BBM Subsidi Langka, Warga Palangkaraya Serbu Pertamax
Jumat, 4 Januari 2013 | 00:32 WIB
Bensin premium sulit didapatkan di daerah Palangkaraya, Kalimantan Tengah sejak 31 Desember 2012.
Bahan bakar minyak nonsubsidi jenis pertamax diserbu warga Palangkaraya dan sekitarnya, Kamis (3/1), menyusul kelangkaan BBM jenis premium di daerah itu.
"Pertamax yang biasanya dalam sebulan hanya dua tangki baru habis, namun sejak bensin sulit, sehari saja sudah habis terjual satu tangki," kata Pengawas Lapangan SPBU Jalan G Obos Palangka Raya, Ali.
Lebih lanjut Ali mengakui, dalam dua hari terakhir Palangkaraya kembali mengalami kelangkaan BBM jenis premiun, lantaran Jalan Tumbang Nusa banjir, sehingga pasokan tersendat dari Depot Pertamina Kabupaten Pulang Pisau juga terhambat.
Kendati distribusi untuk SPBU mengalami kendala, akan tetapi ia bersyukur, karena pukul 02.00 WIB BBM sudah bisa disuplai ke SPBU.
Ia mengakui, sejak terjadi kelangkaan beberapa hari ini, ada pembatasan dari Depot Pertamina Pulang Pisau yang biasanya enam tangki sehari atau 60.000 liter berkurang menjadi separuhnya.
Namun ia memahami adanya pembatasan tersebut bukan disengaja dibatasi, namun untuk menyikapi masih sulitnya pasokan BBM jenis premium.
Ia tidak bisa memastikan kapan pasokan akan kembali normal, karena semua tergantung dari kelancaran distribusi di Jalan Tumbang Nusa yang masih banjir.
Kelangkaan tidak hanya terjadi di SPBU, namun hingga penjual pengecer yang hampir di setiap pengecer, BBM jenis premium habis.
Kendati begitu, harga di tingkat pengecer tidak dinaikkan, masih berkisar antara Rp5.500-Rp.6.000 per liter.
Salah seorang warga, Ani berharap, agar kelangkaan dapat segera diatasi, meskipun saat ini disebabkan karena Jalan Tumbang Nusa yang banjir dan sedang dibangun jembatannya, namun hendaknya dapat segera dicari jalan keluarnya.
"Kalau sekarang distribusi dari Depot Pertamina Pulang Pisau terhambat karena jalan banjir, kan bisa dari Depot Pertamina Sampit untuk solusinya," ucapnya.
Bahan bakar minyak nonsubsidi jenis pertamax diserbu warga Palangkaraya dan sekitarnya, Kamis (3/1), menyusul kelangkaan BBM jenis premium di daerah itu.
"Pertamax yang biasanya dalam sebulan hanya dua tangki baru habis, namun sejak bensin sulit, sehari saja sudah habis terjual satu tangki," kata Pengawas Lapangan SPBU Jalan G Obos Palangka Raya, Ali.
Lebih lanjut Ali mengakui, dalam dua hari terakhir Palangkaraya kembali mengalami kelangkaan BBM jenis premiun, lantaran Jalan Tumbang Nusa banjir, sehingga pasokan tersendat dari Depot Pertamina Kabupaten Pulang Pisau juga terhambat.
Kendati distribusi untuk SPBU mengalami kendala, akan tetapi ia bersyukur, karena pukul 02.00 WIB BBM sudah bisa disuplai ke SPBU.
Ia mengakui, sejak terjadi kelangkaan beberapa hari ini, ada pembatasan dari Depot Pertamina Pulang Pisau yang biasanya enam tangki sehari atau 60.000 liter berkurang menjadi separuhnya.
Namun ia memahami adanya pembatasan tersebut bukan disengaja dibatasi, namun untuk menyikapi masih sulitnya pasokan BBM jenis premium.
Ia tidak bisa memastikan kapan pasokan akan kembali normal, karena semua tergantung dari kelancaran distribusi di Jalan Tumbang Nusa yang masih banjir.
Kelangkaan tidak hanya terjadi di SPBU, namun hingga penjual pengecer yang hampir di setiap pengecer, BBM jenis premium habis.
Kendati begitu, harga di tingkat pengecer tidak dinaikkan, masih berkisar antara Rp5.500-Rp.6.000 per liter.
Salah seorang warga, Ani berharap, agar kelangkaan dapat segera diatasi, meskipun saat ini disebabkan karena Jalan Tumbang Nusa yang banjir dan sedang dibangun jembatannya, namun hendaknya dapat segera dicari jalan keluarnya.
"Kalau sekarang distribusi dari Depot Pertamina Pulang Pisau terhambat karena jalan banjir, kan bisa dari Depot Pertamina Sampit untuk solusinya," ucapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




