Indonesia Bisa Langsung Lompat ke Mobil Listrik
Jumat, 27 Oktober 2017 | 13:20 WIB
Tokyo - Indonesia bisa langsung masuk fase mobil listrik (electronic vehicle/EV) tanpa harus melewati fase mobil hibrida (hybrid vehicle/HV), plug-in HV (PHV). Ada empat pilar untuk merealisasikan hal ini.
Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Warih Andang Tjahjono menyatakan, pilar pertama adalah penciptaan pasar. Para pemangku kepentingan, antara lain industri dan pemerintah harus mengedukasi masyarakat agar mau menggunakan EV.
Setelah itu, pilar kedua adalah regulasi pemerintah yang mendukung EV. Ketiga, diler harus berani memberikan garansi jika mobil listrik rusak. Terakhir, industri harus siap memproduksi mobil listrik.
"Empat pilar ini harus berjalan pararel. Faktor pertama sangat penting, karena konsumen harus senang dulu ke EV. Setelah itu, barulah pasar EV terbentuk," ujar dia di Tokyo, Kamis malam (27/10).
Dia menambahkan, volume penjualan tinggi akan membuat industri mencapai skala ekonomi. Dengan demikian, harga EV bisa kompetitif.
Dia menerangkan, penciptaan pasar bisa dilakukan dengan mendirikan kota edukasi, seperti yang dilakukan Jepang. Konkretnya, bisa saja kendaraan yang beroperasi di Bandara Soekarno Hatta harus EV. Hal ini akan membuat banyak orang merasakan sensasi EV.
"'Setelah itu akan muncul opini mobil listrik itu menarik, senyap, sehingga muncul opini publik positif. Ini akan merangsang orang membeli EV," papar dia.
Selanjutnya, dia menegaskan, pemerintah perlu merilis insentif agar harga EV terjangkau. Cara ini dilakukan Jepang yang awalnya memberikan diskon mobil hibrida (hybrid vehicle/HV), sedangkan Amerika Serikat (AS) mendiskon mobil hidrogen. Dia tak keberatan jika awalnya keran impor EV dibuka untuk merangsang pasar. Dari sisi industri, dia menilai, teknologi EV sudah ada, sehingga bisa diproduksi.
"Yang penting skala ekonomi tercapai. Memang ada banyak perubahan komponen dan pemasok, terutama dari aspek power train. Ini butuh waktu," ujar dia.
Dia menilai, tantangan terbesar industri dalam memproduksi EV adalah baterai. Ideanya, waktu pengisian (charging time) hanya 10 menit dan jarak tempuh 500 kilometer (km). Setelah sukses memproduksi EV, dia menyatakan, fase berikutnya adalah memproduksi mobil hidrogen (fuel cell vehicle/FCV). Toyota sudah memiliki FCV antara lain Mirai.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




