ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Motif Politik Carok Massal dan Pilkades Tanah Merah Laok yang Melebihi Pilpres

Jumat, 9 Juni 2023 | 20:30 WIB
DB
MF
Penulis: Didik Setia Budi | Editor: DIN
Walau diminta menunda, Pilkades Tanah Merah Laok tetap digelar pada 10 Mei 2023 lalu. Belakangan Kades Terpilih tidak ikut dilantik.
Walau diminta menunda, Pilkades Tanah Merah Laok tetap digelar pada 10 Mei 2023 lalu. Belakangan Kades Terpilih tidak ikut dilantik. (Beritasatu.com/Didik Setia Budi)

Bangkalan, Beritasatu.com - Kasus carok massal yang terjadi di Desa Tanah Merah Laok, Kecamatan Tanah Merah, Bangkalan, Jawa Timur terus menuai sorotan. Hingga Jumat (9/6/2023) siang tercatat sudah ada 2 korban tewas akibat insiden berdarah ini. Sementara 5 korban lainnya masih dirawat. Polisi masih hati-hati dalam menyelidiki bentrokan berdarah ini.

Bermunculan isu yang beredar di masyarakat. Mulai dari aksi senggolan motor, hingga yang mengemuka tentang Pilkades. Terlebih, lokasi carok massal yang menghebohkan tanah air ini terjadi di Desa Tanah Merah Laok, yang notabene bermasalah dalam proses pelaksanaan Pilkadesnya.

Hajatan Pilkades, menurut Budayawan Madura Ibnu Hajar menjadi hajatan teragung di Madura. "Pilpres itu gak ada apa-apanya. Presiden boleh siapa saja, tapi kalau Kepala Desa, tunggu dulu. Karena warga punya pilihan," terang Ibnu Hajar, Jumat (9/6/2023) petang.

ADVERTISEMENT

Pentingnya memilih sosok kepala desa, menurut Ibnu Hajar memang sudah ditanamkan nenek moyang warga Pulau Madura sejak lampau. "Istilah Klebun itu sangat agung. Sama maknanya dengam raja. Dulunya seorang klebun itu adalah orang yang sangat terhormat dan dihormati. Dulu klebun di Madura itu seumur hidup. Sebelum akhirnya ada regulasi dibatasi sekian tahun," imbuhnya.

Begitu pentingnya suksesi Pilkades, dengan filosofi klebun adalah raja, menurut Ibnu Hajar sebuah momen pemilihan kepala desa memang rentan gesekan. Di Kabupaten Bangkalan misalnya. Di momen Pilkades serentak 10 Mei 2023 lalu, ada 4 ribu lebih personil keamanan yang disiagakan di Kabupaten Bangkalan. 4 Polres se-Madura membantu pasukan, belum cukup, lalu disokong dari 8 Polres lainnya di Jawa Timur. "Kalau berjaga di coblosan Pilpres, petugas mungkin lebih rileks. Tapi kalau pemilihan klebun, semua tegang. Itu pasti," imbuhnya.

Sementara mendaftar menjadi kepala desa bagi warga Madura juga tidak sembarangan. Sosok Klebun ini akan menjadi orang tua bagi seluruh warga desa. Sosok tersebut harus tegas, kuat, dan melindungi. "Mendaftar klebun itu pasti minta restu orang tua dan kyai. Itu kenapa para calon klebun yang akan berangkat ke lokasi Pilkades punya ritual tidur dan dilangkahi kaki ibunya," kata Ibnu Hajar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon