Adopsi Transportasi Publik Berbasis Listrik Tidak Mudah, Ini Tantangannya
Rabu, 14 Juni 2023 | 22:29 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - CEO dan pendiri PT Chakra Giri Energi Indonesia, Herman Huang membeberkan salah satu tantangan besar dalam upaya mengadopsi kendaraan listrik pada transportasi publik.
Menurutnya, yang menjadi tantangan adalah masih mahalnya biaya pembelian moda transportasi berbasis listrik, khususnya bus. Sehingga apabila ingin mengadopsi bus berbasis listrik, perusahaan otobus harus mengeluarkan biaya lebih besar.
"Perbandingan harga bus listrik itu cenderung lebih mahal dibanding bus diesel, ini merupakan satu tantangan juga," ujar Herman dikutip Antara, Rabu (14/6/2023).
Herman memaparkan, harga bus listrik berkisar Rp 5 miliar, sedangkan harga bus berbahan bakar diesel hanya sekitar Rp 2 miliar. Menurut dia, tingginya harga bus listrik tersebut disebabkannya masih mahalnya komponen-komponen yang digunakan, terutama baterai.
"Mahalnya harga bus listrik cukup memberatkan perusahaan otobus, mengingat banyak di antara mereka yang memiliki kemampuan keuangan terbatas," ujarnya.
Karenanya, menurut Herman perlu ada mekanisme khusus yang diterapkan untuk membantu perusahaan otobus dalam mengadopsi kendaraan listrik. Karena meski memiliki harga yang mahal, pembelian bus listrik sebetulnya menghadirkan sejumlah keuntungan, termasuk biaya operasional yang lebih murah dibanding bus berbahan bakar konvensional.
Dalam data yang disajikannya, perkiraan biaya operasional yang harus dikeluarkan untuk bus listrik per 10 tahun (200 km/hari) adalah sekitar Rp 2,3 miliar, sedangkan bus berbahan bakar diesel bisa mencapai Rp 4,6 miliar.
"Jadi memang secara operational cost itu ada saving, dan juga dapat membantu menurunkan emisi," kata Herman.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




