ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

BRIN dan ITB Dukung Penemuan Sesar Baru di Sumbar, Ini Rekomendasi BMKG

Minggu, 6 Maret 2022 | 14:36 WIB
HS
JM
Penulis: Hendro Dahlan Situmorang | Editor: JEM
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. (Istimewa)

Jakarta, Beritasatu.com -  Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menemukan segmen sesar baru di Pasaman Barat, Sumatera Barat  pascagempa bumi mengguncang wilayah itu, Jumat, 25 Februari 2022 lalu. Temuan sesar baru itu mendapat dukungan dari sejumlah pakar Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Dalam webinar yang diselenggarakan BMKG, Prof Sri Widiyantoro dari ITB dan Prof Danny Hilman Natawidjaja dari BRIN menyatakan sepakat mendukung hasil identifikasi BMKG tersebut.

Dalam webinar tersebut, kepala Pusat Seismologi Teknik dan kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG menyebutkan berdasarkan sebaran titik-titik gempa susulan, ditemukan pola morfologi serta sebaran klaster titik-titik longsoran pada lereng yang terpotong patahan serta sebaran klaster tingkat kerusakan bangunan di mana hal itu bisa dikatakan sebagai patahan baru.

Baca Juga: BMKG: Pasaman Barat Diguncang Lebih dari 160 Kali Gempa Susulan

ADVERTISEMENT

"Namun memang perlu dilanjutkan dengan kajian yang lebih mendalam, terutama terkait dengan keberadaan dan sebaran surface rupture atau robekan permukaan tanah dan batuan sebagai indikasi adanya zona yg terpotong oleh patahan," ujar Sri dan Danny, dalam keterangannya Minggu (6/3/2022).

Sementara itu, terkait penemuan sesar baru tersebut, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mewanti-wanti pemerintah daerah setempat untuk mewaspadai kompleksitas sistem sesar aktif di Sumatera Barat. Menurutnya, penataan ruang memiliki peran besar dalam upaya mitigasi bencana.

"Penemuan sesar baru ini perlu ditindak lanjuti dengan penentuan batas zona bahaya yang tidak boleh dibangun pemukiman masyarakat ataupun bangunan vital/strategis tanpa menerapkan konstruksi bangunan tahan gempa, demi alasan keamanan, agar kalaupun terjadi bencana akan meminimalkan baik dari sisi kerugian materi maupun korban jiwa," ungkap Dwikorita

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon