Cerita dari Secangkir Kopi D'Shafa: Bagaimana Pemberdayaan Seorang Ibu Menggerakkan Roda Raksasa Industri
Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember
Selasa, 7 Oktober 2025 | 12:31 WIBAroma kopi yang baru diseduh menguar tipis di antara rimbunnya daun mint dan hijaunya selada hidroponik. Di sebuah sudut padat di Duren Sawit, Jakarta Timur, secangkir kopi bukan sekadar minuman pagi, melainkan sebuah ritual yang menandai dimulainya harapan. Di sinilah, di tengah lahan urban yang terbatas, Haryati dan para perempuan tangguh dari Kelompok Wanita Tani (KWT) D'Shafa merawat mimpi mereka, helai demi helai, tetes demi tetes. Kisah mereka adalah bukti bahwa kiprah membangun negeri tidak selalu berwujud beton dan baja yang menjulang ke angkasa, tetapi bisa berawal dari kehangatan secangkir kopi dan kegigihan seorang ibu.
Awalnya, KWT D'Shafa adalah sebuah forum sederhana bagi para perempuan untuk menyalurkan semangat mereka dalam pertanian urban. Dengan lahan seadanya, mereka menanam sayuran, mengolah hasil panen menjadi penganan kecil, dan menjalankan usaha katering. Semangat mereka menyala terang, namun jalan di depan mereka terjal. Pengetahuan manajemen bisnis yang terbatas, pencatatan hasil panen dan penjualan yang masih manual, serta strategi pemasaran yang belum terasah menjadi tantangan nyata.
Omzet bulanan mereka, meski berharga, masih jauh dari cukup untuk disebut sebagai penopang ekonomi keluarga yang kokoh. Mereka memiliki produk, mereka memiliki kemauan, tetapi mereka belum memiliki jembatan untuk menyeberang ke pasar yang lebih luas. Di sinilah takdir mempertemukan semangat akar rumput dengan visi sebuah raksasa industri.
Pertemuan itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari sebuah filosofi bisnis yang lebih dalam. PT United Tractors Tbk (UT), sebuah nama yang identik dengan deru mesin-mesin konstruksi dan skala operasi triliunan rupiah, melihat sesuatu yang berharga di dalam komunitas kecil ini. Melalui pilar tanggung jawab sosialnya di bidang pemberdayaan ekonomi, United Tractors for Generating Opportunities and Wealth (UTGROWTH), perusahaan ini tidak datang sebagai pemberi donasi sesaat, melainkan sebagai mitra strategis.
Lewat program yang dirancang khusus seperti United Tractors for Business Assistant (UT BUAS), UT menyentuh langsung jantung permasalahan yang dihadapi KWT D'Shafa.
“Dulu, kami semangat menanam, tapi bingung bagaimana menjualnya. Semuanya dicatat di buku biasa, kadang lupa, kadang hilang,” kenang Haryati, Ketua KWT D’Shafa.
“Pendampingan dari UT seperti membuka pintu yang selama ini tertutup. Kami tidak hanya diajari cara berbisnis, tapi juga diberi kepercayaan bahwa kami, para ibu di sini, bisa mandiri,” lanjutnya.
Pelatihan manajemen, bantuan dalam membangun sistem pencatatan digital, hingga lokakarya tentang komunikasi pemasaran yang efektif menjadi menu utama. Para perempuan D'Shafa tidak lagi hanya belajar tentang nutrisi tanaman, tetapi juga tentang margin keuntungan, segmentasi pasar, dan kekuatan sebuah jenama. Ini adalah proses transformasi dari sekadar kelompok tani menjadi sebuah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berdaya saing. Pemberdayaan ini adalah tentang memberikan kail, bukan ikan; tentang menyalakan api, bukan sekadar memberi kehangatan.
Lantas, mengapa sebuah perusahaan dengan lima pilar bisnis raksasa Mesin Konstruksi, Kontraktor Penambangan, Pertambangan, Industri Konstruksi, dan Energi menaruh perhatian begitu besar pada secangkir kopi dan sekelompok ibu di Duren Sawit? Jawabannya terletak pada sebuah paradigma baru tentang makna pertumbuhan. Bagi UT, roda industri yang sesungguhnya tidak hanya digerakkan oleh mesin diesel dan batu bara, tetapi oleh stabilitas dan kesejahteraan masyarakat di mana mereka beroperasi. Inilah esensi dari komitmen perusahaan terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan Aspirasi Keberlanjutan 2030.
Kisah KWT D'Shafa adalah manifestasi nyata dari pilar sosial dalam kerangka ESG tersebut. Dengan memberdayakan perempuan, UT secara langsung berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 5 (Kesetaraan Gender) dan SDG 10 (Mengurangi Kesenjangan). Ini adalah sebuah investasi jangka panjang. Ketika seorang ibu berdaya secara ekonomi, ia tidak hanya mengangkat dirinya sendiri, tetapi juga meningkatkan kualitas gizi, pendidikan, dan kesehatan keluarganya. Komunitas menjadi lebih tangguh, menciptakan lingkungan sosial yang stabil yang pada akhirnya juga bermanfaat bagi iklim usaha. Roda raksasa industri memerlukan fondasi yang kokoh untuk berputar, dan fondasi itu adalah masyarakat yang sejahtera.
Lima Pilar CSR United Tractors dan Relevansinya dalam Pembangunan Nasional

Dampak dari filosofi ini terukur dan nyata. Program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan UT telah menjangkau ratusan ribu orang di seluruh Indonesia, menciptakan efek domino yang positif. Kisah KWT D'Shafa bukanlah anomali, melainkan sebuah potret representatif dari sebuah strategi besar. Di lereng Gunung Arjuno, program Kampung UniTy mengubah potensi ekowisata menjadi sumber ekonomi baru bagi warga. Di Batu, Jawa Timur, pembangunan Kandang Komunal Peternakan Domba membantu masyarakat mengoptimalkan lahan yang tidak terpakai menjadi aset produktif. Setiap program ini, sekecil apa pun skalanya, adalah sebuah benang yang dirajut menjadi kain besar pembangunan nasional. Ini adalah perwujudan dari "kiprah membangun negeri" yang sesungguhnya, yang diukur bukan hanya dari laba perusahaan, tetapi dari jumlah kehidupan yang berhasil diangkat.
Grafik ini adalah representasi visual dari peningkatan kumulatif jumlah penerima manfaat program komunitas UT, menunjukkan komitmen jangka panjang dan dampak yang terus berkembang dari tahun ke tahun.
Pertumbuhan Kumulatif Penerima Manfaat Program Pengembangan Masyarakat Grup UT (2021-2024)

Namun, narasi ini tidak berhenti pada angka-angka penerima manfaat semata. Ia berkelindan dengan sebuah transformasi fundamental yang sedang terjadi di jantung United Tractors. Di tengah dinamika global yang menuntut transisi energi, UT secara sadar dan strategis melakukan diversifikasi bisnis besar-besaran, bergeser dari ketergantungan pada batu bara menuju pilar-pilar baru yang lebih berkelanjutan: mineral strategis seperti nikel dan emas, serta energi baru terbarukan (EBT) melalui investasi signifikan di Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM). Di sinilah letak relevansi mendalam dari kisah KWT D'Shafa.
Pemberdayaan komunitas bukanlah sekadar filantropi yang terpisah dari strategi bisnis inti, melainkan bagian integral dari manajemen risiko dan penciptaan nilai jangka panjang. Investasi miliaran dolar di sektor energi hijau dan hilirisasi mineral membutuhkan "izin sosial" untuk beroperasi (social license to operate) yang tidak bisa dibeli, melainkan harus dibangun melalui kepercayaan. Dengan menabur benih-benih kemandirian ekonomi di tingkat akar rumput, UT sedang membangun modal sosial yang kuat. Mereka sedang menyiapkan landasan yang subur bagi pilar-pilar bisnis masa depannya, memastikan bahwa transisi energi dan diversifikasi mineral yang mereka lakukan dapat tumbuh di atas fondasi masyarakat yang tangguh, percaya, dan merasakan langsung manfaat dari kehadiran perusahaan.
Pada akhirnya, cerita ini kembali pada secangkir kopi di tangan Haryati. Kopi itu kini terasa berbeda. Ada rasa percaya diri dalam setiap tegukannya, ada aroma kemandirian yang lebih pekat. Kisah KWT D'Shafa mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga: bahwa di dalam sebuah entitas korporat raksasa, bisa bersemayam sebuah "hati" yang peduli. Ia menunjukkan bahwa pemberdayaan seorang ibu di gang sempit perkotaan, pada hakikatnya, adalah tindakan mengencangkan salah satu mur paling fundamental di roda raksasa industri. Karena ketika ibu itu berdaya, keluarganya sejahtera, komunitasnya kuat, dan barulah roda itu bisa berputar kencang, stabil, dan berkelanjutan untuk benar-benar membangun negeri. Bukan hanya membangun gedung, tetapi membangun kehidupan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Trump Larang Pungutan di Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Cuaca Jakarta Hari Ini Minggu 21 Juni: Hujan Ringan pada Malam Hari




