Test Drive: Mobilio CVT

Senin, 10 Februari 2014 | 10:15 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
(beritasatu.com)

Di pertengahan jalan, kami diberitahu bahwa perjalanan menuju puncak Kaliurang dibatalkan karena waktu sudah mepet akibat molornya kegiatan sebelumnya ketika di hotel, dan sudah ada rangkian acara terjadwal di Prambanan, Klaten.

Maka konvoi langsung mengubah rute menempuh jalan pintas pedesaan menuju kecamatan Prambanan, Klaten. Sebelum itu dilakukan pergantian mobil dan kami mendapat yang bertransmisi otomatis, teknologi Continuous Variable Transmission (CVT) milik Honda yang juga terdapat di model-model mewahnya.

CVT ini merupakan salah satu keunggulan Honda yang memungkinkan perpindahan gigi seamless atau nyaris tanpa jeda. Saya sudah merasakannya di model-model Honda yang lain, dan menemukan kinerja yang sama di Mobilio. Bedanya tentu pada tuas yang tidak seanggun milik Odyssey, tapi itu tidak terlalu penting.

Mobil CVT dan Prestige yang dipakai rombongan semua dilengkapi teknologi anti-lock braking system (ABS) dan electronic brake-force distribution (EBD). Percayalah, ketika anda melaju di jalan menurun penuh kelokan, dalam guyuran hujan, diburu waktu dan berada di tengah konvoi, teknologi pengereman ini sangat membantu.

Tak sampai satu jam kami telah memasuki area cagar budaya Candi Prambanan, dan di sana sudah menunggu Presiden Direktur Tomoki Uchida dan Direktur Marketing dan Layanan Purna Jual Jonfis Fandy.

Kesan yang saya dapat, Uchida tampak lebih bersemangat dan bangga dibandingkan pertemuan terakhir ketika dia meluncurkan MPV premium Odyssey bulan sebelumnya.

Ketika ditemui, Uchida bercerita bahwa saat dia datang ke Indonesia dua tahun lalu, hal pertama yang dia lakukan adalah menggerakkan survei konsumen dan kondisi jalan di berbagai kota di sini, sebelum memutuskan membuat model baru.

Ada dua hal penting yang dia temukan. Pertama, "80% mobil yang dijual di Indonesia adalah jenis MPV, sehingga kalau kami ingin menjadi pemain besar di sini, maka harus serius terjun di segmen tersebut."

Kedua, tidak terlalu mengejutkan, "kalau kami terus membuat mobil di atas Rp 200 juta, pangsa pasar kami akan tetap kecil."

Dikombinasikan dengan temuan survei tentang keinginan konsumen, kondisi jalan, luas rata-rata garasi di keluarga Indonesia, maka lahirlah Mobilio, mobil yang dirancang di dan untuk Indonesia.

"Ketika saya kembali ke Jepang, saya katakan ‘kita harus membuat mobil ini’," rangkumnya.

Terpisah, Jonfis menambahkan bahwa justru di segmen pasar yang gemuk ini, Honda bisa dibilang sebagai pemain baru.

"Brand Honda sudah sangat kuat untuk mobil di atas Rp200 juta, maka kami masuk ke pasar low MPV ini dengan kualitas dan fitur ala Honda," kata Jofis.

Dia juga menjanjikan tidak ada perbedaan perlakuan layanan untuk Mobilio, yang akan dipajang di showroom yang sama dengan CR-V dan Odyssey.

Kesempatan mengajak Mobilio berpacu datang pagi harinya, ketika kami menuju Candi Borobudur di Magelang lewat jalan provinsi yang lebar dan lebih sepi.

Kali ini kami menggunakan tipe Prestige, yang dibedakan dengan monitor layar sentuh di head unit, rear camera, dan panel krom pada bodi. Transmisi CVT bisa diandalkan untuk tipe mengendara stop-and-go, berakselerasi hingga 100 km/jam , melambat tiba-tiba, dan mendapat traksi segera setelah lepas tikungan.

