Flu Burung Jenis Baru Dicurigai karena Migrasi Unggas Liar

Kamis, 27 Desember 2012 | 20:24 WIB
DH
BA
Penulis: Dessy Sagita/ Murizal Hamzah | Editor: B1
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (tengah).
Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi (tengah). (EPA)
Menkes menegaskan hingga kini belum ada laporan virus flu burung clade baru yang menulari manusia di Indonesia.

Komisi Nasional (Komnas) Zoonosis mencurigai merebaknya virus flu burung clade baru yang menyerang ribuan itik di Indonesia terkait dengan migrasi burung liar.

Ketua Pelaksana Komnas Zoonosis, Emil Agustiono, mengatakan bahwa dirinya mencurigasi virus flu burung clade 2.3.2 yang menyebabkan 150.000 itik harus dimusnahkan, pertama kali ditularkan oleh burung liar yang bermigrasi dari negara lain.

"Yang harus kita cari tahu, mengapa awalnya di Brebes? Bisa jadi karena di Brebes populasi itiknya tinggi, dan dibiarkan berkeliaran," ujar Emil.

Menurutnya lagi, oleh karena itik di Brebes yang merupakan daerah penghasil telor asin, dibiarkan berkeliaran bebas, bisa jadi mereka tertular virus dari unggas lain yang bermigrasi dari negara endemik flu burung jenis baru itu.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan virus flu burung clade baru yang menulari manusia di Indonesia. Kematian terakhir akibat flu burung yang terjadi pada anak berusia empat tahun di Bogor, awal Desember lalu, diketahui karena infeksi virus flu burung clade yang lama yaitu clade 2.1.3.

Menurut Nafsiah pula, Indonesia tetap harus waspada, karena kasus penularan virus flu burung clade baru ini pada manusia sudah terjadi di negara lain.

Menurutnya, di China pada tahun 2009, dilaporkan ada satu kasus flu burung clade baru yang pasiennya meninggal dunia. Korban meninggal akibat flu burung clade baru itu juga ditemui di Hong Kong, serta di Bangladesh dimana pada tahun 2012 ada tiga orang meninggal akibatnya.

Sementara, Emil menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat dipastikan apakah flu burung clade 2.3.2 hasil mutasi ini lebih mematikan dibanding clade 2.1.3.

"Yang pasti, virus H5N1 itu, baik clade lama maupun baru, sama-sama bisa menimbulkan kematian, dan potensi pandemi itu sangat mungkin terjadi. Hanya memang, potensi penularan dari manusia ke manusia masih jauh," ujarnya.

Emil mengatakan, sejauh ini belum ditemukan penjelasan mengapa virus H5N1 clade baru lebih banyak menyerang itik ketimbang ayam.

"Mungkin masalah ketahanan. Jenis unggas tertentu ada yang lebih sensitif terhadap suatu clade," katanya. Untuk diketahui, selain menyerang itik, diketahui virus H5N1 clade baru ini juga menyerang entok.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon