Mengapa Tak Pernah Cukup, Pele?
Johanes Indra
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Minggu, 22 Januari 2012 | 07:40 WIBIngatan saya kembali ke masa kerja beberapa tahun lalu. Ketika itu, saya sering kali merasa telah melakukan setiap pekerjaan dengan baik. Bahkan dalam banyak hal saya pun telah memberikan yang terbaik. Tugas yang diberikan oleh atasan selalu diselesaikan sesuai tenggat yang ditetapkan, kreativitas dalam memecahkan masalah dikedepankan, rekan-rekan kerja mendapat perlakuan yang semestinya, komunikasi lancar, klien terpuaskan, perusahaan mendapat keuntungan.
Apa lagi? Sebentuk tanya itu menggelayuti pikiran saya ketika masih mendapati ketidakpuasan dari atasan. Selalu saja ada yang kurang padahal waktu, pikiran, dan tenaga saya telah tercurahkan begitu besar bagi pekerjaan.
Mungkin, atasan saya ketika itu seperti Edson Arantes do Nascimento alias Pele. Bagi legenda sepak bola Brazil yang telah memberikan tiga gelar Juara Dunia FIFA bagi negaranya itu prestasi Lionel Messi selalu saja kurang. Bahkan, akhir-akhir ini saya merasa komentar Pele semakin nyinyir terhadap Messi.
Sekitar April, menjelang Piala Dunia FIFA 2010 lalu, Pele meragukan kapasitas Messi yang oleh banyak orang disejajarkan dengan dirinya.
"Mereka selalu berusaha membandingkan seseorang dengan Pele. Saya sering bergurau dengan teman saya yang berasal dari Argentina untuk menentukan siapa pemain terbaik dari Argentina. Kemudian, jika di antara mereka ada yang mencetak seribu gol barulah kita akan mulai berbicara. Messi seorang pemain hebat. Ia bermain sangat baik bagi Barcelona, tetapi gagal menunjukkan kemampuannya bersama tim nasional Argentina. Mungkin Messi akan membuktikannya di Piala Dunia nanti. Kita tunggu dan saksikan saja."
Ucapan Pele menurut saya jauh dari kesan rendah hati. Padahal sosok Pele selalu diagungkan oleh FIFA sebagai pribadi yang nyaris sempurna baik di dalam lapangan maupun dalam kehidupan kesehariannya. Nyaris tak ada cacat. Pele adalah duta besar FIFA bagi kebaikan sepak bola. Itu penilaian saya.
Terlepas dari rivalitas sepanjang masa Brasil dan Argentina, juga bagaimana perseteruan tak terdamaikan antara Pele dan Diego Maradona, tak seharusnya tokoh yang menjadi panutan (dan selalu ingin dijadikan panutan) justru merendahkan seorang pesepakbola muda yang baru saja terpilih menjadi pemain terbaik dunia versi FIFA dan Ballon d’Or tahun 2009.
Pele seperti lupa betapa era sepak bola yang dimainkannya sangat berbeda dengan apa yang disaksikan saat ini. Meskipun saya tetap kagum dengan pencapaian Pele bersama klub Santos, mencetak 1088 gol dari 1114 penampilan dalam rentang tahun 1956-1974 tidak lantas mengenyahkan kenyataan bahwa sepak bola telah berevolusi dalam banyak segi. Dari sisi manajemen tim sampai taktik dan strategi permainan.
Pele juga lupa bahwa hampir seumur hidup karier sepak bolanya ia bermain bagi Santos. Selama 18 tahun ia membela klub Brasil tersebut dengan 26 gelar dipersembahkannya. Pele hanya sekali berganti kostum ketika memperkuat klub semenjana New York Cosmos di North American Soccer League sepanjang 1975-1977.
Sehingga aneh bagi saya ketika Pele seperti menyindir Messi yang hanya mampu tampil bagus bagi Barcelona. Bahkan ketika komentar di atas tadi diucapkannya Messi baru bermain enam musim bagi El Barca dan telah mencetak 127 gol.
Para pembela Pele bisa saja akan melawan pendapat saya. Apalagi, Messi memang gagal membawa Argentina yang dilatih Diego Maradona menjadi juara dunia di Afrika Selatan. Tetapi apakah kegagalan Argentina adalah kesalahan Messi semata yang kemudian dengan serta-merta dapat dijadikan alasan sahih untuk merendahkan seorang pemain yang menjadi aset berharga bagi sepak bola dunia?
Setelah lama tak membuat berita, menjelang Piala Dunia Antarklub FIFA di Tokyo, Desember 2011 lalu Pele kembali buka suara. Santos yang mengusung jagoan bernama Neymar akan menghadapi Barcelona di partai final. Maka, Pele membandingkan Neymar dengan Messi. Tak perlu membaca berita perbandingan itu sampai selesai saya sudah tahu kesimpulan Pele: Neymar lebih baik ketimbang Messi.
Tetapi sepak bola selalu berbicara di atas lapangan. Barcelona melumat Santos 4-0 dan kembali menjadi juara dunia antarklub. Neymar mati kutu. Messi mencetak dua gol dan terpilih menjadi pemain terbaik kejuaraan. Messi membungkam mulut Pele. Sempurna.
Ternyata, mulut Pele hanya sebentar bungkam terhadap prestasi Messi. Baru-baru ini ia kembali melontarkan ucapan yang esensinya sama. Setelah Messi mencetak hattrick sebagai pemain terbaik dunia dan mengakui bahwa tim nasional Argentina saat ini tidak sempurna.
"Saat Messi sudah berhasil mengemas 1.283 gol seperti saya, saat ia sudah memenangi tiga Piala Dunia, kita akan membicarakan soal itu. Sepak bola memang telah berubah. Tetapi rekor ada untuk dipecahkan, akan sulit untuk memecahkan rekor saya. Orang-orang selalu bertanya, 'Kapan Pele baru akan lahir?' Tak akan pernah. Ayah dan Ibu saya sudah menutup pabriknya."
Saya yakin, Messi tak pernah ingin menjadi Pele. Sama seperti ia tak ingin menjadi Maradona. Ia hanya ingin menjadi pesepakbola yang senantiasa mampu bermain baik sebagai bentuk rasa syukur kepada yang Maha Kuasa karena ia telah diselamatkan oleh klub Barcelona dari penyakit kelainan hormon pertumbuhan.
Dan jika tak pernah ada kata cukup, semestinya selalu ada ucap syukur.
(Pulogadung, 21 Januari 2012. Dalam rasa syukur atas bertambahnya usia Aquilina Airlangit Savana. Selamat ulang tahun, Nak. Tuhan besertamu.)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




