Merah Indonesia dilatih oleh pasukan Baret Hijau Amerika. Tempat pelatihan berlangsung di Indonesia. Menurut JCET pelatihan itu murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul "Crowd Control".
Wikileaks juga menyebutkan, "Pada April 1998, anggota Kongres Amerika menyurati Menteri Pertahanan Cohen Evans dan menyebut program JCET mengakali larangan Kongres. Pelatihan oleh JCET dihentikan 8 Mei 1998."
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




