Jika Bertanya Dianggap Berbahaya
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Selasa, 17 Januari 2012 | 08:00 WIBBertanya sering kali menjadi tindakan yang dianggap berbahaya. Apalagi jika pertanyaan yang terlontar berbau kritik terhadap suatu kinerja. Alih-alih mendapat respon positif, jawaban yang diterima malah justru berupa fitnah atau serangan balik. Tindakan bertanya masih kerap dibenamkan serupa tindakan subversif.
Marco adalah sahabat saya. Ia seorang koordinator kelompok kerja di sebuah perusahaan media. Suatu ketika ia mencium ketidakberesan kinerja yang dilakukan oleh seorang rekan kerja di bawah koordinasinya. Inti masalahnya soal tanggung jawab kerja yang tidak dituntaskan. Melalui pesan singkat Marco mempertanyakan hal itu kepada rekannya tadi, sebut saja namanya Bara.
Pesan singkat Marco dianggap oleh Bara sebagai sebuah hardikan keras. Ia pun membalasnya dengan sejumlah argumentasi. Panas. Tetapi berbalas pesan singkat bagi Marco bukan sebuah diskusi manusiawi yang sering kali malah kontraproduktif hingga kemudian ia menawarkan sebuah pertemuan klarifikasi kepada rekannya.
Bara menyetujui tawaran Marco. Hari dan jam disepakati. Sayangnya, sebelum pertemuan dilakukan Marco justru mendapati bara yang sedang dikipasi agar membunga api dalam akun jejaring sosial rekannya tadi.
"Siap-siap dipecat. Rezeki bukan manusia yang ngasih, tapi Tuhan." Dua kalimat itu pun ramai dikomentari sebab bermuatan kontroversi. Ada pula yang mengompori. Provokasi. Entah apalagi.
Dalam posisi berbeda tetapi dengan esensi yang sama, Idriss Carlos Kameni pernah dianggap mengeluarkan pernyataan yang berkaitan dengan kinerja Espanyol. Penjaga gawang asal Kamerun itu mengungkapkan kepada media setempat bahwa Espanyol seperti tak punya ambisi tinggi untuk bersaing di kompetisi La Liga Primera Spanyol.
Pernyataan Kameni tentu saja bukan tanpa alasan. Saya yakin apa yang dilontarkan sang portero itu merupakan antitesa terhadap sejumlah pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Bukankah sejatinya manusia memang memiliki tugas filosofis untuk menemukan kebenaran dengan mengemukakan banyak pertanyaan?
Tetapi iklim Eropa yang menjunjung tinggi kebebasan bertanya dan berbicara tak berlaku bagi Kameni yang telah membela Espanyol sejak Juli 2004. Pernyataan Kameni dianggap sebagai sebuah tindakan yang mencoreng muka jajaran petinggi klub. Kameni pun dihukum.
Hukuman tanpa jawaban yang diterima Kameni dari Espanyol mungkin sama sekali tidak diduganya. Pelatih Mauricio Pochettino menyingkirkan Kameni dari skuad utama. Bahkan tidak sekalipun Pochettino menurunkan penjaga gawang yang ikut memberikan gelar juara Copa del Rey alias Piala Raja 2005-06 itu sejak musim ini bergulir.
Manajer tim memang memiliki kewenangan penuh atas para pemainnya. Tetapi keputusan Pochettino untuk menempatkan Kameni yang selama dua musim telah menjabat penjaga gawang nomor satu menjadi nomor tiga tentu saja memunculkan pertanyaan baru. Apalagi keputusan itu diambil bukan karena performa Kameni yang menurun, tetapi secara tidak langsung merupakan imbas dari pernyataan Kameni kepada media.
Dalam kasus ini saya bersimpati kepada Kameni. Penjaga gawang tim nasional Kamerun bukan sosok berkaliber rendahan. Selain memberi gelar Copa del Rey, ia juga pernah membantu Espanyol menduduki peringkat kedua Piala UEFA musim 2006-07. Di tim nasional prestasinya juga mumpuni. Ia persembahkan medali emas Olimpiade 2000 dan Piala Afrika 2002 bagi The Indomitable Lion.
Alasan lain, Kameni itu unik. Tak banyak penjaga gawang berkulit hitam menghiasi liga top Eropa, yang diakui atau tidak kehadiran mereka justru memberikan citra positif kepada dunia sepak bola benua biru yang sering dihinggapi kasus rasialisme. Sepak bola Eropa menjadi beraroma majemuk berkat keberadaan mereka di lapangan.
Sayang memang, harapan saya untuk kembali bisa menyaksikan aksi Kameni di bawah mistar gawang Espanyol terkubur. Kameni yang pernah mengalami penghinaan rasial ketika membela tim asal Catalan itu justru dipaksa kabur. Catatan rekor penampilan sebanyak 222 kali bagi Espanyol terhenti.
Pada 13 Januari lalu, secara resmi Espanyol mengumumkan dilepasnya Kameni ke Malaga dengan status bebas transfer sekaligus menuntaskan pengabdian selama tujuh setengah tahun. Di Malaga, tidak ada jaminan kiper utama bagi Kameni karena ia harus bersaing dengan Wilfredo Caballero dan tiga kiper lainnya. Bagaimanapun, semoga Kameni segera beraksi lagi.
Bertanya dan berbicara memang kerap dinilai berbahaya. Tetapi demi kebenaran tak semestinya kita berhenti bertanya dan berbicara. Apapun risikonya.
Pulogadung, 16 Januari 2012
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




