Riset DNA Guncang Teori Lama: Leluhur Amerika Datang dari Tiongkok
Senin, 27 Oktober 2025 | 11:00 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Penelitian terbaru mengenai DNA mitokondria manusia purba mengguncang teori lama tentang asal-usul leluhur Amerika. Studi berskala besar ini menemukan bahwa penduduk asli Amerika ternyata memiliki hubungan genetik yang kuat dengan manusia purba dari pantai utara Tiongkok dan Jepang, bukan semata-mata berasal dari Siberia seperti teori yang selama ini diajarkan dalam buku-buku sejarah.
Tim peneliti internasional menelusuri garis keturunan langka leluhur Amerika melalui DNA mitokondria, yakni DNA yang diwariskan dari garis ibu. Mereka menganalisis lebih dari 100.000 sampel DNA manusia modern dan 15.000 sampel DNA kuno, dan berhasil mengidentifikasi 216 individu masa kini serta 39 individu kuno yang berbagi garis keturunan yang sama.
Jalur migrasi purba ini kemudian dipetakan dengan teknologi penanggalan karbon dan analisis mutasi genetik dari waktu ke waktu. Hasilnya justru sangat mengejutkan terutama bagi masyarakat asli Amerika.
“Asal-usul Asia dari penduduk asli Amerika ternyata jauh lebih kompleks dari perkiraan sebelumnya. Selain sumber leluhur dari Siberia, Australo-Melanesia, dan Asia Tenggara, kami menemukan bahwa pantai utara Tiongkok juga berkontribusi terhadap kumpulan gen penduduk asli Amerika," ,” ujar Yu-Chun Li, ahli antropologi molekuler dari Chinese Academy of Sciences dikutip IFL Science, Senin (27/10/2025).
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya dua gelombang migrasi manusia purba yang menjadi cikal bakal leluhur Amerika. Gelombang pertama terjadi sekitar 19.500-26.000 tahun lalu, ketika Zaman Es mencapai puncaknya dan kondisi ekstrem di pantai utara Tiongkok memaksa manusia untuk berpindah tempat tinggal.
Gelombang kedua berlangsung antara 19.000-11.500 tahun lalu, ketika suhu mulai menghangat, es mencair, dan manusia mulai menjelajahi wilayah baru. Menariknya, penelitian ini menantang teori lama yang menyebut bahwa manusia pertama di Amerika menyeberang melalui Jembatan Darat Bering yang dahulu menghubungkan Siberia dan Alaska. Sebaliknya, para peneliti meyakini bahwa migrasi dilakukan melalui jalur pesisir Samudra Pasifik, mengikuti pantai dari Asia Timur hingga ke pantai barat laut Amerika Utara.
Dugaan ini diperkuat oleh temuan arkeologi yang menunjukkan kesamaan bentuk alat berburu dan perkakas batu antara manusia purba di Asia Timur dan Amerika Utara. Berdasarkan analisis pola migrasi serta kemiripan alat seperti panah dan tombak, peneliti menyimpulkan bahwa manusia Paleolitik dari Tiongkok dan Jepang kemungkinan besar menempuh perjalanan laut pesisir menuju Benua Amerika.
Karena kesamaan tersebut, sempat muncul teori bahwa penduduk asli Amerika adalah keturunan langsung bangsa Jōmon dari Jepang. Namun, riset genetika terbaru membantah hal itu.
“Peneliti menjelaskan bahwa kemiripan budaya dan teknologi antara masyarakat purba di Jepang, Tiongkok, dan Amerika lebih mungkin disebabkan oleh garis keturunan leluhur yang sama, bukan hubungan langsung sebagai keturunan,” sebut IFL Science.
Dalam laporan ilmiah mereka, tim peneliti menulis bahwa pada akhir periode Pleistosen, bilah-bilah mikro dari Jepang menunjukkan kemiripan mencolok dengan alat-alat di Asia Timur Laut, termasuk di Tiongkok Utara. Misalnya, alat-alat berbentuk tangkai (‘stemmed points’) ditemukan luas di sepanjang pesisir Samudra Pasifik, dari Jepang hingga Amerika Selatan, dengan kesamaan desain yang menakjubkan.”
Penelitian ini juga menemukan bahwa populasi manusia purba dari pantai utara Tiongkok kemungkinan besar bermigrasi ke Jepang, memberikan kontribusi genetik bagi penduduk asli Jepang, terutama suku Ainu di Hokkaido.
“Kami terkejut menemukan bahwa sumber leluhur ini juga berperan penting dalam membentuk genetik masyarakat Jepang, khususnya Ainu. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara Amerika, Tiongkok, dan Jepang pada masa Pleistosen tidak hanya terbatas pada pertukaran budaya, tetapi juga pada garis keturunan genetika yang nyata," analisa Yu-Chun Li. “
Hasil riset ini mengubah pemahaman dunia ilmiah tentang siapa sebenarnya leluhur Amerika. Jika sebelumnya teori dominan menyebut mereka datang dari Siberia melalui jalur darat, kini bukti DNA menunjukkan kemungkinan besar bahwa sebagian besar nenek moyang mereka justru berasal dari pantai utara Tiongkok dan wilayah pesisir Asia Timur.
Dengan demikian, leluhur Amerika mungkin bukan sekadar penjelajah darat dari Asia Utara, melainkan juga pelaut tangguh yang menempuh jalur laut pesisir Pasifik, membawa budaya, teknologi, dan genetik yang kelak membentuk wajah baru peradaban di benua Amerika.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




