Bukan Andre, Tetapi Andrea
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 tahun menggawangi berbagai program olahraga di televisi. Sekarang bekerja sebagai Sport Executive Producer di tvOne untuk program-program pertandingan olahraga. Menulis puisi dan artikel mengenai olahraga dan sepakbola menjadi kegemaran di saat rehat kerja.
Senin, 2 April 2012 | 11:13 WIBCorso Vittorio Emanuele II di kota Milan telah masyhur sebagai pusat perbelanjaan yang harus dikunjungi wisatawan doyan belanja. Di sana ada kemewahan yang ditawarkan. Berbagai gerai pakaian merek ternama hingga sepatu kaca ada. Saat lelah dan lapar maka mereka yang berkantong tebal dipersilakan masuk ke sejumlah restoran dan bar mahal.
Dalam sejarahnya, Vittorio Emanuele II adalah nama raja pertama Kerajaan Italia. Orang Italia menyebutnya sebagai Padre della Patria atau Bapak Bangsa dalam bahasa kita. Lalu diabadikanlah namanya dengan berbagai cara termasuk melekatkannya pada sebuah kawasan mewah tempat belanja orang-orang kaya.
Corso Vittorio Emanuele II disamakan benar dengan kemewahan, kemasyhuran juga kekuasaan. Maka, tidak mengherankan jika sebuah klub kaya, ternama, dan berkuasa mengendalikan dan mengawasi kinerja pesepakbola dari sebuah kantor di kawasan ini. Nama klub itu Internazionale Milano.
Internazionale yang berdiri sejak 1908 telah menjadi salah satu klub terdepan di Italia. Bersama Juventus dan AC Milan, Internazionale berhak menghiasi kostum mereka dengan bintang emas sebagai tanda dominasi ketiganya di kompetisi Serie A.
Satu bintang setara dengan 10 gelar juara. Internazionale dan AC Milan sama-sama telah meraih 18 gelar dan dalam perburuan sengit untuk menggapai bintang emas kedua. Sementara Juventus ada di atas mereka dengan 2 bintang emas dari 27 kali juara.
Saya menjadi pendukung Internazionale ketika klub tersebut masih menyandang 13 gelar juara Seri A dan belasan tahun menyaksikan rival sekota AC Milan dan Juventus bahkan Lazio dan AS Roma bergantian menjuarai liga. Internazionale memang pernah berpuasa gelar liga dalam rentang 17 musim antara 1988-89 dan 2005-06.
"Tim-tim jagoan lu apes banget nasibnya sih. Sudah 10 tahun Inter dan Liverpool nggak juara lagi. Untungnya ketika mereka nyungsep Barcelona lagi berjaya." Kalimat itu keluar dari mulut seorang teman aktivis mahasiswa yang kebetulan menjadi pendukung AC Milan.
Saya ingat pembicaraan itu sebab kami sedang beristirahat setelah sama-sama menyelamatkan diri dari serbuan aparat dan kabut gas air mata di kawasan Kampus Universitas Atmajaya Jakarta. Waktu itu September 1999, Tragedi Semanggi II.
Sering kali sepak bola dan kehidupan memang memberi rasa getir bersamaan kendati kadarnya bisa saja berbeda. Ketika melayat ke sebuah yayasan rumah duka tempat Yap Yun Hap disemayamkan yang saya rasakan hanya kesedihan. Mahasiswa UI itu tewas ditembak aparat keamanan di depan kampus tempat saya berlindung. Saya masih sangat beruntung.
Saya pun yakin seorang Massimo Moratti tak merasakan kesedihan saya. Ia jelas bersedih karena Internazionale kembali gagal jadi juara sejak ia mengambil alih tampuk kepresidenan klub dari Ernesto Pellegrini pada 1995.
Kesedihan Moratti pun berakhir layaknya rezeki nomplok. Skandal pengaturan skor atau dikenal dengan Calciopoli yang melanda persepakbolaan Italia berlanjut ke meja hijau. Di akhir cerita, Federasi Sepakbola Italia alias FIGC memutuskan untuk memberikan gelar juara Seri A 2005-06 kepada Internazionale yang sebenarnya menempati posisi ketiga di klasemen akhir musim tersebut. Juventus yang semestinya menjadi juara justru diasingkan ke Seri B, sementara runner up AC Milan diganjar hukuman potong nilai.
Kesedihan Moratti dan Internazionale di level tertinggi antarklub Eropa juga telah berakhir setelah berpuasa selama 45 tahun! Adalah kejeniusan seorang Jose Mourinho yang menyatakannya pada musim 2009-10. Juara Liga Champions Eropa ditambah dengan gelar juara Seri A dan Coppa Italia memastikan sejarah treble.
Mourinho pergi ke Real Madrid. Rafael Benitez hanya singgah tak sampai semusim meskipun gelar juara Piala Super Italia dan Piala Dunia Antarklub FIFA hadir pada masanya. Leonardo datang untuk memanggul beban berat tetapi masih mampu memberi Piala Italia.
Musim baru, musim 2011-12. Gian Piero Gasperini didapuk menangani Internazionale pada 24 Juni 2011. Kariernya pendek. Gasperini dipecat pada 21 September 2011 setelah gagal menang dalam lima partai beruntun dan empat di antaranya adalah derita kekalahan.
Nama yang lebih berpengalaman bersedia melanjutkan ujian. Claudio Ranieri bukan nama asing tetapi performa di lapangan membuatnya terpelanting. Pelatih senior itu mendampingi Internazionale dalam 34 pertandingan tempat dalam 13 pertandingan terakhir hanya menuai dua kemenangan. Momentum pemecatannya sudah diperkirakan banyak orang, yaitu usai Internazionale disingkirkan Marseille dari Liga Champions Eropa di babak 16 besar.
Teman saya, fans berat Internazionale yang saya kenal sejak zaman kuliah berujar kesal, "Inter kalah lagi. Ranieri diganti saja dengan Rano Karno." Tentu saja curahan hati yang disampaikannya lewat twitter berakun @wendy_boer itu hanya main-main tetapi berasal dari hati yang kesalnya bukan main.
Andre Villas-Boas sudah disebut-sebut tatkala catatan buruk Internazionale bersama Ranieri memburuk. Meskipun Interista di Giuseppe Meazza sempat mengelu-elukan Jose Mourinho secara telak di telinga Ranieri tetapi nama pelatih yang lebih muda asal Portugal santer disebut.
Bahkan ketika AVB, begitu namanya biasa disingkat, positif diberhentikan oleh Chelsea banyak yang memperkirakan kerjasamanya bersama Internazionale hanya tinggal masalah formalitas saja.
Andre tak datang. Andrea-lah yang dipandang. Stramaccioni nama belakangnya, tentu belum akrab di telinga kita. Ia masih muda, 36 tahun usianya tetapi baru saja membawa tim Primavera Internazionale menjadi juara di NextGen Series 2011-12, sebuah turnamen bagi pemain-pemain muda serupa Liga Champions di level senior.
Bagaimana suara khalayak? Jajak pendapat La Gazzetta dello Sport menyatakan 41.9 persen pembaca ingin Andrea Stramaccioni melatih Inter di musim depan, Villas-Boas 12.8 persen, Bielsa 12.4 persen. Padahal, belum satu pertandingan pun ia arahkan. Inilah bentuk lain dari harapan.
Ditemani gadis kecilku yang lucu. Semarang, 31 Maret 2012.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




