Hermawan Kertajaya dan Cahaya yang Tak Pernah Padam

Rio Abdurachman
Rio Abdurachman

Direktur Utama B-Universe

Jumat, 29 Agustus 2025 | 10:04 WIB

DATANG ke kantor Markplus Inc di lantai delapan EightyEight Building, langkah saya seolah memasuki sebuah pintu waktu. Ruangan demi ruangan bukan lagi hanya dinding dan meja kerja, melainkan lorong kenangan yang menggiring saya kembali ke tahun 1997. Saat itu, saya belum mengenalnya secara pribadi, hanya bertemu lewat buku Positioning, Differentiation, Brand. Lembaran-lembaran kata yang sederhana tetapi berdaya, seakan menyalakan pelita di hati seorang anak muda penjaja koran yang sedang mencari arah hidup.

Pada 2000, di sebuah seminar bertajuk “Event is Part of Marketing” di News Café Kemang, saya akhirnya bertatap muka langsung dengan Pak Hermawan Kertajaya “HK”. Uang participant fee Rp 750.000 yang saya kumpulkan selama 3 bulan menahan jajan terasa tak ada artinya dibandingkan pencerahan yang saya bawa pulang. Kata-kata Pak HK menusuk, tetapi bukan untuk melukai, melainkan membangunkan mimpi yang diam-diam ingin saya peluk sejak lama: menjadikan dunia event sebagai pembuka jalan pengabdian.
 

Herman Kertajaya - (Beritasatu.com/-)
Kantor Markplus Inc di lantai delapan EightyEight Building.

Hari ini, ketika lift terbuka, saya melangkah masuk ke Philip Kotler Room. Ingatan pun berlari ke tahun 2014–2015, kala saya kembali belajar dari Pak HK di Gedung 88, bahkan lebih jauh sebelum Markplus berpindah rumah ke sini. Saat Markplus masih berkantor di kawasan kuningan, di sana setiap kursi, setiap sudut, seakan berbisik tentang perjalanan panjang seorang guru yang tak pernah letih menebarkan ilmu.

Memasuki Museum Marketing yang baru dipindahkan dari Ubud, Bali, saya disambut karya Nasirun, lukisan yang seolah membuka gerbang imajinasi. Di sampingnya, terpajang foto lama Pak HK berdampingan dengan Philip Kotler, wajah mereka masih menyimpan cahaya muda, mata yang menyala penuh keyakinan bahwa marketing bukan sekadar strategi, melainkan filosofi tentang manusia, budaya, dan peradaban. 
 

Hermawan Kertajaya - (Beritasatu.com/-)
Kantor Markplus Inc di lantai delapan EightyEight Building.

Saya melangkah ke ruang Key Element of Marketing 4C, 5D, PDB, juga 9 Core Element yang sangat sederhana tetapi fundamental bagi dunia marketing, tentang mind share, market share, dan heart share.

Di tengah museum, saya duduk sejenak. Lampu video mapping menari di dinding, menuturkan kisah panjang perjalanan marketing, dari masa purba hingga era digital. Rasanya seperti menonton sejarah bangsa sendiri yang ditenun dengan benang warna-warni ide. Setiap kilatan cahaya adalah pengingat: bahwa ilmu, jika ditanam dengan ikhlas, akan berbuah lintas generasi.
 

Hermawan Kertajaya - (Beritasatu.com/-)
Kantor Markplus Inc di lantai delapan EightyEight Building.

Langkah saya kemudian sampai pada ruangan khusus Markplus dan HK. Di dalamnya tetaplah menunjukkan desain ruang belajar dengan sebuah amphi theater yang memiliki latar belakang milestone perjalanan Markplus sejak 1990.

Di ruangan itu juga, saya membaca sebuah kisah yang membuat dada terasa sesak tentang cita-cita Pak HK yang ingin tetap menjadi guru, bahkan setelah hidupnya usai. Ia telah menyiapkan dirinya untuk menjadi cadaver, tubuh yang akan dipersembahkan bagi ilmu pengetahuan. Ia bahkan merancang sendiri sebuah baju khusus, hanya untuk dua momen sakral: saat ia menetapkan diri sebagai cadaver, dan saat kelak Tuhan menjemputnya sebagai timeless teacher, guru abadi, bagi bangsa dan bagi umat manusia.
 

Hermawan Kertajaya - (Beritasatu.com/-)
Kantor Markplus Inc di lantai delapan EightyEight Building.

Saya termenung lama di ruangan itu. Ada rasa haru dan kagum. Pada akhirnya, Pak Hermawan Kertajaya bukan hanya seorang tokoh marketing, bukan hanya pendiri Markplus, tetapi peletak fondasi sebuah ilmu yang hidup dalam denyut bangsa ini. Perjalanannya adalah bukti bahwa seorang guru sejati tak pernah berhenti mengajar

Hermawan Kertajaya adalah langkah yang menjelma jalan, adalah pikiran yang menjelma cahaya. Dari buku tipis yang saya baca pada 1997 hingga amphi theater di lantai delapan hari ini, beliau tetap sama: seorang guru yang setia. Bahkan ketika waktu kelak memanggil, ia telah menyiapkan dirinya untuk tetap hadir, sebagai jasad yang dipersembahkan untuk pembelajaran, sebagai jiwa yang mengajarkan. Maka layaklah kita menyebutnya: Timeless Teacher, Guru Abadi dari Nusantara.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon