Ratusan Ekor Itik di Bengkulu Diduga Terjangkit Flu Burung
Kamis, 27 Desember 2012 | 10:36 WIB
Sampai hari ini masih diterima laporan adanya itik yang mati secara mendadak.
Sebanyak 750 ekor itik milik Aswin, warga Kelurahan Sukarami, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, kemarin, ditemukan mati mendadak. Diduga, kematian itik tersebut akibat terserang flu burung.
Koordinator pengendalian flu burung Provinsi Bengkulu Erman Kuswadi yang dihubungi di Bengkulu, hari ini, membenarkan hal tersebut. Namun, pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian ratusan ekor itu tersebut apakah disebabkan flu burung atau penyakit ternak lainnya.
"Saya belum bisa memastikan apakah kematian itik milik Aswin karena flu burung atau bukan karena pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel itik tersebut dari laboratoirum kesehatan hewan di Lampung. Kita harapkan dlam waktu dekat ini hasilnya sudah ada," ujarnya.
Namun, dari hasil uji coba tes rapid hasilnya negatif flu burung. Meski demikian, pihaknya menemukan gejala mirip flu burung pada itik yang mati mendadak tersebut, seperti mata putih, torti, mata itik bengkak dan mengeluarkan cairan dari hidung.
"Kalau ciri-ciri yang kita temukan pada itik itu terkena penyakit flu burung, tapi hasil tes rapid hasilnya negatif. Meski demikian, kepastian penyebab kematian ratusan ekor itik milik Aswin kita tunggu saja hasil labor kesehatan hewan Lampung," ujarnya.
Erman mengatakan, itik milik warga Sukarami yang mati mendadak sebanyak 740 ekor itu berasal dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Itik tersebut masuk ke Bengkulu awal Desember lalu, dan setelah berada dua minggu di Bengkulu secara perlahan mati mendadak.
Bahkan, sampai Kamis (27/12), pihaknya baru mendapat laporan kembali ditemukan itik mati mendadak milik Aswin. Pihaknya menduga kematian itik tersebut akibat terjangkit flu burung. Namun, pihaknya masih menunggu hasil sampel bangkai itik dari laboratorium Lampung.
"Jika hasil pemeriksaan labor kesehatan hewan Lampung kematian itik milik Aswin positif flu burung, maka pihaknya segera melakukan penyemprotan di sekitar lokasi kematian itik tersebut. Ini dilakukan agar virus yang bisa mematikan manusia tidak meluas di Bengkulu," ujarnya.
Erman menambahkan, kasus flu burung sudah mulai merebak di Bengkulu pada Oktober lalu. Dari laporan masyarakat ke pihknya dalam kurun waktu tiga bulan sudah ribuan ekor unggas milik warga Kota Bengkulu mati mendadak.
Dari jumlah unggas yang mati itu, puluhan ekor di antaranya positif terjangkit flu burung. Unggas warga yang terjangkit flu burung tersebar di sejumlah kecamatan di Kota Bengkulu. "Untuk menekan kasus flu burung telah dilakukan penyemprotan disfektan di sekitar ditemukan unggas mati mendadak, kata Erman.
Selain itu, bangkai itik dimusnakan dengan cara dibakar. Sedangkan itik yang masih hidup diminta kepada pemiliknya untuk dimusnahkan sendiri dan tidak boleh dikonsumsi.
Soalnya, jika itik dimusnahkan oleh tim pengendalian flu burung Bengkulu, pemilik itik minta ganti rugi. Sedangkan dana ganti rugi pemusnahan itik milikm warga yang terindikasi terjangkit flu burung tidak tersedia. "Karena itu, kita minta pemilik itik dengan sukarela memusnahkannya sendiri," ujarnya.
Sebanyak 750 ekor itik milik Aswin, warga Kelurahan Sukarami, Kecamatan Selebar, Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu, kemarin, ditemukan mati mendadak. Diduga, kematian itik tersebut akibat terserang flu burung.
Koordinator pengendalian flu burung Provinsi Bengkulu Erman Kuswadi yang dihubungi di Bengkulu, hari ini, membenarkan hal tersebut. Namun, pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian ratusan ekor itu tersebut apakah disebabkan flu burung atau penyakit ternak lainnya.
"Saya belum bisa memastikan apakah kematian itik milik Aswin karena flu burung atau bukan karena pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel itik tersebut dari laboratoirum kesehatan hewan di Lampung. Kita harapkan dlam waktu dekat ini hasilnya sudah ada," ujarnya.
Namun, dari hasil uji coba tes rapid hasilnya negatif flu burung. Meski demikian, pihaknya menemukan gejala mirip flu burung pada itik yang mati mendadak tersebut, seperti mata putih, torti, mata itik bengkak dan mengeluarkan cairan dari hidung.
"Kalau ciri-ciri yang kita temukan pada itik itu terkena penyakit flu burung, tapi hasil tes rapid hasilnya negatif. Meski demikian, kepastian penyebab kematian ratusan ekor itik milik Aswin kita tunggu saja hasil labor kesehatan hewan Lampung," ujarnya.
Erman mengatakan, itik milik warga Sukarami yang mati mendadak sebanyak 740 ekor itu berasal dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Itik tersebut masuk ke Bengkulu awal Desember lalu, dan setelah berada dua minggu di Bengkulu secara perlahan mati mendadak.
Bahkan, sampai Kamis (27/12), pihaknya baru mendapat laporan kembali ditemukan itik mati mendadak milik Aswin. Pihaknya menduga kematian itik tersebut akibat terjangkit flu burung. Namun, pihaknya masih menunggu hasil sampel bangkai itik dari laboratorium Lampung.
"Jika hasil pemeriksaan labor kesehatan hewan Lampung kematian itik milik Aswin positif flu burung, maka pihaknya segera melakukan penyemprotan di sekitar lokasi kematian itik tersebut. Ini dilakukan agar virus yang bisa mematikan manusia tidak meluas di Bengkulu," ujarnya.
Erman menambahkan, kasus flu burung sudah mulai merebak di Bengkulu pada Oktober lalu. Dari laporan masyarakat ke pihknya dalam kurun waktu tiga bulan sudah ribuan ekor unggas milik warga Kota Bengkulu mati mendadak.
Dari jumlah unggas yang mati itu, puluhan ekor di antaranya positif terjangkit flu burung. Unggas warga yang terjangkit flu burung tersebar di sejumlah kecamatan di Kota Bengkulu. "Untuk menekan kasus flu burung telah dilakukan penyemprotan disfektan di sekitar ditemukan unggas mati mendadak, kata Erman.
Selain itu, bangkai itik dimusnakan dengan cara dibakar. Sedangkan itik yang masih hidup diminta kepada pemiliknya untuk dimusnahkan sendiri dan tidak boleh dikonsumsi.
Soalnya, jika itik dimusnahkan oleh tim pengendalian flu burung Bengkulu, pemilik itik minta ganti rugi. Sedangkan dana ganti rugi pemusnahan itik milikm warga yang terindikasi terjangkit flu burung tidak tersedia. "Karena itu, kita minta pemilik itik dengan sukarela memusnahkannya sendiri," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




