Sahabat Harapkan Teten Bisa Bawa Perubahan di Jabar

Rabu, 6 Februari 2013 | 15:41 WIB
JG
YD
Penulis: Juan Ardya Guardiola | Editor: YUD
Rieke Dyah Pitaloka dan Teten Masduki
Rieke Dyah Pitaloka dan Teten Masduki (JG Photo)

Menurut Teten, mendorong perubahan hanya dari luar sama saja dengan mendorong truk tronton yang mogok.

Jakarta - Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Jawa Barat, Teten Masduki terharu. Matanya berkaca-kaca ketika mendengarkan testimoni sahabat-sahabatnya dalam acara silahturahmi "Sahabat Teten" di Warung Daun, Jakarta.  

Ada mantan ketua KPK Erry Ryana H, Koordinator ICW Danang Widjoko, Usman Hamid, Endriarto Sutanto, Li Chen Wei dan Komarussin Hidayat, semuanya menyampaikan dukungan kepada Teten yang akan bertarung dalam Pilkada Jawa Barat mendampingi Rieke Diah Pitaloka.

Mereka berharap Teten yang berlatar belakang aktivis bisa membawa perubahan di pemerintahan Jawa Barat.

Usai mendengarkan testimoni para sahabatnya, Teten bercerita bahwa para sahabatnya pernah menentang rencananya mencalonkan diri menjadi cawagub Jawa Barat.

"Ada dua hal yang dikemukakan mereka. Civil society ini masih diperlukan dan nggak boleh saya yang sudah lama bangun gerakan seolah-olah meninggalkan gerekan civil society. Kedua, mereka takut saya kalah dan ketiga mereka takut saya masuk dalam lumpur kotor," kata Teten, Rabu (6/2).

Akan tetapi, Teten tetap  ingin masuk berkecimpung ke dunia politik. Ia ingin membawa perubahan. Menurut Teten, mendorong perubahan hanya dari luar sama saja dengan mendorong truk tronton yang mogok.

Gerakan perubahan yang selama ini disuarakan oleh dia dan rekan aktivisnya, menurut Teten tidak akan berhasil apabila dikerjakan hanya dari luar. Ibaratnya, kata Teten, bak menyuruh orang buang sampah namun yang disuruh membuang sampah tidak mau.

"Kemapa tidak kita saja yang buang sampah. Itu yang saya pilih. Saya ambil resiko meski saya belum tentu menang. Saya nggak takut lumpur dan belepotan. Ada teratai di lumpur namun tetap indah," kata Teten.

Menurut Teten, terjun ke dunia politik adalah hal yang berat. Terlebih, selama ini Teten sudah berada di posisi nyaman elit civil society. Dimana ia mendapatkan fasilitas dan kemudahan dalam mengakses seluruh pejabat negara di negeri ini.

Tapi, ketika dirinya mulai berkampanye, dia harus kembali turun ke bawah. Bertemu masyarakat kecil di pedesaan, keluar masuk pasar. Sebagai seorang pendiri LSM antikorupsi ICW dan Mantan Sekretaris Jenderal Transpansi Internasional Indonesia (TII) tentu tidak ada yang tidak mengenal sosok Teten. Nyatanya tidak.

"Di desa ada yang kenal tapi sedikit. Tapi kenalpun belum tentu mendukung," kata Teten.

Teten menceritakan ketika dirinya masuk ke sebuah pasar, tidak ada satupun yang menoleh. Tidak ada yang mengenal sosoknya sampai dia memberitahukan bahwa ia adalah cawagub Jawa Barat yang akan bertarung di Pilkada 24 Februari mendatang, barulah orang-orang di pasar menyadari siapa dirinya.

"Saya masuk pasar, tidak ada yang kenal saya. Ternyata berat. Kita menghadapi Jabar yang mayoritas penduduknya hanya lulus SD. Tidak mudah meyakinkan pemilihan irasional semacam itu," kata Teten.

Kemudian Teten berkisah soal pendanaan kampanye. Teten mengaku sebagai cawagub yang mendampingi calon gubernur dari PDIP, ia sama sekali tidak dipaksa untuk memberikan mahar.

Namun, tetap saja ia butuh uang untuk ongkos berkampanye. Teten mengatakan uangnya Rp50 juta sudah habis dipakai untuk kampanye. Ia pun harus mencari dukungan finansial dari  sahabatnya untuk berkampanye.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon