Belum Ada Penangkal Serangan Flu Burung ke Itik
Kamis, 27 Desember 2012 | 10:40 WIB
Data terakhir menyebutkan, ada 2.907 itik mati yang diduga terjangkit flu burung.
Pemerintah masih belum memiliki vaksin penangkal serangan virus flu burung jenis baru yang hanya menyerang itik. Vaksin yang sudah ada tidak efektif menahan serangan virus tersebut.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat, Koesmayadie Tatang Padmadinata mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan vaksin baru. “Mudah-mudahan dalam waktu enam minggu ke depan sudah ditemukan,” kata Koesmayadie di Bandung, kemarin.
Penelitiannya, sambung Koesmayadie, dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Kementerian Pertanian. Mereka mengisolasi virus flu burung yang menyerang itik.
“Yang sekarang itu masih keluarga H5N1 tapi menyerang ke itik. Vaksin yang lama dan sudah kita bagikan sekarang sedang diuji keefektifannya untuk (menghadapi) serangan virus flu burung jenis baru.”
Kebutuhan vaksin tersebut nantinya untuk diberikan kepada itik dan unggas lainnya yang ada di wilayah penyebaran virus flu burung tipe baru. Saat ini, virus tersebut dilaporkan menyerang itik di Bekasi, Subang, dan Indramayu.
“Data terakhir, ada 2.907 itik yang mati. Kalau di Subang masih belum positif, tapi dua daerah lainnya sudah,” imbuh Koesmayadie.
Dari pemeriksaan di lokasi kejadian, kebanyakan itik yang mati itu berasal dari Kota Brebes.
Koesmayadie memaparkan, kebutuhan vaksin itu nantinya mengacu pada populasi itik. Catatan Dinas Peternakan Jawa Barat, populasi itik menembus 9 juta ekor, dan mayoritas berada di wilayah utara Jawa Barat. Hingga saat ini, kata Koesmayadi, pihaknya belum mendapat laporan soal serangan flu burung pada unggas peliharaan lain, selain itik.
Populasi unggas lainnya juga cukup besar di Jawa Barat, seperti ayam buras yang mencapai 26 juta ekor, ayam ras petelur ada 12 juta ekor, dan ayam pedaging sebanyak 87 juta ekor.
Sembari menanti vaksin itu selesai diproduksi, Dinas Peternakan Jawa Barat sudah menyebarkan cairan disinfektan ke berbagai wilayah. Penyebaran cairan tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang itiknya positif terserang virus flu burung. “Juga di daerah-daerah sekitarnya, karena ada ancamannya,” kata Koesmayadie.
Upaya pencegahan lain adalah dengan melarang pengiriman itik dari wilayah yang positif terserang flu burung. Pelarangan itu dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan. “Hingga aman dan vaksinnya sudah ada,” kata Koesmayadie.
Saat ini pemantauan kasus flu burung dilakukan oleh 222 petugas parsipatory disease surveillance response. Mereka adalah petugas yang berada di lapangan untuk menangani dan memberikan data terkait serangan virus flu burung. “Dalam 1 x 24 jam, informasinya dilaporkan ke kami,” imbuh Koesmayadie.
Secara terpisah, Manajer CV Missouri, Charly Latif mengatakan, pihaknya tidak khawatir dengan penyebaran virus flu burung jenis baru tersebut. “Memang ada serangan ke itik, tapi kami tidak khawatir karena ternak di tempat kami sudah mendapatkan vaksinasi lengkap,” ujar pengusaha pembibitan ayam ini.
Selain itu, sambung Charly, berdasarkan informasi yang diterimanya, serangan virus flu burung jenis baru itu hanya menyerang itik. “Biasanya terjadi di peternakan rakyat,” ungkap dia.
Pemerintah masih belum memiliki vaksin penangkal serangan virus flu burung jenis baru yang hanya menyerang itik. Vaksin yang sudah ada tidak efektif menahan serangan virus tersebut.
Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat, Koesmayadie Tatang Padmadinata mengatakan, pemerintah sedang menyiapkan vaksin baru. “Mudah-mudahan dalam waktu enam minggu ke depan sudah ditemukan,” kata Koesmayadie di Bandung, kemarin.
Penelitiannya, sambung Koesmayadie, dilakukan oleh Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan, Kementerian Pertanian. Mereka mengisolasi virus flu burung yang menyerang itik.
“Yang sekarang itu masih keluarga H5N1 tapi menyerang ke itik. Vaksin yang lama dan sudah kita bagikan sekarang sedang diuji keefektifannya untuk (menghadapi) serangan virus flu burung jenis baru.”
Kebutuhan vaksin tersebut nantinya untuk diberikan kepada itik dan unggas lainnya yang ada di wilayah penyebaran virus flu burung tipe baru. Saat ini, virus tersebut dilaporkan menyerang itik di Bekasi, Subang, dan Indramayu.
“Data terakhir, ada 2.907 itik yang mati. Kalau di Subang masih belum positif, tapi dua daerah lainnya sudah,” imbuh Koesmayadie.
Dari pemeriksaan di lokasi kejadian, kebanyakan itik yang mati itu berasal dari Kota Brebes.
Koesmayadie memaparkan, kebutuhan vaksin itu nantinya mengacu pada populasi itik. Catatan Dinas Peternakan Jawa Barat, populasi itik menembus 9 juta ekor, dan mayoritas berada di wilayah utara Jawa Barat. Hingga saat ini, kata Koesmayadi, pihaknya belum mendapat laporan soal serangan flu burung pada unggas peliharaan lain, selain itik.
Populasi unggas lainnya juga cukup besar di Jawa Barat, seperti ayam buras yang mencapai 26 juta ekor, ayam ras petelur ada 12 juta ekor, dan ayam pedaging sebanyak 87 juta ekor.
Sembari menanti vaksin itu selesai diproduksi, Dinas Peternakan Jawa Barat sudah menyebarkan cairan disinfektan ke berbagai wilayah. Penyebaran cairan tersebut diprioritaskan pada daerah-daerah yang itiknya positif terserang virus flu burung. “Juga di daerah-daerah sekitarnya, karena ada ancamannya,” kata Koesmayadie.
Upaya pencegahan lain adalah dengan melarang pengiriman itik dari wilayah yang positif terserang flu burung. Pelarangan itu dilakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan. “Hingga aman dan vaksinnya sudah ada,” kata Koesmayadie.
Saat ini pemantauan kasus flu burung dilakukan oleh 222 petugas parsipatory disease surveillance response. Mereka adalah petugas yang berada di lapangan untuk menangani dan memberikan data terkait serangan virus flu burung. “Dalam 1 x 24 jam, informasinya dilaporkan ke kami,” imbuh Koesmayadie.
Secara terpisah, Manajer CV Missouri, Charly Latif mengatakan, pihaknya tidak khawatir dengan penyebaran virus flu burung jenis baru tersebut. “Memang ada serangan ke itik, tapi kami tidak khawatir karena ternak di tempat kami sudah mendapatkan vaksinasi lengkap,” ujar pengusaha pembibitan ayam ini.
Selain itu, sambung Charly, berdasarkan informasi yang diterimanya, serangan virus flu burung jenis baru itu hanya menyerang itik. “Biasanya terjadi di peternakan rakyat,” ungkap dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




