ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Lebih dari 100 Gunung Berapi Tersembunyi di Antartika Berpotensi Meletus

Kamis, 9 Januari 2025 | 10:25 WIB
H
H
Penulis: Herman | Editor: HE
Ilustrasi lapiran es Antartika
Ilustrasi lapiran es Antartika (Gizmochina/James Eades)

Jakarta, Beritasatu.com - Antartika, benua es yang luasnya setara gabungan Amerika Serikat dan Meksiko, tak hanya dikenal dengan hamparan putih yang membentang. Penelitian terbaru mengungkap potensi gunung berapi meletus yang dapat terjadi seiring mencairnya lapisan es akibat perubahan iklim.

Dilansir dari Metro.co.uk, Kamis (9/1/2025), terdapat sekitar 100 gunung berapi di Antartika yang tersembunyi di bawah lapisan es setebal beberapa kilometer. Sebagian kecil puncaknya terlihat di sepanjang pantai barat. Namun, pemanasan global mempercepat pencairan es ini, membuka jalan bagi kemungkinan letusan gunung berapi.

Peneliti dari Universitas Brown, Rhode Island, menggunakan 4.000 simulasi komputer untuk mempelajari dampak hilangnya lapisan es terhadap ruang magma di bawah Antartika. Lapisan es yang beratnya mencapai 24.380.000 gigaton ini menekan magma di bawahnya, menjaga kestabilan sistem vulkanik.

ADVERTISEMENT

Namun, saat es mencair, tekanan tersebut berkurang, memungkinkan magma mengembang. Hal ini dapat meningkatkan tekanan di ruang magma, memicu letusan gunung berapi. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal "Geochemistry, Geophysics, Geosystems" ini juga menemukan bahwa hilangnya es mempercepat pembentukan gelembung gas, seperti air terlarut dan karbon dioksida, yang semakin meningkatkan risiko letusan.

Dari sedikitnya 138 gunung berapi di Antartika, mayoritas berada di bawah lapisan es, sehingga tak terlihat dari permukaan. Letusan gunung berapi di Antartika dapat mencairkan lebih banyak es di sekitarnya.

Ancaman Global
Antartika menyimpan hingga 90% total air tawar dunia, tetapi pencairan lapisan es di sana semakin cepat. Menurut NASA, benua ini kehilangan tiga triliun ton es antara 1992 dan 2017. Apabila seluruh es mencair, permukaan air laut global diperkirakan naik sekitar 200 kaki, setara dengan tinggi Menara Eiffel.

Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang interaksi perubahan iklim dengan sistem vulkanik. Profesor Ilan Kelman dari University College London menekankan pentingnya memahami hubungan ini untuk mengantisipasi potensi bencana di masa depan, termasuk letusan gunung api di Antartika.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon