Memberi Makan 3 Juta Orang
Jumat, 1 Maret 2013 | 18:01 WIB
Jika 500 kelompok usaha nasional mampu menyerap 100.000 orang, maka jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 50 juta. Dengan asumsi satu pekerja menghidupi tiga orang - satu istri dan dua anak-, maka 500 pengusaha nasional ini memberi makan 200 juta orang Indonesia.
Tak perlu lagi ada pengangguran di negeri subur ini. Bila 10 juta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masing-masing mampu menghidupi empat orang saja, 40 juta penduduk Indonesia akan ternafkahi. Jika perusahaan membaik dan pekerja mendapat kenaikan pendaftaran, kesejahteraan yang dicita-citakan para pendiri republik tercapai sudah.
Di sinilah pentingnya peran pengusaha sebagai pemberi kerja. Semakin banyak pengusaha, semakin besar kemampuan bangsa ini membuka lapangan kerja dan menaikkan kesejahteraan rakyat.
Namun, di sinilah juga masalahnya. Jumlah entrepreneur di Indonesia sangat minim, baru sekitar 3,8 juta atau 1,8 persen dari jumlah penduduk. Ini sebuah angka yang sangat kecil dibanding negara lain. Di dua negeri jiran, Singapura dan Malaysia, jumlah entrepreneur, masing-masing, tujuh persen dan lima persen dari jumlah penduduk.
Untuk bisa menjadi negara sejahtera, minimal jumlah entrepreneur lima persen dari total penduduk. "Melihat kondisi negeri kita, saya bertekad memberi nafkah bagi 3 juta orang, secara langsung maupun tidak langsung," kata Tomy Winata, pendiri dan Chairman Artha Graha (AG) Group dalam perbincangan di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC), kawasan konservasi alam di Lampung Barat pekan lalu.
Saat ini, AG baru memberi nafkah langsung atau tidak langsung kepada sekitar 400.000 hingga satu juta orang. Mereka adalah pekerja AG dan keluarganya, serta perusahaan mitra usaha AG, baik sebagai pemasok maupun penjual.
Kalau dalam sisa hidupnya angka tiga juta itu belum bisa tercapai, para penerusnya harus bisa mewujudkan impian itu. Memberikan nafkah kepada sesama bangsa adalah tugas setiap orang yang diberikan kemampuan oleh Yang Mahakuasa. Dia yakin, dengan kerja keras dan dukungan semua pihak, khususnya pemerintah, impian itu dapat terwujud.
Banyak sekali sesama saudara kita, kata Tomy, yang hidup dalam three under: underemployment, underpaid, dan under-educated. Mereka yang punya pekerjaan, ternyata gaji tidak cukup menutup kebutuhan hidup. Tidak cukup dana untuk membiayai kesehatan. Mereka hidup dalam kondisi malanutrisi dan rentan terserang penyakit.
Mereka tak cukup dana untuk membiayai pendidikan. Akibatnya sulit keluar dari kubangan kemiskinan karena minim pendidikan dan keterampilan.
"Saya sudah menetapkan pilihan untuk mengembangkan bisnis padat karya, bukan padat teknologi. Biarlah yang high tech itu orang lain yang paham, saya tertarik pada usaha padat karya untuk menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja," ungkap Tomy.
Menjaga kawasan konservasi alam, seperti TWNC, juga membuka banyak lapangan pekerjaan, baik bagi orang sekitar maupun para tamatan SMA dan perguruan tinggi.
Bagi Tomy, bekerja adalah aktivitas paling baik dan menyenangkan dalam hidup. Karena dalam pekerjaan ada nilai yang bisa dinikmati sesama. "Saya senang kalau saya meninggal karena pekerjaan, bukan karena sedang menjalankan hobi," tukasnya.
Militansi dan Mangkuk Panas
Syarat utama menjadi pengusaha sukses, kata Tomy, adalah militansi. "Jika saat ini ada orang yang memiliki militansi tinggi dan berambisi menjadi pengusaha, saya akan dukung dan saya yakin pengusaha lain juga akan dukung. Tapi, calon pengusaha seperti ini sangat jarang kita lihat saat ini," papar pengusaha yang memulai bisnisnya dari nol sejak usia 15 tahun.
