Setiap Tim Punya Kejayaannya Sendiri

Johanes Indra
Johanes Indra

Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.

Minggu, 11 Desember 2011 | 08:00 WIB
Pagi itu saya membaca The Independent di sebuah sudut kota London. Udara begitu dingin, sekitar 4 derajat Celcius. Secangkir kopi hitam masih panas sementara matahari bersinar malas. Padahal salah satu koran harian berpengaruh di Inggris ini telah bergegas mengirimkan 56 halamannya ke tangan saya.
 
Pada malam hari nanti, pertandingan terakhir babak penyisihan grup Liga Champions Eropa masih akan berlangsung. Dua tim Inggris asal kota Manchester masih akan bermain, sementara dua rival mereka asal London telah melenggang ke babak langsung tumbang.
 
Arsenal yang terus ditekan oleh Olympiakos nyaris di sepanjang laga hanya memainkan pertandingan formalitas. Targetnya hanya mengamankan posisi mereka sebagai pemuncak klasemen Grup F. Arsene Wenger hanya menurunkan dua pemain yang ia pakai saat Arsenal menumbangkan Wigan 4-0, sebagian besar dari mereka diistirahatkan. 
 
Hasil mengecewakan terjadi di Yunani. Arsenal kalah dengan hiasan dua penjaga gawang mereka melakukan beberapa kali tindakan salah. Lukasz Fabianski dan Vito Mannone bertanggung jawab paling besar terhadap tiga gol Olympiakos yang bersarang ke gawang Arsenal. Mannone masuk menggantikan Fabianski yang cedera di menit 25, tetapi tak mampu mengusir teriakan fans Arsenal yang menginginkan Wojciech Szczesny mengamankan gawang tim kesayangan mereka.
 
Saya sempat melihat beberapa orang mengenakan kostum Chelsea di Leicester Square tadi malam. Tak ada bimbang di wajah mereka. Ada yang tertawa lebar sambil mengacung-acungkan tangan pertanda kemenangan. Ada yang berjalan dengan kepala tegak layaknya seorang pemain melakukan selebrasi gol dengan congkak. 
 
Chelsea baru saja memudarkan ambisi Valencia di Stamford Bridge. Andre Villas-Boas (paling tidak) berhasil menyingkirkan keraguan banyak orang terhadap kapabilitas dia dalam melatih tim besar seperti Chelsea. The Blues menang 3-0, sama sekali tidak memberi Valencia kesempatan untuk sekadar meraih hasil imbang.
 
Kembali ke halaman olahraga The Independent. Perkataan Manajer Manchester City Roberto Mancini dijadikan judul berita berhuruf tebal. Everyone wants to see City dumped out. Sebuah ungkapan yang menarik minat baca saya. Kalimat itu memancarkan kemarahan sebagai sebentuk optimisme untuk menjawab tantangan lawan.
 
Ternyata ada benarnya praduga saya. Sebenarnya ungkapan Mancini ditujukan kepada dua tokoh sepakbola dari negara berbeda. Si Petinggi Bayern Munich sekaligus legenda sepakbola Jerman Karl-Heinz Rummenigge dan Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis dari Italia. Keduanya memerahkan telinga mantan pelatih Internazionale Milan.
 
Rummenigge bicara lantang. Ia ingin Manchester City dicoret dari percaturan Liga Champions jika mereka terbukti melanggar aturan financial fair yang diluncurkan UEFA. Sementara Laurentiis lebih provokatif. Ia mengatakan bahwa pemilik City Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan bisa saja menggunakan petrodollarnya untuk mengatur pertandingan antara Napoli dan Villareal.
 
Suasana memanas menjelang partai penuntas. Mancini menujukan kalimatnya untuk Rummenigge, "Aku tidak bisa memikirkan situasi bodoh ini." Dalam situasi seperti ini saya setuju dengan Mancini, terlalu bodoh memang untuk memikirkan keinginan Rummenigge di atas nasib klubnya yang harus menang atas Munich untuk hanya sekadar menjaga peluang yang ditentukan oleh tim asal Italia di pertandingan lain. Sebab bagaimanapun hasil di partai lain, Mancity harus menang demi harga diri.
 
"Menurutku Mancini nggak usah pedulikan omongan orang. Itu cuma sirik. Setiap klub kan punya caranya sendiri untuk membangun kejayaan," begitu seloroh teman saya, jurnalis media cetak asal Padang yang membidangi persoalan ekonomi. Selain Mancity, ia juga menjagokan Chelsea.
 
"De Laurentiis harus lebih menghormati Villareal karena Villareal adalah klub serius dan setiap tim yang bermain di Liga Champions bermain untuk menang," begitu ucapan Mancini untuk Presiden Napoli. Mungkin Mancini juga mau bilang bahwa De Laurentiis sirik.
 
Sama seperti Villas-Boas, kapabilitas Mancini untuk menangani tim bertaburan pemain mahal juga kerap dicibir dan dipertanyakan. Kendati musim ini Mancity di bawah Mancini telah menemukan bentuk permainan yang diharapkan, tetapi hal itu baru tampak di kancah Liga Primer Inggris, belum di Liga Champions. Tetapi Mancini jelas lebih baik di liga lokal. Permainan timnya lebih stabil ketimbang tim Villas-Boas.
 
Mungkin benar apa yang dikatakan banyak orang bahwa kesulitan selalu menciptakan peluang. Chelsea yang tidak stabil di liga dalam negeri justru lolos dari babak penyisihan grup Liga Champions. Mancity yang gagap saat beradu saing di Eropa malah menjadi favorit juara Liga Inggris musim 2011-2012 ini.
 
Maka, baik Villas-Boas maupun Mancini yang didukung oleh kemampuan finansial mumpuni semestinya harus lebih fokus pada jalan mereka saat ini. Chelsea mau tak mau memang diberati pencapaian Avram Grant yang pernah membawa mereka ke partai puncak Liga Champions. Mancity bagaimanapun ingin Mancini membawa mereka juara liga seperti yang dilakukannya terhadap Inter. 
 
Seperti kata kawan saya tadi. Setiap tim punya cara sendiri untuk membangun kejayaannya. Dalam era industri sepak bola, mungkin beginilah salah satu jalan menjadi jaya. Instan adalah cara. Tak semua tim punya kesabaran seperti Barcelona, Manchester United, atau Arsenal bukan? 
 
Kopi mulai dingin. Saya persilakan sidang pembaca menganalisa dengan kepala dingin. 
 
St. Pancras, London, 8 Desember 2011
 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon