Berkaca pada Bepe dan Internazionale
Johanes Indra
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Minggu, 19 Februari 2012 | 08:37 WIBKetika Inter menguasai Itali & Eropa kami tdk mendongak.. So saat Inter terpuruk kami jg tdk akan menunduk.. - @bepe20
Kecewa rasanya menerima kenyataan Internazionale kalah lagi. Javier Zanetti dan kawan-kawan tak mampu menghadang Bologna di kandang sendiri. Giuseppe Meazza bersedih. Skor 0-3 sungguh membikin perih. Jumat, 10 Februari 2012 Inter tertampar keras.
Ternyata saya tak terluka sendirian di luar lapangan. Bambang Pamungkas pun demikian. Kalau tidak membuka sebuah situs jejaring sosial untuk mengalihkan kesal, saya tidak akan tahu bahwa ikon tim nasional sepak bola Indonesia yang followers-nya telah mencapai 1,8 jutaan itu juga seorang Interisti –sebutan untuk seorang pendukung Inter.
Bepe, begitu ia biasa dipanggil, benar. Inter sedang terpuruk. Bahkan di musim ini tim yang dimiliki Massimo Moratti itu sempat dicap ambruk. Dalam arahan Gian Piero Gasperini mereka pernah berkubang di zona degradasi. Betapa tidak? Inter kalah empat kali dari lima pertandingan di awal musim ini.
Gasperini diganti Claudio Ranieri. Partai debut Seri A Ranieri bersama Inter terjadi di Bologna, 24 September 2011. Inter menang 3-1 atas Rossoblu, para pendukung pun melihatnya sebagai pertanda maju. Lalu pelan-pelan Inter merangkak naik di papan klasemen. Menantang Milan dan Juventus dalam perlombaan scudetto alias juara Seri A.
Tetapi jalan cerita tak selalu mulus. Skenario hanyalah utak-atik di atas kertas. Hari ini, Ranieri sedang bernasib sama dengan Gasperini. Dari lima pertandingan terakhir di Seri A, Inter kalah empat kali. Dan pemasti catatan itu adalah Bologna, tim yang memberi gembira bagi Ranieri di partai perdana Inter dalam besutannya.
Akhir Januari terasa berat bagi keluarga besar Inter ketika harapan telah membubung tinggi. Kemenangan 3-1 Inter atas Lazio pada 23 Januari adalah yang terakhir kali sebelum enam kegagalan beruntun. Sebab setelah itu, kekalahan Inter dari Napoli di Coppa Italia menjadi pembuka empat kekalahan dan satu hasil imbang di Seri A. Parahnya, Inter terjungkal oleh dua tim penghuni zona degradasi: Lecce dan Novara. Oh, sedihnya….
Il Capitano Javier Zanetti pun sedih. Usai pertandingan melawan Bologna ia sempatkan berbicara kepada media meskipun terasa lirih. "Malam ini, seperti beberapa pertandingan lalu, kami belum mampu memecahkan kebuntuan dan kemudian lawan justru mencetak gol melalui peluang pertama yang mereka punya. Itu membuat keadaan menjadi semakin sulit."
Lini belakang Inter memang dipaksa melongo oleh aksi Marco di Vaio. Dalam rentang satu menit striker veteran Bologna itu mencetak dua gol di babak pertama. Alih-alih membalas untuk menyamakan kedudukan, Inter malah terbenam oleh gol Robert Acquafresca menjelang laga berakhir.
Di papan klasemen sementara, Inter turun ke peringkat enam dengan mengumpulkan nilai 36. Tetapi kemungkinan besar bisa menjadi nomor delapan sebab Roma yang ada di bawahnya berpeluang menang atas Parma di Pekan 24 ini. Roma yang saat ini ada di urutan ketujuh bisa meloncat ke urutan kelima dengan nilai 38 menggeser Napoli sekaligus Inter.
Bagaimanapun performa Inter jelas merosot. Moratti jelas tak senang dengan fakta di Seri A ini. Ia pun kecewa dan marah. Lalu pergi meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai ia tonton. Padahal ia tetap setia menyertai timnya ketika dikalahkan oleh Novara.
Kepada harian Italia Corriere della Sera, Moratti berkata, "Saya memahami bahwa sepak bola tidak selamanya logis dan tidak selamanya soal strategi untuk meraih hasil yang diinginkan. Inilah saatnya kami harus lebih bersabar, untuk mengikuti sejumlah ide dan melakukan evaluasi dengan perhatian yang tepat."
Adakah kesabaran Moratti sudah habis? Di bursa pelatih ada nama Fabio Capello yang isyu kepindahannya ke Anzi Makhachkala terbantahkan setelah Guus Hiddink mengikat kontrak dengan klub kaya Rusia tersebut. Wajar saja nama Capello disebut-sebut sebab mantan pelatih timnas Inggris yang pernah juga menukangi AC Milan dan AS Roma itu sangat dekat dengan kejayaan ketika menukangi sejumlah klub.
Entahlah. Sangat sulit menebak isi hati Moratti. Akan lebih bijak menyimak apa kata Zanetti yang sangat mengerti bagaimana menghormati kesabaran dan harapan, "Tidak ada yang lebih sedih dan kecewa ketimbang kami; kami memahami kekecewaan fans tetapi kami membutuhkan mereka. Saya tahu apa yang diinginkan fans, mereka telah menyertai kami dalam masa-masa yang sulit dan saya berharap mereka melakukannya lagi saat ini."
Pendukung sejati memang tak seharusnya pergi ketika badai caci-maki datang silih berganti. Kemenangan selalu memberi kesenangan. Tetapi kesetiaan adalah nilai penting dalam kehidupan. Begitulah Bambang Pamungkas dengan apa yang ditunjukkannya pada kalimat paling atas. Bersetia dan berkomitmen sampai tuntas.
Pulogadung, 18 Februari 2012.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




