Sekeluarga Warga Prancis Diculik di Kamerun
Rabu, 20 Februari 2013 | 13:39 WIB
Hingga kini, sekitar 15 warga negara Prancis yang sedang ditawan di Afrika Barat.
Lagos, Nigeria - Sebanyak tujuh orang turis, termasuk empat anak-anak, asal Prancis diculik di sebelah Utara Kamerun, Selasa (19/2) waktu setempat.
Presiden dan Menteri Luar Negeri Prancis menuduh kelompok teroris Islam radikal yang beroperasi di seberang perbatasan Utara Nigeria, termasuk organisasi teroris jihad Boko Haram.
Penculikan itu dinilai karena kegagalan intervensi militer Prancis melawan para militan Islam di wilayah Utara Mali.
Walau pejabat Prancis tidak secara lugas menghubungkan kedua kelompok itu dalam pernyataannya, mereka sempat menyebut kedua kelompok itu dan berjanji untuk melanjutkan serangan terhadap para pejuang Islam di Mali.
Hingga kini, sekitar 15 warga negara Prancis yang sedang ditawan di Afrika Barat.
Ketujuh orang yang diculik pada Selasa merupakan satu keluarga yang tinggal di Yaounde, ibukota Kamerun. Mereka berkemah pada Senin malam di taman Nasional Waza, wilayah Utara Kamerun, dan berkemas pada Selasa pagi untuk melihat gajah di tempat pelestarian hewan di Kalamaloue.
Seorang petugas keamanan mengatakan keluarga itu disandera dekat Danga, kota perbatasan, dan kemudian dibawa menyeberangi perbatasan Nigeria ke wilayah semi padang gurun dan semak belukar tempat markas Boko Haram.
Perusahaan energi GDF Suez mengatakan salah satu dari ketujuh orang yang ditawan merupakan karyawannya yang berbasis di Yaounde. Juru bicara perusahaan itu mengonfirmasi bahwa pegawainya beserta enam anggota keluarga sedang berlibur di wilayah Utara Kamerun saat ditangkap.
Selama empat tahun belakangan, wilayah itu mengalami puluhan serangan oleh kelompok teroris, termasuk pengeboman, penyergapan dan serangan lainnya terhadap warga sipil dan pasukan keamanan.
Namun, berbagai taktik melawan terorisme yang dilakukan pasukan keamanan Nigeria hanya bisa meredam aksi yang dilakukan mereka.
Hingga Selasa malam, belum ada kelompok yang mengaku bertanggungjawab atas penculikan terakhir, yang terjadi hanya dalam sehari setelah kelompok Islamis Ansaru mengaku bertanggung jawab atas penculikan tujuh orang asing di Nigeria Utara.
Pejabat otoritas Kamerun dan Nigeria tidak memberikan komentar soal penculikan turis itu. Menteri Informasi Kamerun, Issa Tchiroma Bakary, menolak untuk mengonfirmasi kasus penculikan terakhir.
Di Nigeria, kelompok teroris beroperasi relatif tanpa hambatan dan itu menjadi suatu hal yang mempermalukan pejabat pemerintah setempat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