Mereka yang familiar dengan hatchback Jazz tak perlu banyak penyesuaian lagi di Mobilio, bedanya hanya tidak ada paddle shifters di balik roda kemudi.

Di sini bodi sedan Mobilio benar-benar menjadi kelebihan dibandingkan MPV lainnya kecuali Nissan Livina, karena menjaga kestabilan di tikungan dan lincah menyalip dengan moncong yang rendah untuk mengiris angin. Hanya harus diingat, bodinya jauh lebih panjang dari Jazz atau Freed.

Dan teknologi rem ABS serta EBD memberi sensasi mobil sport yang menambah rasa percaya diri untuk menginjak gas lebih dalam.

Honda menaruh teknologi drive-by-wire di Mobilio yang mengatur buka tutup katup gas secara elektronik demi kinerja mesin maksimal sekaligus efisiensi bahan bakar optimal. Teknologi yang sering membuat saya berpikir apa harga mobil ini tidak terlalu murah.

Di samping jalan yang relatif sepi, cuaca cerah dan terik dalam perjalanan ke Borobudur sehingga rombongan bisa lebih longgar dalam konvoi karena tampaknya semua ingin mengetes akselerasi Mobilio.

Teknologi green glass yang menyerap ultra violet sangat membantu, karena suhu dalam kabin terus sejuk meskipun setelan kipas AC dipasang ke angka terendah 1. Green glass ini sama seperti yang digunakan Odyssey.

Lampu belakang LED sangat terlihat meski matahari bersinar menyilaukan, sehingga masing-masing mobil bisa menjaga jarak dengan yang di depannya.

Roda kemudi yang sangat sensitif di kecepatan rendah tiba-tiba terasa lebih berat dan mantap seiring meningkatnya kecepatan di atas 70 km/jam, karena Honda juga menempatkan teknologi electronic power steering. Jadi ketika berakselerasi, kami bisa yakin semua dalam kendali.

Ban 15 inci sangat pas untuk Mobilio yang memiliki ground clearance di atas sedan. Kalau Honda mengatakan memilih Yogyakarta dan Jawa Tengah agar Mobilio bisa diuji bukan di infrastruktur kelas satu seperti Jakarta, mereka tak sepenuhnya benar.

Jalanan antar provinsi dan kecamatan di kabupaten Magelang lebih mulus dari hampir seluruh jalanan di Jakarta yang pernah saya lewati, kecuali tentu Sudirman-Thamrin dan tol. Mungkin kalau tes ini dilakukan di Jakarta, konvoi 20+ mobil kami tak akan bisa mencapai 80 km/jam.

| 1 | 2 | 3 | 4 |

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Bisnis EV Rugi Besar, Honda Fokus Perluas Pasar Motor di India

Bisnis EV Rugi Besar, Honda Fokus Perluas Pasar Motor di India

OTOTEKNO
Honda SH Vetro Blue, Saat Desain Italia Bertemu DNA Jepang

Honda SH Vetro Blue, Saat Desain Italia Bertemu DNA Jepang

OTOTEKNO
Honda Batalkan Pabrik Mobil Listrik di Kanada, Proyek Rp 170 T Kandas?

Honda Batalkan Pabrik Mobil Listrik di Kanada, Proyek Rp 170 T Kandas?

OTOTEKNO
Honda Rugi Rp 252 T, Proyek Mobil Listrik Massal Resmi Dibatalkan!

Honda Rugi Rp 252 T, Proyek Mobil Listrik Massal Resmi Dibatalkan!

OTOTEKNO
Hybrid Rasa Manual! Honda Civic RS e:HEV Punya Teknologi Oper Gigi

Hybrid Rasa Manual! Honda Civic RS e:HEV Punya Teknologi Oper Gigi

OTOTEKNO
Bedah Keunggulan Honda Giorno, Skutik Retro Paling Irit

Bedah Keunggulan Honda Giorno, Skutik Retro Paling Irit

OTOTEKNO

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon