Hari Lingkungan Hidup, UNDP Rangkul Era Baru Inovasi
Jumat, 4 Juni 2021 | 17:09 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Hari Lingkungan Hidup Sedunia dapat dijadikan momentum untuk menyoroti pentingnya kolaborasi global, dalam rangka memastikan perlindungan terhadap bumi. Wakil Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Sophie Kemkadhze mengatakan, hidup di era konsumsi dan eksploitasi berlebihan dilakukan, bisa mendorong keberadaan bumi menjadi kritis.
Kemudian, pandemi covid-19 yang sedang berlangsung juga telah memaksa manusia untuk melakukan perubahan, baik dari cara mengonsumsi hingga berproduksi.
"Kami merangkul era baru inovasi, di mana kami bertransisi ke tingkat emisi nol dan konsumsi energi terbarukan. Pergeseran ini merupakan bagian dari tanggung jawab kami untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs di Indonesia," kata Sophie dalam acara UNDP SDG Talks World Environment Day: Save Energy, Stay Eco-Friendly, Jumat (4/6/2021).
Sophie menjelaskan, UNDP melalui Market Transformation for Renewable Energy and Energy Efficiency Project telah mendukung energi terbarukan di Indonesia. Proyek ini mendukung pemerintah Indonesia dalam upaya meningkatkan penggunaan energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025. Selain itu, UNDP juga bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Alam dan otoritas bandara di bandara Jakarta dan Bali untuk mengimplementasikan model operasi hemat energi.
"Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa menangani isu-isu yang terkait dengan lingkungan harus menempatkan perempuan sebagai pusat solusi. Bukti telah menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya alam oleh perempuan dan laki-laki memiliki efek positif di bidang-bidang seperti pengelolaan kehutanan, yang tentu saja berdampak pada lingkungan secara luas," ucap dia.
Lebih lanjut Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana menuturkan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan momentum untuk mendorong kesadaran publik, terhadap tindakan nyata agar menjaga lingkungan hidup secara global. Dadan menegaskan, isu lingkungan, energi bersih, nol emisi, keadilan energi, harus menjadi topik utama dan diselesaikan segera.
Ia menjelaskan, porsi pemanfaatan energi baru dan terbarukan nasional baru mencapai 11,2%. Target ke depan adalah EBT dapat meningkat sebesar 23% pada 2025.
"Harapan kami pemuda, mahasiswa dan kaum perempuan bisa bersama-sama berada di depan untuk memulai dan menerapkan upaya budaya hemat energi. Sebab lebih gampang hemat energi daripada kita buat pembangkit," jelas dia.
Anggota Komisi VII DPR RI Dyah Roro Esti mengatakan, guna mendukung EBT di Indonesia, pihaknya kini tengah mendorong Rancangan Undang-Undang (RUU) EBT. Ia menjelaskan, aturan tersebut merupakan upaya pemerintah untuk agar lebih detil dan mendalam mengatur mengenai pengembangan EBT di Indonesia, serta kedepannya EBT tidak hanya menjadi alternatif, tapi juga dijadikan sebagai energi utama.
"Setiap wilayah mempunyai economy skill masing-masing. Wilayah timur bisa andalkan matahari, kemudian di Makassar ada Sidrap dan mengingat juga 40% bicara geothermal ada di Indonesia. Banyak potensi, tapi masalahnya adalah EBT masih kurang kompetitif, apa yang kita lakukan selalu kalah sama dunia fosil. Mudah-mudahan kita bisa komit, bisa lebih berani dan mempunyai tekad untuk lakukan perubahan yang sangat dibutuhkan oleh bangsa dan negara lain," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




