Serangan Kedutaan di Libya, Clinton Akui Kesalahan

Rabu, 23 Januari 2013 | 23:49 WIB
BA
B
Penulis: Bloomberg/ Heru Andriyanto | Editor: B1
Menlu AS Hillary Clinton bersaksi di Senat soal serangan militan di kedutaan AS di Benghazi, Libya, 23 Januari 2013.
Menlu AS Hillary Clinton bersaksi di Senat soal serangan militan di kedutaan AS di Benghazi, Libya, 23 Januari 2013. (Reuters)
Dua pekan lagi resmi mundur dari jabatan menlu Amerika Serikat.

Washington -
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Clinton mengatakan dia yang akan memikul tanggung jawab soal lemahnya pengamanan di kantor kedutaan AS di Benghazi, Libya, yang September tahun lalu diserang kelompok militan dan menewaskan empat orang termasuk Duta Besar Chris Stevens.

“Saya yang bertanggungjawab, dan tak ada yang lebih menginginkan dibenahinya masalah ini (daripada saya),” kata Clinton saat bersaksi di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, Rabu (23/1).

“Saya bertekad untuk membuat Kementerian Luar Negeri dan negeri kita lebih aman, lebih kuat dan lebih terlindungi.”

Setelah kesaksiannya Rabu pagi waktu setempat, Clinton juga dijadwalkan hadir di depan Komite Urusan Luar Negeri DPR untuk agenda yang sama.

Senator Bob Corker dari Partai Republik mengkritisi adanya "kegagalan sistematis" dalam proses pembuatan keputusan soal masalah pengamanan di Kemenlu. Meskipun mengakui adanya kesalahan, Clinton berdalih dirinya tidak memeriksa kawat diplomatik yang meminta peningkatan keamanan di Libya.

“Saya tidak melihat ada permintaan semacam itu, karena tidak dikirim ke saya,” kata Clinton.

“Saya tidak memberi persetujuan atau menolaknya. Permintaan ini biasanya tidak disampaikan langsung ke menteri luar negeri.”

Menurut Clinton, langkah-langkah peningkatan pengamanan pada umumnya terhambat oleh "penurunan yang konsisten" dalam anggaran yang disahkan Kongres untuk pembangunan dan pengamanan kedutaan.

Clinton akan mundur dari jabatannya dalam dua pekan ini dan dengar pendapat di Senat serta DPR akan menyelesaikan satu masalah penting sebelum penggantinya ditunjuk.

Kamis besok, Senat akan mempertimbangkan pilihan Presiden Barack Obama untuk menlu baru yaitu Senator John Kerry dari Massachusetts.

Kerry sebetulnya adalah pimpinan sidang dalam dengar pendapat itu, namun dia menyerahkannya pada Senator Bob Menendez dari New Jersey. Sebelum ini, Clinton lebih banyak diam soal serangan di Benghazi dan mengatakan akan menunggu laporan dari dewan penilaian independen yang ditunjuknya.

Dewan ini kemudian menemukan bahwa kementerian luar negeri kurang memiliki kepemimpinan yang proaktif dan kemampuan manajemen, meskipun tidak ditemukan satu pun pejabat yang melanggar tugas mereka.

Laporan dewan tersebut juga menyalahkan Kemenlu karena gagal memberi pengamanan yang memadai di Benghazi sehingga tak bisa melawan serangan yang terjadi.

Hasil penyelidikan menemukan fakta bahwa tidak ada peringatan intelijen sama sekali tentang serangan tersebut.

Dalam peristiwa tanggal 11 September itu, di tengah merebaknya aksi protes di Kairo dan di kota-kota Arab terkait sebuah video anti-Islam, kelompok militan menyerang gedung Kedutaan di Benghazi serta membakarnya, sehingga menewaskan Dubes Stevens dan spesialis informasi Sean Smith.

Para militan kemudian menembakkan mortir ke gedung milik CIA yang berdekatan yang menjadi tempat mengungsi para pegawai Kedutaan, dan menewaskan dua mantan anggota Navy SEAL Tyrone Woods dan Glen Doherty yang bekerja sebagai pegawai sekuriti.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon