Manuver Jero Dkk Kuatkan Image Demokrat Sebagai Fans Club SBY

Senin, 4 Februari 2013 | 15:47 WIB
MH
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho/ HA | Editor: B1
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat didampingi Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie , Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng , Anggota Dewan Pembina TB Silalahi, Ketum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum  dan Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyonomenghadiri acara silahturahim pengarahan dan pembekalan kepada para pengurus DPP dan DPD Partai Demokrat di pendopo kediaman pribadi Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.FOTO : Widodo S. Jusuf/ANTARA
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat didampingi Wakil Ketua Dewan Pembina Marzuki Alie , Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng , Anggota Dewan Pembina TB Silalahi, Ketum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Sekjen Edhie Baskoro Yudhoyonomenghadiri acara silahturahim pengarahan dan pembekalan kepada para pengurus DPP dan DPD Partai Demokrat di pendopo kediaman pribadi Puri Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.FOTO : Widodo S. Jusuf/ANTARA
Pengamat: daripada ribut-ribut, lebih baik bekerja mentransformasi PD menjadi partai modern.

Manuver sejumlah petinggi Partai Demokrat (PD), yang juga merupakan pejabat kepala daerah dan menteri, dianggap akan memperburuk kinerja pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Pengamat Politik dari Charta Politika, Yunarto Wijaya, menyampaikan hal itu menanggapi desakan agar SBY, sebagai Ketua Dewan Pembina PD, mengambil tindakan terhadap Ketua Umum Anas Urbaningrum.

Adalah Jero Wacik dan Syarif Hassan, dua menteri di kabinet SBY, yang secara terpisah Minggu (3/2) malam membuat seruan itu, setelah ada publikasi survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyebutkan penurunan elektabilitas PD.

Menurut Yunarto, survei yang menempatkan penurunan elektabilitas PD bukanlah hal baru. Namun reaksi Jero Wacik dkk belum tentu tepat.

"Bagi saya, apa yang dilakukan Jero Wacik ini bukan solusi tapi justru membuat masalah baru," kata Yunarto saat dihubungi di Jakarta, Senin (4/2).

Masalah baru yang dia maksud adalah makin lebarnya perpecahan di internal partai itu. Dia membandingkan apa yang terjadi di PD dengan yang terjadi di PKS pasca mundurnya Presiden PKS Luthfie Hasan Ishaaq karena menjadi tersangka korupsi.

Menurutnya, elit PKS memliki cara pas untuk menghadapi krisis yakni menyolidkan organ di bawah secara menyeluruh dan menghentikan faksionalisasi.

"Itu yang dilakukan PKS. Di Demokrat sebaliknya. Mereka justru jadikan krisis ini sebagai ajang menyerang dan menjatuhkan. Bagaimana bicara 2014 kalau upaya perbaikan justru jadi waktu untuk berkelahi," kata Yunarto.

Menurutnya, daripada ribut-ribut, jauh lebih baik bila elit PD berkonsentrasi pada transformasi PD dari partai kelas 'fans club SBY' menjadi partai modern dengan pengaturan organisasi yang baik.

Lebih jauh, menurutnya, pernyataan Jero Wacik justru akan mencetuskan perpecahan di internal PD, yang ujungnya mempersulit SBY sebagai presiden karena diminta turun tangan.

"Istilah agar SBY turun tangan menegaskan PD bergantung pada seorang SBY. Padahal SBY kan juga sibuk mengurusi negara. Negara bisa tak terurus nantinya," jelasnya.

Situasi akan semakin sulit karena publik sendiri menilai kinerja pemerintahan SBY memang cenderung menurun. Dia menekankan jauh lebih baik bila yang dikerjakan elit-elit PD adalah mendorong moderninasi partai itu.

"Kalau sudah jadi organisasi modern, ada mekanisme organisasi untuk menylesaikan masalah. Kalau organisasi bagus, mereka takkan bingung mencari sosok penganti SBY, itu yang jauh lebih penting dikerjakan," tandasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon