Hari Kartini, Kepala BKKBN Ajak PKK Turunkan Angka Stunting
Kamis, 22 April 2021 | 14:35 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo mengatakan, per 2019 angka stunting Indonesia berada di angka 27%. Namun dengan adanya pandemi Covid-19, para ahli memprediksi angka stunting berpeluang mengalami kenaikan.
Oleh karena itu, pada peringatan Hari Kartini, Hasto mengajak para Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) menjadi motor penggerak utama menurunkan angka stunting.
"Hari Kartini menjadi momentum sangat tepat untuk melanjutkan perjuangannya untuk memperjuangkan kesehatan perempuan yang pada gilirannya juga menyehatkan anak-anak dan bebas dari stunting untuk menuju Indonesia unggul dan maju," kata Hasto pada webinar tentang Peran Kartini Indonesia di Era Milenial, Kamis (22/4/2021).
Dikatakan Hasto, hal tersebut selaras dengan amanah yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada BKKBN untuk mengawal penurunan stunting menjadi 14% di tahun 2024.
"Ini tugas yang besar tentunya yang diberikan oleh Bapak Presiden dan kita harus mensukseskan cita- cita dan janji yang telah diberikan Presiden kepada masyarakat mewujudkan turunnya angka stunting," ucapnya.
Selanjutnya, Hasto menuturkan melibatkan PPK ini untuk melanjutkan perjuangan RA Kartini masa kini. Pasalnya, RA Kartini di saat sedang berjuang untuk perempuan Indonesia, justru meninggal karena masalah kesehatan reproduksi.
Bahkan, saat ini, angka kematian ibu di Indonesia juga masih 305 per 100.000 kelahiran hidup. Selain itu, kematian bayi yang masih 24 per 1.000.
"Angka kematian ibu dan bayi itu menjadi tolok ukur derajat kesehatan sebuah bangsa, maka sudah selayaknya marilah kita meneruskan perjuangan RA Kartini. Kemudian kita bisa menurunkan angka kematian ibu dan bayi melalui pendidikan, pengajaran terkait dengan kesehatan reproduksi, masalah seksualitas kepada remaja, perempuan, dan keluarga," kata Hasto.
Hasto menyebutkan, angka kematian masih cukup tinggi pada proses kehamilan yang terjadi, salah satu penyebabnya karena anemia, kekurangan zat besi pada saat calon ibu masih remaja dan juga pada saat hamil.
Dikatakan dia, ketika ibu hamil masih anemia dan mengalami berbagai masalah kehamilan, akan berdampak pada bayi yakni menghasilkan produk kehamilan yang tidak sempurna dan salah satunya adalah stunting.
"Kita boleh bersedih ketika hari ini hasil dari riset kesehatan dasar tahun 2018 masih menunjukan angka stunting atau angka bayi yang lahir berbakat stunting karena panjang badannya pada saat lahir tidak mencapai 48 cm sesuai standar WHO, masih 22, 6% dan cukup besar angka itu," ucapnya.
Selain itu, lanjut Hasto, setelah ibu melahirkan bayi berpotensi menjadi stunting tentu harus memperhatikan perkembangan bayi mulai dari ASI eksklusif dan pemberian makanan tambahan setelah usia 6 bulan. Namun, pada fase ini ternyata angka 22,6% bayi berpotensi malah semakin meningkat menjadi sekitar 23, 2% .
"Artinya kita sudah menyuguhkan bayi yang lahir yang ukurannya di bawah standar dan setelah lahir sebagai keluarga mengurusnya belum menurunkan angka 22,6% tadi malah masih menaikkan," ucap Hasto.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