Militansi dimaknai Tomy sebagai kerja keras dengan semangat membara dan pantang mundur. Ibarat mendaki gunung, kita tidak boleh berhenti sebelum mencapai puncak. Kalau kerja belum selesai, demikian Tomy, kita tidak boleh berhenti. Jangan buru-buru mandi jika kerja belum selesai.
Militansi itu seperti orang yang memegang mangkuk panas. Sup panas dalam mangkuk tidak boleh tumpah sedikit pun, apalagi mangkuknya sampai jatuh dan pecah.
"Kalau mangkuk panas tidak jatuh dan sup tidak tumpah, itu baru namanya militan," kata pria kelahiran 23 Juli 1958 ini.
Tuhan tidak akan membantu orang yang tidak mau membantu dirinya. Banyak orang kita yang hidup susah, tapi cara hidupnya seperti orang kaya. Mereka menggunakan begitu banyak waktu untuk tidur, ngobrol, dan ngerumpi. Mereka lupa bahwa orang yang bisa mencapai hidup sejahtera itu karena rajin. Ketika orang bekerja, mereka bekerja. Ketika orang istirahat, mereka tetap bekerja.
Tomy memulai kariernya sebagai buruh di sebuah perusahaan kontraktor bangunan. Melihat militansinya, sang kontraktor mempercayakan Tomy sebagai mandor para buruh bangunan. Dari usaha ini, dia mengukir prestasi dan meraih kepercayaan dari kontraktor.
"Dari pekerja, mandor buruh, saya diajak pemilik perusahaan untuk ikut memiliki saham perusahaan. Sampai sekarang, bos lama saya itu tetap menjadi mitra bisnis saya," tukas Tomy.
Bangunan yang pertama kali dikerjakan adalah kantor dan asrama TNI di Kalimantan, kemudian di Papua, menyusul di tempat lain.
Kepercayaan pemilik tidak datang begitu saja. Tomy menuturkan, untuk bisa mencapai target dengan mutu bangunan yang baik dan biaya yang efisien, dia tidur di dekat bangunan dari awal hingga proyek rampung. Dengan tinggal di proyek, praktis dia mengawasi proyek 24 jam. Para tukang tidak berani datang terlambat dan meninggalkan pekerjaan lebih awal. Bahan bangunan hampir-hampir tidak ada yang terbuang, karena semuanya dihitung dengan benar.
Dari pengalaman itu, Tomy kemudian membangun usaha sendiri. Setelah menjadi kontraktor, dia memiliki properti, hotel, bank, dan sejumlah usaha di bidang perdagangan. Pengusaha low profile ini antara lain memiliki Hotel Borobudur dan jaringan Hotel Discovery, bangunan di Kawasan Sudirman CBD, dan PT Bank Artha Graha.
"Saya baru saja memiliki izin usaha pertambangan. Tapi, saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menerapkan green mining," ujarnya.
Bakat yang besar dan pendidikan yang tinggi saja tidak cukup untuk menjadi pengusaha sukses. Calon entrepreneur yang memiliki militansi tinggi akan sukses mengembangkan bisnis sebagai anak angkat atau subkontraktor.
Tomy mengaku baru melahirkan sekitar enam pengusaha baru lewat pola bapak angkat. Figur muda yang memiliki militansi diberikan order dan modal.
Dia yakin, jika calon pengusaha yang memiliki militansi tinggi diberikan order dan modal untuk berbisnis, pengusaha baru bisa dilahirkan. "Tapi, cari bibit yang militan susah sekali," kata Tomy.
Hidup dengan Sepertiga Gaji
Saat kecil, Tomy hanya punya cita-cita sederhana: memiliki rumah tipe 70, mobil sedan kodok, dan gaji Rp 30 juta sebulan. Waktu itu, cita-cita seperti itu sudah termasuk sangat tinggi, karena gaji pekerja hanya kurang dari Rp 100.000 per bulan.
Pencapaiannya saat ini sudah sangat jauh dari harapan waktu kecil. Sekarang cita-citanya bergeser menjadi memberikan nafkah kepada tiga juta orang dan ikut melestarikan hutan alam dan isinya.
Untuk bisa maju dalam hidup, kata Tomy, kita harus bisa mengakumulasi modal dengan hidup hemat dan membangun jaringan selain militansi kerja. Sejak pertama menerima gaji, dia hanya membawa pulang ke rumah sepertiganya. Sepertiga gaji lainnya digunakan memotivasi rekan-rekan sekerja, dan sepertiga sisanya digunakan untuk membangun jaringan.
"Cukup tidak cukup saya harus hidup dengan sepertiga gaji itu. Dalam kenyataan, saya bisa hidup," ungkap Tomy.
Jika sudah diniatkan, semuanya bisa berjalan dengan baik. Rezeki justru akan datang lebih besar di luar dugaan selama seseorang bekerja dengan niat baik dan sungguh-sungguh.
Konsekuensi dari kebijakan hidupnya itu, dia tidak mau besar pasak dari tiang. "Kalau saya bisa beli satu Mercy, berarti saya sesungguhnya punya kemampuan membeli 10-20 Mercy. Saya tidak mau membeli barang konsumsi dengan utang. Prinsip itu yang saya pegang teguh," tukas Tomy.
Dia masih ingat, pada usia 16, tahun 1974, untuk pertama kali memiliki sepeda motor Yamaha. Pada 1978, dia memiliki mobil Toyota Corolla. Sebagai anak muda pada masanya, dia tergolong orang yang mempunyai uang dari keringat sendiri. Sebelum membeli mobil, dia mendapatkan rezeki besar dari pimpinannya.
"Bos saya targetkan untung 20 persen, saya berikan keuntungan 30 persen, dan itu saya lakukan berkali-kali," kenangnya.
Dalam bisnis, dia juga mengalami pasang surut. Pada. Tahun 1983, pernah rugi US$ 6 juta. Menyadari hakikat hidup yang kadang naik dan turun, Tomy berusaha bangkit dengan menjual aset yang dimiliki. Krisis sukses dilewatinya, dan saat ini memiliki berbagai bisnis yang cukup solid, yang dikelola para profesional yang tangguh.
Nama Tomy acap dikaitkan dengan militer. Sejumlah pejabat TNI disebut-sebut sebagai bapak angkatnya. "Saya juga dengar dari orang lain seperti itu. Tapi, yang saya dengar sendiri dari yang bersangkutan bahwa saya adalah anak angkatnya adalah Bapak Solihin GP. Pak Solihin sering panggil dan nasihat saya," kata Tomy.
Dari diri Solihin GP, dia belajar banyak tentang nasionalisme dan patriotisme. Setiap diskusi Solihin dengan para jenderal, Tomy yang masih belasan tahun, kerap menguping. Saking ingin belajar, dia rajin menyuguhkan kopi ke para tamu agar bisa mendengar. Kalau dilarang, dia memilih duduk di pojok sambil menyimak.
"Saya tidak sekolah tinggi seperti pengusaha lain. Tapi, saya selalu rajin mendengarkan orang hebat bicara dengan membuka telinga saya lebar-lebar," ujarnya sambil menggerakkan telinganya. Tomy memang memiliki kemampuan khusus menggerakkan telinga tanpa bantuan tangan.
Tanggung Jawab Sosial
Sukses mengembangkan bisnis saja tidak cukup bagi seorang pengusaha. Setiap pengusaha harus punya tanggung jawab sosial. Dengan kemampuan yang sudah dimiliki, pengusaha harus bisa membantu sesama yang belum maju dan memulihkan alam yang sudah dirusaki tangan manusia.
Pengusaha yang sudah meraup banyak keuntungan dari eksploitasi sumber daya alam - entah perkebunan, migas, dan terutama pertambangan - harus menyisihkan sebagian keuntungan untuk memulihkan kembali alam yang sudah dirusaknya. Itu tanggung jawab sosial yang mestinya tidak bisa ditawar-tawar.
Meski tidak pernah membangun bisnis yang merusak sumber daya alam, Tomy mengatakan, dirinya tergerak untuk memulihkan kembali keseimbangan alam. Pada tahun 1996, Tomy melirik Kawasan Tampang-Blimbing (Tambling), di Lampung Barat. Ia kemudian memperoleh mandat dari Kementerian Kehutanan untuk merawat hutan alam seluas 45.000 ha yang sudah hancur oleh pembalakan liar.
Wilayah itu lantas dinamakan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC). Pada tahun 2003, pengelolaan kawasan hutan alam resmi ditangani PT Adhiniaga Kreasi Nusa (AKN), salah satu perusahaan Kelompok Artha Graha.
Para nelayan direlokasi. Yayasan Artha Graha Peduli juga ikut terlibat merawat hutan alam dan mengangkat kesejahteraan masyarakat sekitar, antara lain lewat pendidikan dan kesehatan, serta membangun kebun dan peternakan percontohan bagi para petani.
TWNC merupakan bagian dari kawasan konservasi Balai Taman Nasional Bukit Barisan Selatan seluas 324.000 hektare. Pelestarian hutan di kawasan ini sangat penting untuk mencegah abrasi, selain meningkatkan deposit oksigen bagi dunia. Saat ini, kawasan Tambling sudah tampak hijau dengan hutan yang lebat. Berbagai jenis flora tumbuh dan aneka fauna berkembang biak dengan baik.
Melihat keseriusan PT AKN dan Artha Graha Peduli, pemerintah menyerahkan pengelolaan pelestarian pantai dan laut seluas 15.000 ha. Dengan demikian, total luas kawasan konservasi yang dipercayakan pemerintah kepada PT AKN mencapai 60.000 ha.
Tambling kini sudah menjadi konservasi hutan yang menarik. Saat meninjau TWNC pekan lalu, terlihat bagaimana kerbau liar dan rusa hutan yang tidak lagi liar. Populasi kedua binatang ini mencapai ratusan ekor. Jumlah itu lebih dari cukup untuk menjadi bahan makanan 20 harimau yang berada di hutan dan delapan yang dalam penangkaran. Sedikitnya terdapat sekitar 332 jenis burung yang menjadi objek studi para mahasiswa.
Untuk mengelola kawasan ini, Tomy harus merogoh kocek Rp 1,5 miliar sebulan. "Sudah sekitar US$ 25 juta biaya yang saya keluarkan untuk merawat hutan ini, memberikan oksigen kepada dunia, mengurangi global warming dan dampak climate change," paparnya.
Sampai kapan Tomy terus mengeluarkan dana untuk TWNC? "Selama saya hidup, masih punya rezeki, dan negara masih mempercayai saya, perawatan kawasan ini akan terus saya biayai. Ini sudah menjadi komitmen saya," tandasnya.
Salah satu solusi memperoleh biaya perawatan konservasi alam Tambling adalah wisata alam. Di kawasan ini sudah tersedia sejumlah rumah tamu yang nyaman dan asri. Para pelancong bisa menembus kawasan hutan dengan mobil dan kuda. Wisatawan bisa masuk hutan atau ke pantai untuk melihat kerang dan penyu.
TWNC adalah kawasan wisata alam yang paling dekat dengan Jakarta. Jarak Bandara Halim Perdanakusuma dan Bandara Tambling yang berumput hijau, hanya 1,5 jam penerbangan dengan menggunakan helikopter atau pesawat kecil baling-baling berkapasitas 20 orang. Dari pesawat yang terbang rendah, pelancong bisa melihat panorama indah dari udara, melihat Gunung Krakatau dan anak-cucunya, serta kawasan hutan yang tampak hijau.
Masih ada 21,2 juta hektare kawasan hutan konservasi di Indonesia yang membutuhkan perawatan. Para pengusaha, terutama yang sudah merusak hutan, seyogyanya tergerak hatinya untuk ambil bagian, ikut merawat dengan berbagai konsekuensinya.
Kegiatan perawatan kawasan konservasi alam membutuhkan banyak tenaga kerja. Jika semakin banyak pengusaha yang terlibat dalam konservasi alam, tenaga kerja yang terserap akan meningkat. "Saya senang ada di sini, merawat hutan alam ini untuk Indonesia dan dunia," ungkap Tomy.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




