Beri Bantuan Gempa Majene, DrW Sasar Lokasi Pelosok Desa
Rabu, 10 Februari 2021 | 14:47 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Korban gempa Majene Sulawesi Barat masih membutuhkan bantuan meski bencana alam ini sudah berlalu hampir sebulan. Gempa yang terjadi pada 15 Januari lalu itu membuat sekitar 91.003 warga dari berbagai daerah mengungsi di sejumlah posko pengungsian.
Sebanyak 58.123 jiwa berasal dari Kabupaten Mamuju, 25.737 jiwa dari Kabupaten Majene, sementara sebanyak 5.343 jiwa berasal dari Kabupaten Polman.
Mengingat banyaknya warga yang mengungsi, bantuan sosial dari para donatur sangat dibutuhkan. DrW Skincare turut berpartisipasi menjadi bagian dari aksi peduli sesama ini.
DrW Skincare bersama tim medis Hilal Ahmar Yogyakarta yang diketuai oleh Dr Nurcahyo mendatangi Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, untuk memberikan bantuan secara langsung. Menurut Dr Nurcahyo, untuk sampai ke lokasi, membutuhkan waktu 2,5 jam dari pusat kota.
"Ini di Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene. Ini di pusatnya tempat bencananya. Jadi, antara Kota Majene dengan Kota Mamuju itu, tengah-tengahnya ada Kecamatan Malunda. Antara Majene dan Mamuju perjalanan kira-kira 5 jam, jadi kalau tengah-tengahnya Malunda butuh waktu 2,5 dari Majene maupun dari Malunda," ujar Dr Nurcahyo dalam keterangannya.
Dr Nurcahyo menyatakan, daerah yang ia datangi terbilang jarang tersekspose media. Berbeda dari Kota Mamuju yang mengalami kerusakan di sejumlah bangunan, di Kecamatan Malunda hampir semua titik mengalami kerusakan parah.
"Malunda ini pusat gempa itu di sini yang jarang terekspose media. Kalau Mamuju itu kotanya hanya beberapa bagian saja yang kena, jadi tidak semuanya kena. Memang ada beberapa garis patahan dari gempa, tapi itu hanya tempat-tempat tertentu. Kalau di Malunda itu hampir semuanya kena," lanjutnya.
Ia menggambarkan, kerusakan yang dialami Kecamatan Malunda akibat gempa ini, hampir separah gempa yang terjadi di Bantul pada 2006 silam dan Lombok 2018 lalu. Di sepanjang jalan antara Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju, berjajar pos-pos pengungsian.
Untuk mencapai ke desa yang berada di perbukitan tersebut, membutuhkan waktu tempuh selama dua hari melalui jalur darat. Sementara masuk ke lokasi pedesaan harus berjalan kaki.
"Masuk ke lokasi jalan kaki, pakai offroad terakhir masuk ke dalam hutan kira-kira perjalanan dua jam. Nanti ada desa yang namanya desa Tamerimbi, hanya itu yang bisa dijangkau offroad, sisanya hanya bisa dijangkau pakai helikopter atau jalan kaki," imbuhnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




