Boris Johnson, Perdana Menteri yang Langgar Semua Aturan

Jumat, 8 Juli 2022 | 02:21 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
Perdana menteri Inggris Boris Johnson menyampaikan pernyataan pers di Downing Street 10, London, 7 Juli 2022. (Justin Tallis/AFP)
Perdana menteri Inggris Boris Johnson menyampaikan pernyataan pers di Downing Street 10, London, 7 Juli 2022. (Justin Tallis/AFP) (AFP)

Beritasatu.com - Boris Johnson sudah sejak lama melawan aturan-aturan politik yang normal, dan sulit dipercaya dia bisa bertahan cukup lama.

Berbagai skandal yang bisa menenggelamkan politisi lain seperti tidak punya efek padanya. Dia selalu mampu bangkit. Salah omong dan blunder malah menjadi bagian dari citranya.

Di era yang penuh politisi membosankan bak robot, dia dilihat memiliki "karakter", dengan rambut pirang kusut dan persona yang terkesan tidak teratur sehingga malah bisa dengan cepat dikenali bahkan oleh mereka yang tidak tertarik dengan dunia politik.

Gayanya yang ceria dan terus gempita dipadukan dengan kemampuan berkampanye yang luar biasa membuat Johnson diterima di daerah-daerah pemilihan di mana para politisi Partai Konservatif lain yang konvensional sulit untuk masuk.

Dia dua kali memenangi jabatan wali kota London, kota yang biasanya menjadi basis Partai Buruh, dan mampu meyakinkan jutaan orang untuk mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa, atau Brexit, pada referendum 2016.

Johnson menjadi perdana menteri pada Juli 2019 tanpa didahului pemilu, tetapi empat bulan kemudian menang telak dan Partai Konservatif mampu merebut banyak kursi di wilayah-wilayah yang sebelumnya anti dengan partai tersebut.

Infografis (BBC)
Infografis (BBC)

Saat 2020 dimulai, dominasinya di jagat politik Inggris seharusnya sempurna, tetapi kemudian datang virus Corona.

Pandemi global ini menjadi ujian berat bagi setiap pemimpin negara di mana pun, dan pemerintahan Johnson juga tidak luput dari kesalahan. Dalam satu masa, tingkat kematian akibat Covid-19 di Inggris adalah yang paling tinggi di antara semua negara maju.

Namun akhirnya bukan cara dia menangani Covid-19 yang membuatnya jatuh. Penyebab dia akhirnya harus mundur sebagai ketua Partai Konservatif lebih karena munculnya banyak pertanyaan tentang karakter dan kapasitasnya untuk menduduki jabatan tinggi.

Mantan Jurnalis
Johnson adalah mantan wartawan yang pernah berkarir di Daily Telegraph. Mantan editornya, Sir Max Hastings, menulis dalam sebuah artikel bahwa kepemimpinan Johnson "hampir bisa dipastikan akan mempertontonkan pelanggaran atas aturan, preseden, ketertiban, dan stabilitas".

Sejak masa mudanya, pemilik nama lengkap Alexander Boris de Pfeffel Johnson itu punya kecenderungan untuk menganggap bahwa aturan dibuat dan berlaku untuk orang lain.

"Boris kadang-kadang terlihat tersinggung ketika dikritik karena gagal total mengemban sebuah kewajiban," mantan gurunya Martin Hammond mengenang era ketika Johnson masih berusia 17 tahun. "Pendapat saya, dia benar-benar meyakini bahwa kita ini jahat kalau tidak memberi dia pengecualian dan menganggapnya sebagai orang yang harus dibebaskan dari semua tanggung jawab yang seharusnya berlaku pada semua orang."

Johnson mendapat beasiswa di Eton, yang bisa dibilang sebagai sekolah swasta paling prestisius se-Inggris. Di sana, dia menemukan cintanya pada musik klasik dan mulai membentuk kepribadian yang kemudian lekat dengan dirinya sampai sekarang.

Setelah itu dia kuliah di Oxford University, di mana dia berhasil mewujudkan ambisi untuk menjadi presiden Perserikatan – yaitu komunitas debat yang berdiri sejak 1823 dan menjadi ajang penggemblengan bagi para politisi Konservatif.

Dia juga bergabung di Bullingdon Club, yang para anggotanya dikenal suka mabuk dan kasar. Selain Johnson, anggota klub yang sama yang pernah menjadi perdana menteri adalah David Cameron.

Dari Oxford, dia magang sebagai wartawan di suratkabar Times, tetapi kemudian dipecat karena memalsukan sebuah kutipan. Insiden itu tidak berpengaruh padanya, karena pada 1988 dia direkrut oleh Max Hastings, editor Daily Telegraph.

Johnson menjadi koresponden Telegraph di Brussels, markas Uni Eropa (UE). Dia sering mengolok-olok regulasi yang dibuat oleh Komisi Eropa, meskipun sesama wartawan di Brussels menganggap berita-berita dia didramatisasi dan sebagian tidak benar.

Dalam wawancara dengan BBC pada 2005, Johnson menggambarkan kiprahnya sebagai wartawan di Brussels seperti "melempar batu melewati dinding kebun dan mendengar suara pecah yang menakjubkan di rumah tetangga di Inggris".

"Semua yang saya tulis di Brussels punya dampak eksplosif pada Partai Konservatif, ini benar-benar memberi saya sensasi aneh kekuasaan," papar Johnson ketika itu.

Dia kembali didera masalah ketika muncul rekaman pembicaraan telepon dirinya dengan Darius Guppy, temannya sejak di Oxford. Temannya itu minta Johnson untuk memberi alamat rumah seorang wartawan News of the World.

Johnson setuju memberi alamat, meskipun Guppy mengindikasikan ingin menghajar si wartawan karena menyelidiki skandal perselingkuhannya. Guppy akhirnya mendekam di penjara.

Johnson selamat dan dimaafkan oleh Daily Telegraph dan kembali meliput di Brussels.

Pada 1999, Johnson menjadi editor Spectator, majalah yang sangat berpengaruh di kubu Konservatif.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon