Bahaya Flu Burung Jenis Baru Sulit Diketahui
Minggu, 13 Januari 2013 | 15:39 WIB
Masih sedikitnya kasus flu burung jenis baru yang menyerang manusia, membuat studi untuk mengetahui tingkat bahaya virus tersebut sulit dilakukan.
"Karena belum ada laporan kasusnya pada manusia, maka kita belum bisa mengadakan penelitian mengenai tingkat severity (keparahan) clade baru 2.3.2 dibanding clade sebelumnya," ujar Sekretaris Komisi Nasional Zoonosis, Emil Agustiono.
Ia mengatakan, sejauh ini meskipun clade baru flu burung telah mengalami mutasi genetik, belum diketahui apakah jenis virus tersebut lebih mematikan dibanding clade sebelumnya.
Hal senada diungkapkan oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama.
"Biasanya, sebuah studi untuk mengetahui apakah suatu virus lebih mematikan, dilakukan jika jatuh banyak korban. Masalahnya, di seluruh dunia baru ada delapan kasus virus flu burung clade baru pada manusia, dan tidak ada di Indonesia, " ujarnya.
Disebutkan Tjandra, beberapa negara yang telah melaporkan kasus flu burung clade baru pada manusia adalah China, Hong Kong dan Bangladesh. Dia pun mengatakan, sejauh ini para pasien flu burung clade baru ini masih mendapat penanganan yang sama dengan virus H5N1 clade sebelumnya.
"Setahu saya, protapnya masih sama. Pasien masih dikarantina dan diberi Oseltamivir," ujarnya.
Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah Mboi sebelumnya mengatakan, masyarakat tidak perlu merasa cemas mengonsumsi daging itik, meskipun virus flu burung clade 2.3.2 telah menyerang ribuan itik di beberapa daerah. Ia mengatakan, meski sudah mengalami mutasi genetik, virus flu burung clade baru diketahui tidak tahan panas dan akan mati jika dimasak dengan benar.
"Karena belum ada laporan kasusnya pada manusia, maka kita belum bisa mengadakan penelitian mengenai tingkat severity (keparahan) clade baru 2.3.2 dibanding clade sebelumnya," ujar Sekretaris Komisi Nasional Zoonosis, Emil Agustiono.
Ia mengatakan, sejauh ini meskipun clade baru flu burung telah mengalami mutasi genetik, belum diketahui apakah jenis virus tersebut lebih mematikan dibanding clade sebelumnya.
Hal senada diungkapkan oleh Dirjen Pengendalian Penyakit dan Pengendalian Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama.
"Biasanya, sebuah studi untuk mengetahui apakah suatu virus lebih mematikan, dilakukan jika jatuh banyak korban. Masalahnya, di seluruh dunia baru ada delapan kasus virus flu burung clade baru pada manusia, dan tidak ada di Indonesia, " ujarnya.
Disebutkan Tjandra, beberapa negara yang telah melaporkan kasus flu burung clade baru pada manusia adalah China, Hong Kong dan Bangladesh. Dia pun mengatakan, sejauh ini para pasien flu burung clade baru ini masih mendapat penanganan yang sama dengan virus H5N1 clade sebelumnya.
"Setahu saya, protapnya masih sama. Pasien masih dikarantina dan diberi Oseltamivir," ujarnya.
Menteri Kesehatan (Menkes), Nafsiah Mboi sebelumnya mengatakan, masyarakat tidak perlu merasa cemas mengonsumsi daging itik, meskipun virus flu burung clade 2.3.2 telah menyerang ribuan itik di beberapa daerah. Ia mengatakan, meski sudah mengalami mutasi genetik, virus flu burung clade baru diketahui tidak tahan panas dan akan mati jika dimasak dengan benar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




